Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 72


__ADS_3

Setelah aku kuliah di akademi kepolisian, ayah dan ibu pun berkata padaku bahwa mereka sudah memiliki kehidupan sendiri. Lalu aku sudah bisa berdikari sehingga mereka memintaku ke depannya sebisa mungkin jangan mengganggu mereka lagi.


Jadi aku tentu tidak akan meminta bantuan pada mereka dalam hal membeli rumah untuk menikah. Pria lain bisa pulang ke rumah dan berdiskusi dengan orang tua mereka, sedangkan aku hanya bisa pulang sendirian ke asrama kepolisian dan tahu bahwa diriku tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan yang indah ini.


Aku tahu betul sudah tidak ada orang di dunia ini lagi yang peduli padaku.


Aku memberanikan diri untuk mengaku pada istriku bahwa aku tidak mampu beli rumah. Lalu dia bertanya, “Apa kamu cinta aku?”


Aku jawab aku sangat cinta dia.


Dia bertanya lagi, “Kalau kamu harus mencintai dan menyayangi aku dengan segenap hati selama seumur hidup, apa kamu bersedia?”


Aku jawab itu adalah kehormatanku, tapi sayangnya aku tidak punya kesempatan untuk itu.


Hari itu, istriku menggandeng tanganku dan membawaku ke perumahan ini. Sebenarnya pada saat itu, tempat ini adalah kawasan yang baru dikembangkan dan dikatakan sebagai kawasan pinggir kota oleh orang-orang. Rumah yang baru dikembangkan ini juga murah, hanya enam juta per satu meter persegi.


Meskipun begitu, uang mukanya juga dua ratus juta rupiah. Aku hanya mengeluarkan empat puluh juta, sedangkan istriku mengeluarkan seratus enam puluh juta. Dari dulu pemasukannya lebih tinggi dariku, jaringan koneksinya juga lebih luas dariku.


Pada hari itu aku menandatangani kontrak pembelian rumah atas namaku sendiri.


Aku merasa sangat malu, tapi dia berkata, “Kelak punyamu adalah punyaku, punyaku juga adalah punyamu. Kita sudah sepakat untuk saling mencintai selama seumur hidup, lalu untuk apa mempermasalahkan kepemilikan ini? Untuk apa harus menghiraukan komentar orang lain? Cinta kita bukan transaksi, tapi taruhan. Hari ini aku mengorbankan segalanya untukmu, hanya untuk taruhan kamu akan mencintaiku selama sisa hidup tujuh puluh tahun.”


Malam itu, kami berdiri di depan rumah yang kosong ini. Dia tanya apakah aku suka tempat ini. Aku menjawabnya dengan malu-malu, “Ada begitu banyak orang yang rela membelikan rumah di pusat kota untukmu, tapi kamu malah mau tinggal bersamaku di pinggiran kota seperti ini.”


Dia memeluk leherku dengan wajah penuh kebahagiaan dan berkata, “Kelak tempat ini juga akan berkembang pesat. Selama bersama kamu, aku tidak takut apa-apa. Aku tahu kelak kamu pasti bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untukku. Apa kamu tahu? Terkadang cinta dari perempuan itu sangat sederhana. Aku pun puas asalkan bisa menjadi kesayanganmu untuk selamanya. Aku sangat cinta kamu … kamu juga harus membuatku selamanya dapat merasakan cintamu, oke?”


Aku memeluknya dan mencium wangi lavender yang samar-samar di badannya.


Selamanya aku akan mengingat malam itu di mana aku memeluknya sambil bersumpah dalam hati.

__ADS_1


Aku hanya akan mencintainya selama seumur hidup ini.


Aku akan terus mencintai sebagai kesayanganku selama seumur hidup ini.


Aku masih ingat saat dekorasi rumah, bersama-sama kami mengecat dinding rumah dengan cat putih untuk menghemat uang. Pakaiannya penuh dengan noda cat, lalu dia tertawa bodoh padaku.


Aku masih ingat saat pertama kalinya tidur di rumah ini, dia berbaring dalam pelukanku dengan bahagia dan bilang ini adalah rumah kami.


Saat mengetahui kabar kehamilannya, aku gemetaran di dalam rumah saking gugupnya. Dia menepuk bahuku dan menghiburku bahwa bukan aku yang akan melahirkan anak.


Saat aku berhasil menabung uang yang cukup banyak untuk mendekorasi rumah, dia bersandar padaku di sofa dan bilang suamiku paling hebat.


Dulu, rumah yang hampa ini penuh dengan canda tawa dan kehangatan.


Aku seolah-olah melihat dia dan Chiro berbaring di sofa, dengan tenang menungguku pulang ke rumah. Mataku pun dibasahi air mata.


Aku berkata pelan, “Aku keluar ya …”


Setiap menuruni satu anak tangga, aku teringat akan kenangan bersama kami.


Lalu aku sampai di bawah. Mobilku sudah selesai diperbaiki. Aku menyetir mobil ke depan gerbang perumahan, lalu membunyikan klakson pada Jenni.


Dia bergegas mendekati jendela mobil. Melihatku berpakaian dengan formal, dia bertanya dengan penasaran, “Kenapa kamu berpakaian seperti ini?”


Aku menjawab, “Malam ini adalah hari pernikahan adik iparku.”


“Kalau begitu, kenapa jam segini kamu masih di rumah? Sebagai keluarga pengantin wanita, kok kamu tidak hadir untuk menyambut tamu?”


“Hubunganku dengan ibu mertua tidak akur.”

__ADS_1


“Oh … setir pelan-pelan, aku takut tidak bisa mengejarmu.”


“Oke.”


Aku menyetir mobil menuju taman makam di mana istriku terkubur.


Aku mengeluarkan kotak peralatan dari bagasi, lalu memeluk kotak abu jenazah Chiro di tangan satunya. Aku berjalan ke atas selangkah demi selangkah. Jenni menemani di sampingku dan berbisik, “Kamu … jangan-jangan mau kubur dia di sini?”


“Iya.”


“Ini aneh sekali …” katanya tak tertahankan. “Ini tidak hormat pada sang mendiang. Orang yang terkubur di sini adalah istrimu.”


Aku menghampiri batu nisan dan berkata pelan, “Tidak akan, selamanya dia tidak akan marah padaku. Dia pernah bilang kalau dia tidak akan ada di taman makam … tapi kupikir dia juga tidak selalu benar. Kalau dia benar-benar ada di sini, setidaknya aku tidak ingin dia kesepian. Hari ini kubawa kamu ke sini karena ada hal yang ingin kumohon padamu.”


Dia bergegas berkata, “Tidak peduli apa permohonanmu, pasti akan kuusahakan!”


“Oke …”


Aku mengeluarkan palu dari dalam kotak peralatan dan memecahkan ubin makam istriku. Dengan hati-hati aku memasukkan abu jenazah Chiro ke dalam.


Dia bertanya, “Apa yang kamu ingin aku bantu?”


“Aku juga hanya bisa katakan ini denganmu. Ajalku sudah akan tiba.”


“Omong kosong apa kamu? Tidak ada orang yang bisa menangkapmu, kamu begitu hebat …”


Aku memotong perkataannya, “Surat wasiatku tersimpan di dalam kamar. Suatu hari nanti kalau aku mati, hak milik rumah tidak akan kuberikan pada adik iparku, tapi untuk kamu.”


“Untukku?”

__ADS_1


“Dalam satu tahun setelah aku meninggal, aku harap kamu bisa membersihkan rumah setengah bulan sekali. Misel si malas itu pasti tidak akan bisa melakukannya. Setelah genap satu tahun, aku harap kamu bisa menjual rumah itu, tapi Misel pasti tidak akan setuju. Dengan sifatnya, dia akan terus mengosongkan rumah itu.”


__ADS_2