
Yudha kembali duduk di kursinya. Napasnya menjadi semakin cepat. Air matanya tidak terbendung lagi dan mengalir turun dengan deras.
Tiba-tiba dia berdiri dan pergi ke toilet.
Saat aku berdiri, para polisi juga bergegas berdiri.
Terserah saja.
Kalau mereka ingin mengikutiku, biarlah mereka mengikutiku.
Aku masuk ke toilet. Toilet di klub mewah dibersihkan dengan sangat sungguh-sungguh, bahkan disemprot dengan parfum penjernih ruangan. Lantainya bersih dan kering.
Yudha tidak minum banyak bir.
Namun, dia muntah-muntah di depan kloset.
Rasa asam yang bergejolak di dalam lambung membuatnya sengsara.
Aku berdiri di belakangnya. Aku meletakkan tanganku di perutku dan berkata pelan, “Apa kamu tahu? Aku selalu merasa perasaan manusia sebenarnya berada di dalam lambung. Setiap kali bersedih, hanya bagian ini yang bisa merasakannya.”
Dengan posisi membelakangiku, dia berkata dengan gemetaran, “Namun, hatiku terasa sakit … sangat amat sakit …”
Aku tanya, “Apa itu karena dia?”
“Lalu karena kamu …”
Dia menyeka bibirnya, lalu berbalik badan. Tiba-tiba dia mendorongnya.
Aku terdorong sampai menabrak dinding dengan kuat dan mengeluarkan bunyi dentuman.
Dia mencengkeram kerah bajuku dengan erat sampai nadinya menonjol. Dia berteriak dengan marah, “Mengapa kamu bunuh orang? Mengapa kamu harus mengambil jalan ini!”
__ADS_1
Aku hanya melihatnya.
Selama bertahun-tahun berkenalan, pertama kalinya dia begitu marah padaku.
Aku tanya, “Jadi kamu sakit hati ya?”
“Awalnya aku merasa mengasihimu karena kamu kehilangan Marsela dan hidup seperti mayat berjalan. Selama ini aku terus berpikir demi kebaikanmu dan sibuk ke sana-sini untukmu. Kadang kamu akan bertindak semena-mena, lalu aku akan bujuk diriku sendiri bahwa kamu adalah orang yang kasihan. Namun, pada akhirnya, orang yang paling kasihan ternyata adalah aku …”
Sambil berkata, dia menangis tak tertahankan.
Dia tidak menahan suara tangisannya, seakan hendak menangis keras seperti anak kecil.
“Sakit sekali! Saleh … hatiku sakit sekali! Aku tidak pernah melakukan kejahatan apa pun dalam hidupku, mengapa Tuhan melakukan ini padaku? Aku tidak bisa melindungi orang yang paling kucintai, juga tidak bisa melindungi sahabat terbaikku. Dengan penuh integritas aku menjadi orang baik selama seumur hidup. Aku tidak pernah melakukan hal yang patut mendapat karma buruk. Mengapa dia begitu kejam padaku?”
Aku melihat matanya dengan tenang.
Hatiku dilanda rasa ironis. Dulu aku juga tidak pernah melakukan kejahatan apa pun, tapi mengapa takdirku seperti ini?
Dia menyandarkan dahinya di dadaku, lalu berkata terisak-isak, “Kamu telah kehilangan Marsela, tapi setidaknya kamu masih punya aku … Aku sudah kehilangan Misel, tapi setidaknya aku masih punya kamu … mengapa kamu menghancurkan semua ini?”
Aku jawab, “Segala hal milik kita bukan dihancurkan olehku. Di hari Marsela meninggal, kita sudah ditakdirkan akan memiliki akhiran yang tragis.”
“Masalah itu jelas-jelas sudah berlalu. Kamu bisa saja memiliki kehidupan yang baru!”
“Masa lalu tidak akan berlalu. Itu sudah terjadi, maka akan mengakar selamanya … inilah akibat dari perbuatan kriminal. Bagi Joni, dia hanya menyetir mobil dalam keadaan mabuk dan dijatuhkan vonis. Namun, bagi kita … setiap hari, setiap menit, dan setiap detik saat kita hidup pun tidak akan bisa terbebaskan dari kenangan ini.”
Dia berkata terisak-isak, “Orang yang mati tidak akan mempermasalahkan begitu banyak hal.”
“Akan tetapi, orang yang hidup akan terus mempermasalahkannya dan tidak akan lupa dalam seumur hidupnya.”
“Anggap saja aku mohon kamu, biarlah kami tangkap dengan mulus. Selama kamu nurut, kemungkinan kamu tidak akan dijatuhkan vonis mati. Tidak peduli kamu masuk penjara berapa tahun, aku akan terus tunggu kamu sampai keluar. Setiap bulan aku akan kirim biaya hidup untukmu. Aku akan tunggu sampai kurun waktu kurunganmu berakhir. Kumohon, setidaknya tolong pikirkan kembali, kamu masih punya aku walau telah kehilangan Marsela. Jangan melakukan hal yang bersalah padaku lagi.”
__ADS_1
Aku melihatnya dengan tatapan dingin.
Dia melihatku dengan tatapan memohon.
Aku tersenyum dan bilang, “Oke, aku janji padamu. Sekarang sudah begini, aku tentu tidak akan membuat masalah untukmu lagi.”
Akhirnya Yudha menghela napas lega setelah mendengarnya.
“Saksikan acara pernikahan ini baik-baik. Aku tidak akan membiarkan Misel melihatmu memakai borgol.”
Tepat ketika itu, terdengar suara pembawa acara di aula acara, “Para hadirin yang terhormat, kiranya ada banyak dari kalian yang sudah mendengar bahwa sebelumnya pengantin wanita mengalami suatu hal yang sangat berbahaya. Di saat kritis, dia diselamatkan oleh seorang pahlawan. Saya ingin mempersilakan pahlawan tersebut untuk maju ke panggung bersama pengantin wanita, lalu memberi ucapan doa pada kedua pengantin. Mari kita sambut Kakak ipar dari pengantin wanita, Saleh Zulsafah!”
Aku tersenyum getir dan berkata, “Kenapa masih ada sesi seperti ini? Dia menyebutku sebagai pahlawan di depan para polisi, mungkin para rekanmu sedang mengumpat dalam hati.”
“Ini dua hal yang berbeda. Kamu memang adalah pahlawannya …” kata Yudha. “Aku tegaskan sekali lagi, langsung pergi denganku setelah acara pernikahannya berakhir. Kamu tidak akan membuat keonaran, ‘kan? Kalau kamu masih membuat keonaran, pihak atasan pasti akan menghabisi aku. Aku mempertaruhkan karirku untukmu. Kamu akan masuk ke mobil polisi dengan nurut, ‘kan?”
Aku menepuk kepalanya. “Lap air matamu, jelek sekali. Tenang saja, aku tidak akan bohongi kamu.”
Begitu aku keluar dari toilet, para polisi langsung melihatku dengan gugup. Lalu Yudha keluar dari toilet dan mengerutkan bibirnya pada mereka.
Mereka langsung berkerumun di sekitar panggung. Aku menaiki panggung di bawah tatapan semua orang.
Setelah naik panggung, aku mengambil mikrofon dari tangan pembawa acara.
Semua orang di bawah panggung sedang melihatku.
Pembawa acara bertanya, “Pak Saleh, ucapan doa apa yang ingin Anda katakan pada pengantin wanita?”
Sambil memegangi mikrofon, aku menoleh pada Misel dan berkata, “Kelak hiduplah baik-baik. Hargai setiap hari yang kamu miliki, hargai setiap orang yang kamu sayangi. Ada hal-hal yang tidak dapat dimiliki lagi setelah hilang. Semoga dalam seumur hidupmu, kamu tidak akan kehilangan segala sesuatu yang kamu sayangi.”
Matanya memerah. Dia tidak tahan untuk mendekatiku.
__ADS_1