
Benar saja. Ada polisi di depan dan di belakangku, tetapi tidak ada yang berani mendekatiku.
Aku bergegas mengamati keadaan di sekitar. Tiga rumah warga di dalam gang yang paling dekat denganku dipasangi dengan pintu keamanan. Satunya adalah kunci sandi, sedangkan dua yang lainnya adalah kunci biasa.
Tepat ketika itu, tiba-tiba ada seseorang yang menyerbu keluar. Aku merasa sedikit tidak asing. Saat dia mendekat, aku baru sadar. Bukankah itu Fino si anak buahnya Yudha?
Dia berteriak, “Aku maju dulu!”
Aku meninju secara naluriah, tetapi dia mengelakkan tinjuanku dengan lincah. Lalu dia meninju lagi. Aku menghindar secara refleks dan berhasil menghindarinya.
Namun, detik berikutnya, tiba-tiba dia mengubah menjadi serangan siku. Aku tidak menyangka dia akan menggunakan serangan tipuan. Seketika aku tidak sempat menghindar. Serangan sikunya yang kuat mengenai pelipisku.
Rasa sakit dan pusing langsung melanda kepalaku.
Telingaku juga berdengung. Melihat aku tidak sempat bereaksi, beberapa polisi di samping serentak maju dan menahanku.
Yudha tidak tahan untuk bersorak. Dengan girang dia berlari kemari dan berkata pada Fino, “Bagus! Aku tahu kamu pasti bisa. Selama ini aku pun tahu!”
Fino menggaruk belakang kepala dan berkata dengan malu-malu, “Kapten, Kakak sepupuku adalah juara pertama boxing. Dia yang ajarkan jurus ini padaku dan aku hanya bisa satu jurus ini saja. Tak disangka aku juga bisa berkontribusi.”
Yudha memuji dengan hati tulus, “Serangan tipuanmu sangat bagus!”
Dia berjongkok dan mengulurkan tangan untuk melepaskan topengku. Dia berkata dengan suara dingin, “Hari ini aku mau lihat sebenarnya siapa kamu!”
Aku terus memikirkan cara dalam benak. Tiba-tiba aku mendapat ide.
Saat ini, dia sudah melepaskan topengku.
Kami bertatapan empat mata. Semua orang di sana pun terbengong.
Yudha mendekap dadanya dan jatuh duduk di lantai seakan tenaganya habis terkuras. Dia berkata dengan bengong, “Sa, Saleh!”
“Mengapa bisa kamu … “ kata Fino dengan panik. “Kamu tahu tidak betapa berjuangnya kapten kami demi kamu? Mengapa benar itu kamu?”
Seketika Yudha merasa sesak napas. Dengan panik dia menoleh ke sekeliling seperti anak kecil yang telah melakukan kesalahan. Tiba-tiba dia mengulurkan tangan mencengkeram bahuku, tetapi tidak bisa berkata-kata untuk waktu lama.
Pada akhirnya, dia bergumam, “Mengapa bisa kamu … mengapa … “
__ADS_1
Setelah dipikir-pikir, aku menjawab, “Itu karena aku adalah Ayahmu.”
Dia terbengong. Tiba-tiba Fino berkata, “Kapten, dia aneh sekali. Badannya jadi transparan!”
“Hah?”
Orang-orang tidak paham apa yang sedang terjadi. Seorang polisi berseru kaget, “Jangan-jangan dia bisa ilmu menyembunyikan tubuh? Dia punya kekuatan supernatural!”
Tiba-tiba kepalaku tersentak.
Dalam sekejap, aku kembali lagi di samping rumah Fernando.
Pengulangan ruang dan waktu.
Dia tidak mungkin dibunuh olehku karena ponsel itu adalah benda peninggalannya. Jika sekarang dia mati di tanganku, Melly tidak bisa menyelamatkanku. Aku juga tidak mungkin bisa muncul di sini dan membunuh Fernando.
Ruang dan waktu akan kembali ke momen sebelum terjadinya kekacauan. Jadi Fernando tidak mungkin bisa dibunuh olehku.
Sakit sekali … sakit sekali jatuhnya.
Aku berdiri dan melihat Fernando yang sedang menonton sambil berdiri di samping jendela.
“Cepat panggil ambulans, ada yang terluka!” teriak dua polisi di belakang sana.
Yudha juga mengejar kemari. “Kepung dia! Dia sudah tidak bisa kabur lagi. Jangan sembarangan tembak. Ini permukiman … “
Mereka mengepungku. Lalu Fino menyerbu keluar. “Aku maju dulu!”
Dia meninju ke arahku dan aku mengelak. Dia mengubah tinjuan menjadi serangan siku. Aku sudah tahu dia akan berbuat seperti itu. Aku mundur ke belakang untuk menghindari serangannya, lalu meninju batang hidungnya.
Dia jatuh di lantai sambil memegangi hidungnya. Dia merintih kesakitan, “Kamu mengalahkan jurus tinjuku … “
Dia bergegas kembali ke barisan. Yudha marah sekali. “Dasar kamu! Aku tahu kamu memang tidak bisa. Sudah kubilang kamu tidak akan pernah bisa!”
Aku tidak menghiraukan mereka, melainkan berlari ke pintu dengan kunci sandi itu. Setelah diketahui sandinya empat digit, aku langsung menekan 0000. Namun, sandinya salah.
0001, 0002, 0003 …
__ADS_1
Semua aparat polisi merasa heran mengapa aku tiba-tiba memasukkan sandi di sana. Yudha berkata, “Berhenti melawan! Sekarang kamu sudah tidak bisa kabur lagi, jangan melakukan perlawanan yang sia-sia!”
Aku meliriknya sekilas dan mengabaikannya, melanjutkan kesibukanku sendiri.
Aparat polisi tidak tahan lagi. Mereka serentak maju untuk menahanku. Lalu badanku perlahan menghilang …
Kembali lagi di samping rumah Fernando. Aku langsung membunuhnya.
Tetap sakit sekali … mengapa tidak bisa kembali ke momen sebelum aku jatuh dari genting?
Sesampainya di depan gang, hatiku menjadi kacau karena kesakitan. Fino dijatuhkan olehku. Dia berkata sambil memegangi hidungnya, “Kamu mengalahkan … “
Aku memotong perkataannya dengan kesal, “Jurus tinjumu, ‘kan? Itu juga bisa disebut jurus tinju?”
Aku menghampiri pintu kunci sandi dan lanjut memasukkan sandinya …
0075 …
1054 …
3548 …
Aku tidak ingat sudah berapa kali terjadi pengulangan ruang dan waktu, juga tidak ingat sudah berapa kali aku membunuh Fernando. Hatiku sangat kacau, tetapi aku terus berusaha menenangkan diri.
Aku pun berpikir. Kalau sandinya 9999, aku pasti akan beraksi setelah pintu berhasil dibuka.
Untung bukan.
Saat aku memasukkan angka 4027, pintu akhirnya berhasil dibuka …
Aku berdiri di tempat sambil terengah-engah. Lalu aku berbaring di lantai karena capek.
Aparat polisi terbengong melihatnya.
“Bagaimana dia bisa membuka pintunya?”
“Kenapa dia tidak kabur setelah pintunya berhasil dibuka?”
__ADS_1
Aku capek sekali. Hatiku sedikit gelisah saat badanku perlahan menjadi transparan.