
Sebelum aku sempat bereaksi, lututnya sudah menghantam ke wajahku.
Dia tidak pandai bertarung, tapi dia bisa mencontohi gerakanku.
Dia hanya ingin memukulku sampai mati. Jadi dia tidak peduli apakah gerakannya akurat atau tidak.
Aku mencoba untuk menangkisnya dengan kedua tanganku, tapi aku tidak sempat menangkis serangannya yang tiba-tiba. Lututnya menghantam wajahku dengan kuat dan membuatku berguling dua kali di lantai.
Kepalaku pusing sekali …
Aku berusaha bangun. Dia duduk di tempat dan tidak mengejarku. Napasnya terengah-engah.
Aku tahu sekarang badannya sedang lemah.
Walau aku tidak memutar badan atau menggerakkan kepalaku, segala sesuatu di sekitar dalam pandanganku berputar seperti sedang menaiki kuda putar.
Dengan terhuyung aku berjalan menghampiri Misel. Langkahku bahkan tidak stabil. Akhirnya aku bersandar pada Misel dan melepaskan tali pengikatnya dalam keletihan.
Setelah tali pengikatnya dilepaskan, Misel mencabut kain penyumbat mulutnya. Dia menangis sambil memanggik, “Kakak Ipar!”
Tiba-tiba muncul suara Yudha dari ponsel di lantai, “Saleh? Kenapa kamu bisa ada di sana?”
Misel menangis histeris karena sangat ketakutan. Dia mengulurkan dua tangan dan ingin memelukku. Namun, aku menahan wajahnya dengan satu tangan dan mendorongnya ke samping. Aku berkata sambil terengah-engah, “Minggir, pertarungannya belum selesai.”
Dia tidak berani menggangguku dan bergegas bersembunyi di samping. Aku meregangkan leher dan akhirnya merasa badanku lebih bugar. Lalu aku berlari menuju Philip.
Dia masih duduk di sana. Dia belum sepenuhnya pulih dari seranganku tadi, tapi dia tetap mengulurkan kedua tangannya untuk menyongsong seranganku.
Aku melontarkan tendangan samping ke dadanya.
Dia memeluk kakiku dengan kuat. Dapat dilihat dari hal ini bahwa dia tidak pandai bertarung.
Aku memutar pinggang dan berputar setengah lingkaran di tengah udara, lalu menendang kepalanya dengan kuat.
Aku jatuh di lantai. Dia juga terjatuh di lantai lagi. Dia bangun sambil terhuyung dan sekali lagi menerjang ke arahku. Dia membuka mulutnya dan menggigit lenganku.
__ADS_1
Aku mengerang kesakitan dan memukul hidungnya dengan kuat. Namun, dia tetap tidak mau melepaskan gigitannya. Aku tahu sudah cukup untuk menyerang hidungnya saja. Aksinya ini merugikan kedua belah pihak. Pada akhirnya dia melepaskan gigitannya dan mundur ke belakang.
Napasku terengah-engah. “Kamu mau bertarung sampai titik darah penghabisan?”
“Aku sudah bersumpah untuk merawat adikku … “ Dia batuk keras dan memuntahkan seonggok air liur bercampur darah. Dia berkata dengan suara lemah, “Aku … aku tidak pernah melakukan apa pun dengan sukses, bahkan tidak bisa memegangi janjiku. Daripada kabur dengan payah, lebih baik mati untuk memperjuangkan janjiku. Dengan begitu, setidaknya aku berhak menghadapi orang-orang yang kurindu setelah aku mati.”
Aku mengulurkan tangan menjambak rambutnya dan berkata pelan, “Maaf sekali, aku juga hidup untuk memegangi janjiku. Aku sudah bersumpah akan melindungi segala yang dia tinggalkan … gadis ini tidak boleh celaka. Kalau tidak, aku bahkan tidak berhak untuk menghadapinya setelah aku mati.”
Aku tahu betul dia sudah sekarat.
Akan kuantar kamu ke gerbang maut dengan tinjuan ini.
Aku meninju lehernya dengan sekuat tenaga.
Namun, seketika itu tiba-tiba terjadi perubahan.
Philip mengeluarkan sebuah pisau seperti pesulap dan menusukkannya padaku.
Aku bergegas mundur. Pisau itu hampir mengenaiku. Aku mundur beberapa jauh dan melihatnya dengan berwaspada. “Kenapa tidak kamu keluarkan dari awal?”
Dia memegangi pisau sambil merangkak ke arahku. Aku benar-benar tidak punya tenaga untuk lari lagi.
Aku lelah sekali dan bahkan tidak kuat untuk merangkak bangun.
Aku bernapas terengah-engah dan bergumam, “Misel … lari.”
“Dor!”
Tepat ketika itu, tiba-tiba terdengar suara tembakan pistol.
Muncul percikan darah di lengan Philip. Misel berteriak dan jatuh duduk di lantai. Tembakannya melesat ke langit-langit.
Ternyata Misel pergi mengambil pistol?
Sayang sekali tembakannya melesat.
__ADS_1
Pisau di tangan Philip jatuh ke lantai. Dia mendekap lengannya sambil menatap lurus pada kami. Pada akhirnya dia memutar badan dan lari.
Dia masih punya tenaga untuk kabur …
Misel bergegas berlari menghampiriku. Dia memberikan pistolnya padaku sambil berkata dengan suara gemetar, “Kakak Ipar! Aku tidak pandai pakai pistol!”
Dengan tenang aku melihat Philip kabur. Aku berkata pelan, “Oh, pistol ini hanya ada satu peluru. Sudah tidak sempat lagi.”
“Maaf, Kakak Ipar … “ kata Misel sambil menangis. “Tadi aku mau bantu kamu, tapi kalian bergulat dengan dekat. Aku takut tidak sengaja menembakmu.”
Aku menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak apa-apa. Aku juga tidak mau mati karena tembakanmu.”
Lalu terdengar suara Yudha di ponsel, “Saleh? Kenapa aku mendengar ada suara tembakan? Kalian ada di mana? Apa kalian baik-baik saja?”
Aku menjawab, “Di kuil tua Desa Sango … sekarang aku akan bawa dia ke rumah sakit.”
“Apa kamu tidak apa-apa?”
“Aku tidak apa-apa.”
Misel memapahku. Dengan susah payah aku bangkit berdiri. Dia terus menangis sampai membuatku kesal. Jadi aku berkata, “Kenapa kamu terus menangis?”
“Aku kira aku akan mati … “ kata Misel sambil menyeka air mata. “Kakak Ipar, terima kasih … kamu adalah pahlawanku.”
“Kakakmu tidak akan setuju untuk menemuimu secepat ini.”
Aku berkata dengan pelan. Lalu kami berjalan keluar dari kuil tua.
Di sekitar masih saja gersang. Aku juga tidak tahu ke mana Philip kabur, bahkan tidak ada jejak darah di tanah. Dia benar-benar sangat berhati-hati.
Misel bertanya dengan takut, “Kakak Ipar, apa kamu bisa tangkap dia?”
Aku menjawab, “Tidak tahu. Dia bisa diam-diam mendapatkan pistol, artinya dia pasti punya tempat persembunyian. Seharusnya bisa tangkap dia, itu hanya masalah waktu. Di sini sangat terpencil. Kalau dia bersembunyi di dalam hutan, mungkin akan sulit untuk menemukannya.”
Dia berkata dengan cemas, “Ada anjing polisi! Tidak peduli di mana dia bersembunyi, anjing polisi pasti bisa menangkapnya!”
__ADS_1
Aku berkata, “Hidung anjing polisi bisa dikelabui dengan cara kencing ke dalam sepatu. Di sini ada banyak mata air gunung. Air dapat mengisolasi segala aroma dan anjing polisi bukan serba bisa.”