Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 82


__ADS_3

Pembawa acara berkata, “Benar kata Pak Saleh, kita harus menghargai orang yang kita sayangi! Pak Saleh, kami semua sangat penasaran terhadap aksi kepahlawanan Bapak. Bisakah Bapak perkenalkan diri dengan singkat?”


Aku mengangguk, lalu menoleh pada para tamu dan berkata, “Halo semuanya, aku Saleh Zulsafah. Aku tidak terlalu terbiasa kalau kalian panggil aku pahlawan, tapi … memang sering ada yang panggil aku seperti itu.”


“Oh?”


Pembawa acara berkata dengan santai, “Tampaknya Pak Saleh juga adalah orang yang suka menolong dalam kehidupan sehari-hari. Kalau begitu, siapa yang memanggil Bapak sebagai pahlawan? Lalu apa alasannya?


“Itu karena aku punya identitas yang lain. Mungkin kalian sudah sangat familiar dengannya. Iya, aku adalah sang pemburu kriminal.”


Seketika seluruh aula menjadi hening.


Senyuman bahagia di wajah orang-orang perlahan menjadi kaku. Misel tidak tahan untuk mendekap mulutnya. Yudha melihatku dengan matanya yang membelalak.


“Hahaha … hahahaha. Pak Saleh humoris sekali.”


Pembawa acara berkata dengan canggung sambil memegang mikrofon, “Sebenarnya saya tidak menyarankan Pak Saleh bergurau seperti ini karena sepengetahuanku, sepertinya salah satu meja tamu hari ini diduduki oleh polisi. Jadi tolong lihat tempatnya dulu sebelum bergurau. Ini …”


“Tidak, aku tidak bergurau.”


Aku melihat para polisi di bawah panggung yang terkejut dan berkata, “Joni Lasmana dibunuh olehku. Aku menabokinya di atas jembatan, lalu dengan panik dia melompat dari jembatan. Saat itu dia jatuh ke dalam sungai dan langsung mati di tempat. Untung waktu itu sudah larut malam sehingga tidak ada yang melihatnya. Jadi aku menyeret mayatnya ke dalam mobil, lalu menyetir menelusuri tepi sungai. Ada beberapa pohon di dermaga itu. Kalian bisa utus orang untuk periksa. Kalian akan menemukan mayatnya di dalam mobilnya sendiri atau menghubungi istrinya. Aku sudah mengaku pada istrinya.”

__ADS_1


Pembawa acara menelan ludah dan mundur dua langkah ke belakang.


“Saleh!”


Yudha tidak tahan untuk berteriak, “Jangan omong kosong, kamu sudah mabuk!”


“Omong kosong atau bukan, kalian akan segera menerima laporan kasus dari Wulan Sari. Selain itu, ada toilet umum di Jalan Asia II. Pakaian yang kupakai saat melakukan aksi telah disembunyikan di dalam bak penampung air toilet umum. Sekarang pakaiannya ada di meja makan rumahku. Saat kamu pergi ke sana, jangan asal mengubek-ubek karena aku sudah menaruh buktinya di atas meja. Jangan membuat rumahku berantakan.”


Saat ini, para anggota tim reskrim regu dua sangat gelisah.


Sekujur tubuh Yudha gemetaran dan dia bergumam, “Kamu bohong …”


“Rumah yang aku lewati untuk kabur, sandinya 4027. Kalian bisa lepaskan dia karena aku benar-benar tidak kenal dia. Kalian kira aku hanya bunuh Kevin Tanaka, tapi sangat banyak hal yang telah kulakukan. Joni Lasmana, Wira Kusmono, Dodi Jaya … Daniel Prawira yang wajahnya kusayat tiga kali dengan pisau, lalu Farhan Permana yang tadi malam baru kutusuk dengan pisau.”


“Maaf, Bro. Aku tahu kamu berharap aku tidak akan dijatuhkan vonis mati, tapi sepertinya masuk penjara saja tidak cukup untuk menebus semua perbuatanku. Aku tahu kalian belum menyelidiki bukti kejahatanku, tapi aku bahkan tidak berniat untuk masuk penjara. Akhir-akhir ini kamu sudah memiliki banyak jasa kontribusi? Kontribusi utama atas menangkap pemburu kriminal … apa kamu sanggup menerimanya?”


Pembaca acara sudah melompat turun dari panggung dan bergegas berlari menuju pintu.


Aku berkata dengan suara dingin, “Jangan asal gerak. Aku sudah memasang bom di aula ini secara diam-diam.”


“Kamu bohong! Kamu punya bom dari mana? Mengapa kamu memasang bom?”

__ADS_1


“Aku temukan di rumah Philip Leo. Dia mengebor lubang di langit-langit antara lantai empat dan lantai lima, lalu menyembunyikan banyak senjata di lantai lima …” kataku dengan tenang. “Sementara mengapa aku memasang bom? Tentu karena aku tahu aksi kejahatanku sudah ketahuan, ‘kan? Kalau tidak bisa kabur, kalau akan dijatuhkan vonis mati, mengapa aku tidak membawa lebih banyak orang untuk mati bersamaku?”


Para anggota tim reskrim regu dua langsung merogoh pistol mereka. Namun, aku sudah menarik Misel ke sampingku.


Kemudian, aku mengeluarkan pisau kecil dari dalam saku dan menodongkannya di leher Misel.


“Maaf …” bisikku di telinganya. “Maaf merusak acara pernikahanmu.”


Dia berkata dengan gemetaran, “Mengapa kamu katakan semuanya … mengapa kamu harus mengambil jalan buntu?”


Yudha sangat cemas. Dia bergegas berkata pada para polisi, “Jangan panik, jangan tembak! Dia tidak mungkin pasang bom, dia bukan orang yang seperti itu!”


Salah seorang polisi berkata, “Kapten Yudha! Awalnya kamu juga bilang dia tidak akan memberontak. Bukankah dia tetap memberontak? Selain itu, sama sekali tidak ada senjata berbahaya yang tersembunyi di rumah Philip. Aku punya alasan konkret untuk mencurigai kalau dia benar-benar memasang bom!”


Aku tersenyum dan berkata, “Pak Yudha, aku adalah mafia yang telah membunuh tiga orang dan melakukan banyak aksi kejahatan. Sebaiknya kamu percaya kalau aku bisa melakukan hal-hal gila seperti ini.”


Yudha berteriak dengan marah, “Saleh! Sebenarnya kesalahan apa yang telah kuperbuat padamu, mengapa kamu harus melakukan ini padaku? Lepaskan Misel!”


“Aku tidak akan lepaskan. Aku sudah tahu kalian akan datang dan tangkap aku. Aku pun tidak bodoh. Mengapa aku tidak memilih untuk memberontak …” Sambil menyandera Misel, aku berkata dengan suara dingin, “Letakkan pistol kalian. Setidaknya ada satu hal yang bisa kujamin. Selama aku bisa pergi dari sini dengan aman, tidak ada seorang pun yang akan mati bersamaku!”


Mereka tidak kunjung meletakkan pistol, melainakn tetap menodongkan pistol mereka padaku.

__ADS_1


Aku membawa Misel mundur ke belakang dengan berwaspada. Alih-alih melawan, Misel malah menempel erat padaku seolah-olah takut aku akan ditembak mati.


Almira si ibu mertuaku gemetaran saking takutnya. Dia bergegas berkata padaku, “Saleh! Bagaimana bisa kamu begitu kejam? Dia adalah adiknya Marsela! Kalau Marsela tahu di alam surga, dia pasti tidak akan beristirahat dengan tenang!”


__ADS_2