Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 2


__ADS_3

Adegan ini membuatku merasa tidak nyaman. Istriku sudah meninggal, dia malah merayakan dirinya tidak perlu masuk penjara! Merayakan dirinya tidak perlu membayarnya! Merayakan dirinya membunuh seseorang dengan mudah.


Dia tertegun saat melihatku datang.


Aku memanggilnya sendirian, lalu bertanya kepadanya apakah namanya Joni Lasmana atau bukan.


Dia bilang ya.


Aku berkata, aku sudah mencari informasimu. Kamu kaya, kamu tidak takut meninggalkan kasus. Saat itu kamu bahkan belum tamat sekolah, menikahi istrimu dan tidak pergi bekerja, kamu menghabiskan hari-harimu dengan minum alkohol. Kamu bersandar pada keluargamu yang kaya, bermain setiap hari, tidak pernah melakukan hal yang benar, dan kamu hidup dengan uang orang tuamu.


Tapi bagaimana dengan istriku.


Istriku suka mengirimkan sup yang direbusnya ke tim polisi lalu lintas kami. Setiap kali dia akan mengemasi pakaian lamanya dan memberikannya kepada anak-anak di daerah pegunungan yang miskin. Setiap musim dingin dia akan mengunjungi para janda dan orang tua untuk memberikan kehangatan dan makanan. Walaupun dia sudah meninggal, tapi karena saat masih hidup dia pernah menandatangani untuk donasi organ, dia membantu mereka yang sangat membutuhkan untuk melanjutkan hidup mereka.


Aku berkata, kamu benar-benar brengsek. Jika dibandingkan dengan istriku, kamu sama sekali tidak ada arti untuk hidup.


Dia menundukkan kepalanya dan tidak berani berbicara, mungkin mengingat bagaimana pertama kali aku memukulnya.


Aku tidak tahan lagi sehingga menangis, aku menyapu air mataku lalu berkata, apa gunanya kamu hidup, istri aku adalah orang yang baik, pada akhirnya diganti dengan hukuman percobaan kamu. Jika kamu hidup lebih berarti, aku tidak akan jatuh ke dalam sakit hati seperti itu.


Dia terus meminta maaf padaku, mengatakan bahwa dia benar-benar tahu kesalahannya dan tidak akan pernah mengulanginya di masa depan, dan memintaku untuk memaafkannya.


Aku juga tidak ingin berbicara terlalu banyak dengannya, aku hanya berkata istriku menukarkan nyawanya untuk perubahanmu. Kamu benar-benar harus menjadi orang baik di masa depan, karena kamu sedang membawa nyawanya.


Setelah aku mengatakannya, aku kembali ke mobil di seberang hotel dan menangis berulang kali. Mendengarkan suara istriku, aku ingin sambil mengemudi, tapi sakit ini membuatku sesak, begitu sakit itu terasa, aku sangat ingin muntah, seperti setelah muntah baru bisa bernafas kembali. Aku sama sekali tidak bisa menyetir.


Aku menurunkan kursi dan istirahat. Alhasil ketika aku bangun, aku melihat Joni Lesmana yang mabuk berjalan keluar, yang terpentingnya adalah dia naik ke sebuah mobil, dan duduk di kursi pengemudi.


Aku langsung frustasi.


Dia rupanya masih mengemudi.


Brengsek tetaplah brengsek.


Aku melihatnya menyalakan mobilnya lalu pergi, orang ini masih dalam masa percobaan, jika tertangkap maka akan diperparah hukumannya.


Tapi aku malah tidak ingin melaporkannya ke polisi.


Binatang ini tidak ada gunanya membiarkan dia berubah.


Aku tidak bisa menahan amarahku, jadi langsung mengendarai mobil dan mengejarnya. Orang ini masih mengemudi dengan cepat, aku mengemudi lebih cepat dan langsung mengarah ke bagian depan mobilnya untuk menabraknya.


Aku tidak menabraknya, tapi berhasil membuatnya berhenti. Dia keluar dari mobil dan sangat marah, berteriak marah kepadaku.


Tapi saat dia melihatku dari jendela, dia segera memberikanku rokok, dan berkata dia telah melakukan kesalahan, juga menyuruhku jangan melaporkannya ke polisi. Dia tahu aku sudah berhenti dari pekerjaan polisi dan berkata akan memberiku uang.


Aku keluar dari mobil dan mendorongnya dengan keras. Aku berkata, bagaimana kamu mengatakannya tadi saat di restoran.


Dia juga masih pura-pura ceroboh, berkata hanya mengemudi ke hotel yang tidak jauh dari sini. Karena dia tidak boleh mengemudi setelah minum alkohol, dia ingin tidur di hotel.


Apakah aku akan percaya?


Aku melihat wajahnya yang merasa tidak bersalah, semakin aku melihatnya, aku semakin membencinya, semakin membencinya semakin teringat istriku. Aku langsung meraih kepalanya dan membantingnya ke jendela mobil.


Kekuatanku sangat besar, sehingga dengan gampang menghancurkan jendela mobil tersebut. Aku tidak peduli dengan konsekuensinya, aku membantingnya dengan keras. Hanya ada satu hal yang di benakku, yaitu membiarkan binatang ini membayar apa yang telah dia perbuat.


Joni Lesmana terus berteriak minta tolong, tetapi sudah larut malam, tidak ada seorang pun di jalan dan tidak ada mobil.


Dia memohon maaf padaku, mengatakan bahwa dia benar-benar tahu kesalahannya. Aku dengan terpaksa menenangkan diriku dan membebaskannya.


Aku menghela nafas, berusaha untuk menekankan amarah di hati, tapi tiba-tiba dia masuk melalui jendela mobil, mengeluarkan tongkat dan memukulku.


Benar-benar, dia bermain tongkat di depan mantan polisi.


Aku sama sekali tidak mundur, malah langsung maju, lalu menggunakan bahu aku untuk menahan pergelangan tangannya. Dia tanpa sadar ingin menarik tangannya, tetapi lengannya malah ditangkap olehku.


Aku awalnya bisa meraihnya dalam satu gerakan, tapi aku menekan dan menggesekkan wajahnya ke kaca yang pecah tadi.


Aku tidak ingin menakluknya, aku benar-benar ingin memukulnya sampai mati.

__ADS_1


Dia berteriak mengatakan bahwa jika memukulnya lagi maka sudah akan mati, sedangkan aku meraih telinganya dan menariknya dengan sekuat tenaga.


Aku sangat ingin merobek telinganya, lagi pula putusan pengadilan maupun peringatanku, telinga ini juga tidak mendengarnya.


Joni sangat kesakitan sehingga dia mendorongku menjauh dan berlari dalam keadaan mabuk.


Dia tidak memilih jalanan, tetapi langsung melompat dari jembatan.


Jembatan ini tingginya belasan meter, dan dibawahnya merupakan sungai yang dangkal.


Aku tiba-tiba sadar, melihat kegelapan di bawah jembatan, dengan cepat berlari ke bawah untuk melihatnya. Aku melihatnya terbaring di sungai dan tubuhnya berlumuran darah.


Aku mencoba membalikkannya dan memeriksa nafasnya dengan tanganku.


Tidak ada nafas.


Dia sudah meninggal.


Tidak tahu mengapa, aku sama sekali tidak memiliki rasa takut, aku malah berpikir aku telah membalaskan dendam istriku.


Aku duduk di sebelah mayatnya dan tidak bisa menahan tawa.


Aku tidak takut, palingan hanya menyerahkan diri, palingan hanya berkata akulah yang membunuhnya, lalu menembak mati aku dan dapat menemani istriku.


Tetapi setelah duduk untuk waktu yang lama, aku merasa tidak pantas.


Dia adalah bajingan yang tidak ada artinya, mengapa kita berdua harus mati untuk dia seorang.


Kebetulan aku pernah menjadi polisi lalu lintas, aku tahu kamera pengawasan di daerah ini belum diaktifkan secara resmi, jadi aku membawa tubuhnya ke atas dan memasukkannya ke bagasi mobilnya.


Aku memarkir mobil aku dan mengendarai mobilnya ke arah sungai, karena aku tahu tidak ada kamera pengawasan di sini.


Banyak peta kota telah lama tercatat dalam otakku, dan aku dapat menghindari setiap titik yang bisa membuatku mengakui kejahatan.


Aku menyusuri sungai kecil ke tepi sungai besar, sekelilingnya tidak ada seorang pun.


Di dalam hatiku tidak ada penyesalan, hanya ada kebahagiaan.


Ini adalah pembalasan untuknya.


Melihat mobil tenggelam ke dasar sungai, aku menjadi semakin lega. Saat hendak pergi, telponku tiba-tiba berdering.


Aku mengambil telepon dan melihatnya, menyadari nomor tersebut merupakan nomor asing. Awalnya mengira penipuan iklan, tapi setelah berpikir, seharusnya tidak akan ada yang periklanan yang menelepon selarut ini.


Jadi aku mengangkat telepon dan bertanya siapa itu.


Pihak satunya terdiam untuk sementara waktu, dan tiba-tiba seorang wanita berkata, “Kamu membunuh Joni kan?”


Aku benar-benar tertegun! Tubuhku langsung bergetar seperti tersengat listrik.


Aku berkata, omong kosong apa yang kamu bicarakan, jangan berbicara sembarangan.


Di ujung telepon lain berkata, “Bukankah ada empat pohon di sebelah tempat kamu membuang mayat?”


Sampingku memang ada empat pohon.


Otakku kosong, aku hanya merasakan jantungku berdetak sangat kencang.


Apa-apaan ini?


Seseorang terus menatapku.


Ketika aku dalam suasana hati yang sangat gugup, pihak lain tiba-tiba berkata, “Pohon ketiga memiliki sarang burung, yang merupakan tugas pengamatan harian anak-anak dari penduduk sebelah. Orang tua mengikat kamera pengawasan di pohon untuk merekam penetasan burung dan kamu telah masuk ke kamera. Jika kamu tidak menanganinya, saat mereka melihat kamera, akan tahu bahwa kamu telah membunuh.”


Aku hanya merasa penuh ketidakpercayaan, dan dengan bodohnya meraih telepon dan berjalan ke pohon ketiga.


Ketika melihat ke atas, ternyata benar-benar ada kamera di atasnya.


Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Siapa kamu?”

__ADS_1


“Kamu sibuk dengan urusanmu dulu, tidak perlu terlalu khawatir dengan Joni. Demi bisa mengemudi, dia mendapatkannya dengan cara yang jahat. Walaupun ada rekaman perjalanan, tapi sudah lama rusak, masih belum diperbaiki dan tidak ada pelacak lokasi yang terpasang. Jadi tidak akan ada orang yang melacak kamu melalui mobil ini, tapi kamu masih dalam masalah sekarang.”


“Masalah apa?”


“Jika kamu tidak ingin mati, jangan melewati Jalan Palangkaraya saat perjalanan pulang, kamu harus mengambil jalur yang berbeda.”


Aku bertanya dengan gemetar, “Siapa kamu?”


“Sibuklah dulu dengan urusanmu.”


Telepon dimatikan. Dan aku dengan bodohnya melemparkan kamera ke sungai dan berjalan kembali ke mobilku.


Aku memikirkan panggilan misterius itu, akhirnya menggertakkan gigi lalu memutuskan untuk tidak melewati Jalan Palangkaraya,  dan mengubah arah jalan pulang.


Tidak lama setelah kembali ke rumah, mantan rekan berkata terjadi serangkaian kecelakaan mobil di Jalan Palangkaraya.


Sebuah truk menyelinap ke jembatan dan secara tidak sengaja terbalik saat menyalip, yang menyebabkan lima mobil bertabrakan. Pemandangan itu sangat tragis.


Aku sangat amat terkejut, karena jika aku pulang melewati jalan itu, aku bisa dalam kecelakaan mobil.


Ini mengingatkanku dengan apa yang dikatakan wanita misterius padaku, seolah-olah dia tahu bahwa kecelakaan mobil akan terjadi dan menimpaku.


Pertanyaannya adalah bagaimana dia bisa tahu.


Aku duduk di rumah juga tidak paham dengan kejadian ini.


Joni meninggal dengan tragis, aku awalnya mengira aku akan gugup, tapi aku tidak.


Aku berbaring di tempat tidur dengan pakaian istriku di pelukanku, menyalakan teleponku dan mendengarkan suara-suara yang dia kirimkan kepadaku saat dia masih hidup.


“Sayang, hari ini hujan deras, kamu harus hati-hati saat bertugas. Aku sangat merindukanmu… Muah!”


“Sayang, hari ini lembur ya? Kalau tidak lembur, aku akan memasak. Kalau kamu lembur, aku menyiapkan sayurnya dan pergi tidur sebentar, jadi saat kamu hendak pulang, telepon aku dan aku akan memasaknya.”


Aku tidak bisa berhenti menangis.


Melihat istri aku di foto pernikahan, aku dengan bodohnya mengatakan kepadanya bahwa aku telah membalas dendam.


Dosa tidak menempati hati aku, tetapi aku memiliki rasa keadilan di hati aku.


Jika aku tidak bergerak, maka Joni mungkin akan membunuh orang yang tidak bersalah lagi.


Dia adalah bajingan yang tidak ada gunanya untuk hidup, kesalahan apa yang orang-orang itu lakukan, mengapa nyawa mereka dibawa pergi olehnya.


Aku melakukan hal yang baik, aku orang yang baik.


Aku mendengarkan suara istriku dan menjawab dengan konyol, "Aku sangat merindukanmu... Aku sangat merindukanmu, setiap hari aku merindukanmu, bahkan pada hari kamu meninggalkanku."


Pesan terkirim.


Tapi dia tidak bisa menerimanya.


Telepon misterius itu tidak menelepon lagi, aku ingin mencoba menelepon kembali, tetapi aku tidak tahu mengapa, ketika aku mengambil telepon untuk memeriksa catatan panggilan, aku menemukan bahwa catatan panggilan telepon dengan orang itu menghilang secara misterius.


Aneh.


Itu berhantu.


Ini menjadi misteri di hati aku, aku hanya benci bahwa aku benar-benar tidak dapat mengingat nomor teleponnya, aku tahu aku harus menyimpannya terlebih dahulu, tetapi siapa yang tahu bahwa catatan panggilan akan menghilang secara misterius.


Aku memikirkannya dan akhirnya tetap tidak paham. Kebetulan anjing di rumah lapar, jadi aku tidak memikirkannya lagi, kemudian bangkit untuk memberi makan anjing itu.


Aku punya anjing di rumah, dan namanya dinamakan oleh istri aku, bernama Chiro.


Sebenarnya jika mengungkit masalah ini juga sangat emosional, pada saat itu aku masih anak laki-laki yang miskin, sahabat dan teman sekelas istri aku mengejek aku miskin, bahkan tidak mampu membeli cincin berlian.


Jadi istri aku membeli cincin berlian dengan tabungannya sendiri, dan mengatakan bahwa aku telah menabung uang untuk membelinya, yang membuat aku sangat tersentuh.


Tetapi pada hari pernikahan, aku secara tidak sengaja membuat cincin berlian itu hilang.

__ADS_1


__ADS_2