Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 55


__ADS_3

Si rambut hijau berkata dengan serius, “Aku benar-benar tidak mau pergi. Aku selalu ikut kamu melakukan hal-hal itu, juga tidak dapat seberapa banyak uang. Terakhir kali aku bahkan hampir mati. Sekarang aku hanya ingin bekerja sungguh-sungguh. Kalau tidak, aku tidak punya uang untuk pulang saat tahun baru nanti.”


“Dasar bodoh, jadi pekerja itu tidak ada masa depannya. Kalau kamu merasa curi anjing tidak bisa dapat banyak uang, aku bisa bawa kamu curi mesin penggerak. Aku tahu ada satu warnet yang tidak pernah mengunci mesin penggeraknya.”


“Mungkin menjadi pekerja memang tidak punya masa depan, tapi aku akan mati kelaparan kalau aku tidak bekerja. Aku lanjut kerja saja. Aku tidak mau mencuri lagi. Aku sangat takut pada orang yang kemarin dan tidak ingin menemuinya lagi.”


“Aduh, sudah kubilang. Kalau dia masih berani datang, aku pasti akan memukulnya sampai berlutut dan minta maaf. Kamu tidak percaya padaku?”


Si rambut hijau jelas tidak ingin berbicara panjang lebar dengannya. Dia memutar badan dan kembali ke pabrik. Kevin mengatainya payah, lalu pergi sendirian.


Kali ini dia tidak berjalan tanpa tujuan lagi.


Setelah keluar kota, dia pergi ke sebuah rumah sewa di desa. Omong-omong, hebat juga. Dia pergi ke sana dengan berjalan kaki. Aku mengikutinya berjalan selama empat puluh menit.


Kiranya dia juga tidak punya uang banyak. Dia tidak sanggup membayar uang sewa rumah di daerah perkotaan, maka dia menyewa rumah di pinggir kota.


Aku menunggunya di luar. Tidak lama kemudian, dia keluar sambil memegangi busur silang rakitannya sendiri dan mendorong keluar motor matic miliknya. Dia meletakkan busur silang rakitannya sendiri ke dalam tempat penyimpanan barang, lalu duduk di atas motornya.


Dia hendak mengendarai motor matic. Kalau seperti ini, aku pasti tidak bisa membuntutinya.


Aku memandang ke sekeliling dan melihat ada beberapa tukang buruh yang sedang duduk di motor matic di depan pabrik swasta di depan sana, sambil merokok dan mengobrol.


Aku menghampiri mereka, lalu berkata sambil menunjuk motornya. “Teman-teman, apa motor-motor ini punya kalian?”


Mereka mengangguk dan melihatku dengan heran. Aku berkata lagi, “Jadi begini. Aku punya urusan mendesak dan ingin beli satu motor dengan empat juta. Apa ada yang bersedia jual?”


“Empat juta untuk beli motor matic usang begini?” kata seseorang dengan kaget. “Kamu tidak bercanda?”


“Tidak. Aku benar-benar punya urusan mendesak.”

__ADS_1


“Oh, ambil saja kalau kamu punya urusan mendesak. Siapa yang tidak punya urusan mendesak? Nanti ingat kembalikan padaku … “ Dia melompat turun dari motornya dan berkata, “Kalau motor bekasku ini dijual, paling-paling juga ratusan ribu saja. Tidak etis kalau aku memeras uangmu di saat kamu punya urusan mendesak. Kamu pakai saja. Tadi malam aku baru cas baterainya.”


“Aduh, aku tidak enak hati. Kalau begitu aku bayar kamu dulu. Kalau aku tidak kembalikan motormu, anggap saja aku beli. Begini saja. Aku transfer empat juta dulu.”


“Aduh, motor bekas tidak semahal itu. Kamu beri satu juta dua ratus ribu saja. Pas aku juga ingin ganti motor. Satu juta dua ratus ribu sudah tidak sedikit.”


“Oke, terima kasih.”


Aku segera mentransfer uang padanya, lalu mengendarai motor matic-nya. Namun, Kevin sudah pergi jauh. Aku bergegas mengikutinya.


Tujuannya memang adalah desa di pinggiran kota.


Aku mengikutinya pergi ke desa. Seketika itu, Kevin mengincar seekor anjing yang diikat di luar rumah salah seorang warga.


Saat dia mengangkat busur silangnya, seorang pria berbadan kekar tanpa baju mengeluarkan kepalanya dari jendela lantai dua. Pria itu memaki sambil menunjuknya, “Kamu mau apa?”


Selesai memaki, dia mengendarai motor matic-nya ke jalan gunung. Aku mengikuti di belakangnya.


Dia baru merasa aman setelah sampai di hutan belantara di gunung. Dia memberhentikan motornya, lalu mengeluarkan rokok dari dalam sakunya.


Aku melihat ke sekeliling, memang tidak ada orang di sekitar. Di musim panas begini, ada tempat wisata di sekitar gunung, tetapi tidak ada yang mau berjemur matahari di siang bolong. Tidak ada juga yang akan mengendarai kendaraan ke tempat ini.


Jadi aku menambah kecepatan melaju ke arahnya. Kebetulan dia sedang menyalakan rokok. Lalu dia menghidupkan motornya setelah itu. Aku turun dari motor dan mencengkeram dudukan belakang motornya.


Dia yang baru menghidupkan motornya pun ditarik ke belakang olehku. Dia menolehkan kepala ke belakang dan matanya membelalak saat melihatku.


Aku berkata dengan kalem, “Dengar-dengar kamu sangat pandai bertarung?”


“Kamu mau apa?”

__ADS_1


Dia berseru dengan panik. Aku menjambak rambut ungunya dan menjatuhkannya di tanah.


Terdengar erangan kesakitan di dalam hutan. Dia jatuh di tanah. Aku menendang kepalanya dan berkata dengan suara dingin, “Kamu mau memukulku sampai berlutut dan minta maaf?”


“Sialan! Kamu cari mati ya?”


Kevin emosi sekali. Dia merangkak bangun dan melontarkan tendangan tinggi padaku.


Namun, kelenturan badannya tidak cukup sehingga tendangannya hanya sampai di pinggangku. Gerakannya menjadi lambat karena celana ketat yang dia pakai. Ini membuatnya tampak lucu.


Aku menendang kakinya yang lain. Dia kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh di tanah.


Dia ingin mengerang kesakitan, tetapi aku menginjak wajahnya dan membuatnya terbengong.


Aku mendesah dan berkata pelan, “Orang tua kamu membesarkanmu hingga sebesar ini, tapi apa yang telah kamu lakukan?”


Dia meronta dan ingin bangun. Aku juga tidak bermaksud untuk menahannya. Setelah dia merangkak bangun, dia mengepalkan dua tangan dan meninjuku.


Dengan tenang aku menghindari serangannya. Tiba-tiba aku meninju pipi kirinya. Dia kaget dan bergegas menutupi pipi kirinya. Namun, itu hanya serangan tipuan dariku. Aku langsung menampar pipi kanannya.


Plak!


Pipinya menjadi merah diiringi suara tamparan yang nyaring. Dia merasa sangat terhina dan memaki kata-kata kasar. Aku meninju wajahnya lagi.


Dia bergegas menutupi wajahnya. Lagi-lagi ini adalah serangan tipuan dariku. Lalu aku menendang perutnya.


Dia kesakitan sambil mendekap perutnya dan langsung berlutut di tanah.


Aku menjambak kepalanya dengan satu tangan dan berkata dengan suara dingin, “Eh … ini tidak benar, ‘kan? Dengar-dengar kamu sangat pandai bertarung?”

__ADS_1


__ADS_2