
Aku melirik Yudha.
Meskipun sedang menatap lurus padaku, tatapan matanya sesekali melirik Misel yang memakai gaun pengantin.
Aku berkata pelan, “Hhmm, sebenarnya … dia juga tidak begitu suka kamu.”
“Hah?”
“Kami adalah sahabat baik, kadang akan berkumpul bersama dan mengobrol …” kataku. “Apa kamu tahu mengapa selama ini dia tidak kunjung menikahi kamu?”
“Mengapa?”
Dalam benakku terngiang akan sosok Yudha yang berulang kali memegangi cincin nikah, akan dirinya yang gemetaran sebelum hendak melamar, akan dirinya yang menangis seperti anak kecil di koridor, akan dirinya yang memegang lenganku erat-erat di dalam toilet pada hari itu.
Pada akhirnya, aku berkata pada Misel yang memakai gaun pengantin, “Kadang dia mengeluh kamu tidak bisa memenuhi kewajibanmu sebagai istri. Dia merasa kamu masih seperti anak kecil yang tidak bisa dewasa dan dia ingin cari yang lebih dewasa. Setelah putus denganmu, sebenarnya dia juga tidak bagaimana sedih. Sebaliknya, dia bilang dia merasa lega karena kamu yang minta putus lebih dulu. Jadi rasa bersalah dalam hatinya berkurang banyak.”
“Bajingan! Dasar serigala berbulu domba!”
Misel mengumpat sambil merendahkan suaranya. Lalu aku berkata dengan lembut, “Jadi sekarang kamu harus berpegang teguh pada kebahagiaanmu sendiri, oke?”
Dia jawab dalam suara kecil, “Oke.”
“Hhmm, fotonya sudah cukup, ayo kita masuk.”
Dia ragu sejenak, lalu mengangguk dan berkata, “Oke …”
Saat kami berjalan menuju pintu masuk klub, anggota tim reskrim regu dua bergegas mengikuti kami.
Salah seorang berjalan dengan cepat dan langsung menghampiriku, tapi lengannya ditangkap lagi oleh Yudha.
Setelah masuk ke dalam klub, tiba-tiba Yudha menepuk bahuku, “Ayo duduk denganku.”
Aku mengangguk dan berkata, “Oke.”
Dia membawaku duduk. Anggota tim reskrim regu dua tidak duduk di satu meja, melainkan mengelilingi aku dari tiga arah.
__ADS_1
Misel tidak tahan untuk berjalan kemari dan berkata, “Biasanya kalian semua sibuk sekali, hari ini kalian benar-benar menghormati aku dan datang semua tanpa terkecuali.”
Salah seorang polisi tersenyum dan berkata, “Tentu saja harus menghormati kamu. Sudah bertahun-tahun kita berkenalan.”
“Iya, kita semua ingin datang dan memberi ucapan selamat padamu!”
Wajah Yudhal memerah. Pada akhirnya dia hanya bisa berkata, “Semoga langgeng ya!”
Misel hanya tersenyum sinis sambil meliriknya. Tiba-tiba dia berkata sambil menggertakkan gigi, “Dasar bajingan!”
Yudha terbengong karena makiannya. Dia melihatnya dengan bengong dan tidak paham mengapa dia dimarahi.
Dia menggaruk belakang kepalanya dan bergumam denganku, “Kenapa tiba-tiba dia memarahi aku?”
“Mana kutahu? Temperamen perempuan memang sangat aneh …” jawabku. “Tadi malam tidak tidur nyenyak ya?”
“Iya, malam-malam harus pergi menyelidiki kasus, benar-benar lelah sekali.”
“Jaga kesehatanmu. Kamu kelihatan seperti impoten.”
“Kita ini namanya teman tapi benci, ‘kan?”
Dia terbengong. Pada akhirnya, dia berkata dengan pelan, “Iya, kita adalah teman tapi benci.”
Makanan belum dihidangkan di meja, hanya ada camilan berupa kacang-kacangan, permen, dan buah-buahan untuk para tamu. Namun, minumannya sudah disiapkan di atas meja.
Aku membuka botol bir dan menuangnya ke dalam dua gelas. Aku beri satu gelas pada Yudha, “Minum tidak? Terakhir kali kita minum bir bersama sudah sembilan tahun yang lalu.”
“Iya, tidak bisa minum bir setelah menjadi polisi. Aku selalu bertugas. Meskipun tidak ada, aku juga tidak berani minum karena takut akan menunda masalah dinas. Jadi aku tidak pernah temani kamu minum lagi.”
Aku bersulang dengannya dan berkata pelan, “Segelas ini saja, cheers.”
Polisi di samping bergegas berkata, “Kapten Yudha! Ini masih jam kerja!”
Yudha tidak menghiraukannya. Dia meneguk segelas bir denganku dan meletakkan gelasnya.
__ADS_1
Tamu yang datang semakin banyak. Musik yang romantis diputar di aula acara. Slide foto pengantin Agus dan Misel juga ditayangkan di layar besar.
Dengan tenang Yudha melihat layar besar itu dan bertanya, “Apa kamu masih ingat hari di mana kamu pergi menyelamatkan Misel?”
Aku jawab, “Ingat.”
“Omong-omong lucu juga. Pemerintah berencana mempromosikan kawasan wisata di gunung sebelah sana, lalu mengundang tim profesional untuk melakukan promosinya. Mereka menggunakan kamera drone untuk merekam bahan video, tapi perencanaannya terhenti di tengah. Pemegang saham terbesar kedua dari tim promosi berutang judi dan kabur membawa anggaran dana. Seketika perusahaannya tidak mampu membayar gaji. Para karyawan juga tidak mau masuk kerja.”
“Benarkah? Judi benar-benar berdampak negatif.”
“Memang berdampak negatif. Bos sudah menggadaikan segala sesuatu yang bisa digadaikan dalam dua bulan terakhir, lalu mencari dana di mana-mana. Akhirnya baru berhasil menyelamatkan perusahaan. Lalu mereka mengaktifkan kembali proyek ini. Siapa tahu mereka malah menemukan …”
Sampai di sini, suaranya sedikit gemetar, “Saleh, hari itu sebenarnya … sebenarnya kamu …”
Dengan panik dia meletakkan tangannya di paha dan meremasnya dengan erat seolah-olah untuk menenangkan dirinya.
Aku jawab dengan tenang, “Tidak perlu tanya lagi, itu perbuatanku.”
Dia menarik napas dan badannya sedikit terhuyung.
Saat ini, pembawa acara naik ke panggung. “Para hadirin yang terhormat, mohon tunggu sebentar. Acara pernikahan akan segera dimulai. Sekarang silakan para hadirin yang membawa anak untuk menjaga anak kalian. Lighting, tolong atur pencahayaannya …”
Saat aku melihat layar besar itu, seorang polisi tidak tahan untuk merogoh borgolnya dan berkata padaku, “Saleh Zulsafah, sekarang kamu diduga terlibat dalam kasus pembunuhan, tolong ikut dengan kami …”
“Sialan!”
Tiba-tiba Yudha menepuk mejanya!
Aku menoleh padanya. Bertahun-tahun sejak kami berkenalan, pertama kalinya aku melihat dia mengumpat dengan emosi.
Biasanya dia tidak suka berkata kasar.
Polisi tidak tahan untuk berkata, “Kapten Yudha … jangan lupa akan kewajiban polisi untuk menangkap tersangka …”
“Sudah bertahun-tahun aku menjadi polisi dan menangkap pencuri, aku lebih tahu dari siapa pun apa saja kewajiban polisi! Tidak peduli dia terlibat dalam kasus apa, dia adalah sahabatku! Kalian semua, diam di tempat! Ini adalah acara pernikahan dari wanita yang kucintai, dan dia adalah sahabat terbaikku. Dia belum melihat pengantin wanita memakai cincinnya. Setelah acara pernikahan berakhir, aku … aku sendiri yang akan tangkap dia!”
__ADS_1