
Benar-benar tidak pernah terpikir olehku bahwa Yudha begitu pandai bertarung di bawah pengaruh amarah.
Sayangnya … dia bukan lawanku.
Meskipun dia sedang menahan badanku, aku menghantamkan kepalaku dengan kuat pada batang hidungnya. Lalu aku bebas dari gulatannya dan meninju wajahnya dengan dua kepalan tanganku.
“Kamu sialan … benar-benar cerewet!”
Kesadarannya memudar karena kupukul. Beberapa kali dia ingin menyerang balik, tapi dia ditaklukkan olehku.
Awalnya dia masih bisa melindungi wajahnya. Lama-kelamaan, dia sudah tidak ada tenaga lagi.
Sambil terengah-engah, aku menarik bajunya dan melepaskannya.
Aku memakai baju dan topinya.
Celana kami kurang lebih mirip sehingga tidak aku ganti.
“Kamu tetap tidak bisa kabur walau menyamar …” gumamnya. “Saleh, menyerahlah.”
Aku tidak menghiraukannya, melainkan berjalan keluar.
Lemah sekali.
Dia tidak pernah bisa menang dariku.
“Saleh!”
Tiba-tiba dia berteriak saat aku sampai di depan pintu koridor.
Aku menoleh ke belakang. Dia sudah merangkak sampai ke tempat pistolnya tadi dan akhirnya menodongkan pistolnya padaku.
Sambil meneteskan air mata, dia berteriak histeris padaku, “Berhenti, kalau tidak, akan kutembak!”
“Kamu sudah tembak dari tadi kalau kamu mau tembak. Sejak dulu kamu memang seperti ini, selalu kasihan pada orang di sekitarmu …” kataku. “Oh iya, aku punya satu hadiah untukmu.”
Aku mengeluarkan ponselku dan meletakkannya di lantai.
“Di daftar kontakku ada satu nomor telepon yang dinamai gadis … kamu telepon saja kalau punya waktu. Kalau diangkat oleh Jenni, artinya teleponnya salah sambung. Telepon beberapa kali lagi, pasti akan ada kejutannya.”
“Apa?”
“Kamu adalah pahlawan yang sesungguhnya. Kamulah orang yang paling cocok untuk nomor telepon ini. Tentu saja, meskipun aku akui kamu adalah pahlawan, tidak peduli apa yang kamu katakan, aku … selama ini aku selalu beranggapan kalau diriku adalah yang benar. Penjara adalah tempat bagi orang berdosa, jadi selamanya aku tidak akan masuk ke sana.”
Aku membuka pintu utama klub. Di luar sana adalah dunia yang luas dan bebas.
Dia berkata terisak-isak, “Jangan jalan keluar … aku benar-benar akan tembak kamu … kamu tahu kalau aku tidak mungkin salah tembak. Kumohon, jangan lakukan hal yang bersalah padaku lagi.”
Aku berkata pelan, “Yudha … aku bersalah pada Marsela, bersalah pada Misel, tapi tidak pernah aku bersalah padamu.”
__ADS_1
Aku melangkah keluar dari pintu.
“Dor!”
Terdengar suara tembakan pistol.
Rasa sakit yang dahsyat membuat tubuhku kejang-kejang.
Aku menolehkan kepala dan memaksakan senyum sambil melihat Yudha.
Matanya membelalak dan ekspresinya terbengong.
Cahaya di parkiran mobil hanya melintas sekilas. Aku memakai baju Yudha dan topi bisbolnya tadi, lalu jatuh lemas di lantai.
Ada seseorang yang menghampiriku dan melepaskan topiku. Namun, dia tercengang saat melihat wajahku.
Dia adalah Philip Leo.
Itu adalah informasi terakhir yang Melly beritahukan padaku.
“Di tengah malam sebelum hari pernikahan, Farhan Permana yang selesai melakukan siaran langsung akan dibunuh oleh Philip Leo. Saat Farhan dan putrinya makan malam di luar, Philip menyelinap ke dalam rumah, lalu terus bersembunyi di bawah ranjang. Dia juga punya pistol. Kamu jangan bertindak gegabah.”
“Lalu saat acara pernikahan berakhir, Yudha akan mati karena ditembak oleh Philip yang bersembunyi di kegelapan. Philip akan ditangkap oleh aparat polisi, lalu mengaku atas semua tindakan kejahatannya. Tidak lama setelah itu, dia dijatuhkan vonis mati.”
“Saleh, aku benci kamu, tapi tidak jijik padamu karena aku tahu pilihan seperti apa yang akan buat. Jaga dirimu … Kakak.”
Aku melihat langit di belakang Philip.
“Dor! Dor! Dor!”
Tiga tembakan beruntun ditujukan pada badan Philip. Begitu dia jatuh ke lantai, akhirnya langit tidak lagi tertutupi.
Aku dapat mendengar Yudha sedang meneriakkan namaku sambil menangis.
Aku dapat mendengar suara langkah kaki panik yang sedang mendekatiku.
Tiba-tiba sepasang tangan yang hangat mengangkat kepalaku dan memelukku.
Wajah nan cantik itu dibasahi air mata. Dia terus memanggil namaku.
Cantik sekali …
Tidak peduli dilihat berapa kali, wajah ini juga tidak akan muak dilihat.
Rasa sakit membuat tanganku gemetaran. Perlahan aku mengulurkan tanganku pada Misel dan mengelus pipinya dengan pelan. Aku bergumam, “Marsela …”
Dia berkata sambil menangis, “Jangan tinggalkan aku … jangan tidur …”
“Bisakah aku … peluk kamu?”
__ADS_1
“Peluk aku … ayo peluk aku … jangan tidur …”
Sambil memeluknya, wangi lavender yang samar-samar di badannya terasa tidak asing bagiku.
Aku menelan ludah yang bercampur darah dan bergumam, “Aku … aku masih punya jalan lain … tapi aku tidak akan masuk penjara … aku tidak takut masuk penjara … tapi hari-hari tanpa kehadirannya … aku tidak kuat lagi walau hanya sehari pun …”
Sudah terlalu lama.
Aku sudah menunggu terlalu lama demi informasi yang terakhir ini.
Dengan bodohnya aku duduk melamun di rumah yang kosong. Dengan bodohnya aku duduk di kafe yang tanpa kehadirannya seperti mayat berjalan.
“Aku tidak akan berada di dalam makam …”
Bintang di langit bersinar dengan terang. Mungkin kesadaranku sedang memudar, aku melihat kalau bintang-bintang itu benar-benar sedang berkelap-kelip.
“Aku akan berubah menjadi bintang di langit yang menemanimu tidur sampai hari pagi.”
Angin di malam hari sangat dingin dan menerbangkan rambut Misel.
“Aku akan berubah menjadi angin sepoi yang meniupi wajahmu …”
Air mata Misel mengalir turun tak tertahankan dan menetes di wajahku.
“Aku akan berubah menjadi hujan mendadak yang membasahi badanmu …”
Ternyata itu benar …
Maut pun tidak dapat memisahkan kami. Aku bisa merasakan kehadiran Marsela.
Perlahan aku memejamkan mata. Sosoknya langsung muncul dalam benakku.
Dia tetap melipat tangan di belakang dengan usil, berjalan di jalanan yang sunyi dan melihatku sambil tersenyum.
Chiro menemani di sisinya sambil menggoyangkan ekor dengan girang.
Aku sudah tidak dapat mendengar suara siapa pun. Suara napasku menjadi berat. Namun, perkataan Marsela terus ternyiang dalam benakku.
“Sayang, di tempatku hujan deras … aku sangat rindu kamu.”
Sayang.
Aku memimpikan mimpi yang sangat mengerikan.
Aku mimpi aku kehilangan kamu.
Itu adalah mimpi yang sangat amat panjang.
Aku sangat rindu kamu …
__ADS_1
Gadisku.
(Tamat)