Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 76


__ADS_3

Dengan hati-hati perawat menggendong bayinya keluar. Dahi Wulan dibasahi keringat. Dia menoleh ke luar jendela dan berkata, “Suamiku suka bersenang-senang. Mentang-mentang keluarganya kaya, dia tidak pernah punya motivasi dan sering membuat keonaran. Namun, dia sangat baik padaku, juga sangat baik pada anak kami. Tidak peduli betapa gila dia bermain, kalau aku minta dia, dia akan pergi merawat anak dengan patuh … Dalam sebulan setelah melahirkan anak pertama, ibu mertuaku terus menyelimutiku dan melarangku terkena AC. Katanya takut aku masuk angin. Dia marah dan langsung bertengkar dengan ibu mertuaku.”


“Lalu?”


“Lalu ibu mertuaku menangis. Katanya setelah membesarkan putranya sampai sebesar ini, pertama kalinya Joni bertengkar parah dengannya. Ibu mertuaku bilang Joni mementingkan istri di atas ibunya sendiri. Lalu suamiku juga menangis di sampingku. Dia bilang dia sayang aku, tapi takut ibunya sedih. Dia selalu seperti itu. Dia tidak hanya berbakti, juga memperlakukan aku dengan baik. Di saat baik padaku, dia juga peduli terhadap ibunya. Dua tahun setelah menikah, sama sekali tidak ada konflik di antara aku dan ibu mertuaku karena setiap kali ada masalah, dia selalu memikul tanggung jawab sendiri.”


“Tidak kelihatan ya.”


“Dia sangat sayang aku. Merawat anak adalah tugas yang sangat susah. Bayi selalu minum susu di tengah malam, jadi aku akan menyimpan ASI aku sendiri. Lalu dia akan memakaikan headset padaku. Begitu bayi menangis, dia langsung bangun dan khawatir akan membangunkanku.”


“Iya, dia lumayan baik padamu.”


“Saat dia kecelakaan karena menyetir dalam keadaan mabuk, aku memarahinya dan memukulnya dengan keras. Dia berdiri diam di tempat dan membiarkan aku memukulnya. Lalu dia menangis karena takut akan dianiaya setelah masuk penjara. Sebenarnya aku juga takut. Suamiku suka berbohong untuk terlihat hebat, tapi sebenarnya dia sangat penakut. Kalau ada kecoa di rumah, dia bahkan akan datang padaku dan berteriak minta tolong agar aku melindungi dia.”


“Awalnya dia tidak akan mati, tapi setelah itu dia tetap menyetir dalam keadaan mabuk. Saat aku pergi cari dia, awalnya aku memberi dia kesempatan agar menjadi orang yang baik, tapi dia tidak dengar. Sebenarnya aku tidak pernah berpikir mau dia mati, tapi dia lompat sendiri. Aku merasa tidak pantas untuk mengorbankan hidupku untuk dia.”


“Iya, dia benar-benar sangat bodoh dan selamanya tidak akan jera. Dia terlalu dimanjakan oleh keluarganya. Namun, orang bodoh itu juga memiliki hal yang membuatku peduli padanya. Tidak peduli betapa payahnya seseorang, sebenarnya selalu ada orang yang peduli pada mereka. Bagaimanapun aku bukan orang luar. Aku tidak dapat bersorak atas kematiannya seperti orang lain. Dalam benakku penuh dengan kenangan masa lalu tentang kebaikannya padaku. Aku mencintai orang yang sangat payah. Aku juga tahu dia sangat payah, tapi hatiku bukan terbuat batu. Bagaimana bisa aku melupakannya begitu saja?”


Aku merapatkan bibirku.


Satu mati, lalu satu lahir.


Kematian dan kelahiran.

__ADS_1


Nyawa sangatlah berharga.


Jika dulu Joni tidak menyetir dalam keadaan mabuk untuk kedua kalinya, kehidupannya tidak akan menjadi seperti ini.


Wulan mengendus hidungnya dan berkata, “Sebelumnya sudah sekian lama kamu bersembunyi, mengapa tiba-tiba kamu bawa aku pergi mencarinya?”


“Aku tidak ingin beritahukan jawabannya.”


“Aku tetap akan lapor polisi agar kamu ditangkap, tapi ada hal yang sudah lama seharusnya kukatakan padamu …” katanya. “Maaf. Meskipun ini tidak dapat mengubah apa-apa, kami … kami bersalah padamu.”


Aku jawab, “Terserah. Aku juga telah melakukan hal yang bersalah padamu.”


Tidak ada lagi yang bisa kami bicarakan. Aku berbalik badan dan pergi karena tidak ada yang patut dibicarakan lagi di antara kita.


Setelah keluar dari rumah sakit, aku masuk ke dalam mobil. Aku tidak tahan untuk melirik tempat di mana istriku duduk ketika dulu dan berkata pelan, “Akhirnya dia minta maaf dengan sungguh-sungguh, tapi sebenarnya aku … tetap benci mereka.”


Lokasi pernikahan Misel adalah di klub pribadi di perkotaan.


Keluarga Agus sangat buru-buru dalam pernikahan ini. Namun, bagaimana mungkin resepsi pernikahan dapat dipesan dengan semudah itu?


Untung keluarga mereka kaya dan pamannya Agus punya klub pribadi. Jadi acara pernikahan mereka diadakan di klub itu, serta mereka sudah mengundang koki.


Saat aku sampai, aku melihat ada banyak mobil yang sudah parkir di depan klub pribadi. Di depan pintu masuk terdapat foto pengantin Agus dan Misel.

__ADS_1


Ada juga satu kalimat di foto pengantin itu: “Agus Wongso LOVE Misel Patrisia … Selamat datang di acara pernikahan kami.”


Lalu aku masuk ke dalam klub. Di dalamnya ada koridor yang panjang, lalu ada pintu besar lagi di ujungnya. Klub ini sungguh megah.


Kedua sisi koridor penuh dengan dekorasi bunga. Foto pengantin Agus dan Misel digantung di dinding. Setiap bingkai fotonya dibuat dengan indah. Agus benar-benar rela menghabiskan uang untuk Misel.


Aku menghampiri meja resepsionis. Lalu staf berkata padaku dengan sungkan. “Halo, siapa namamu? Kerabat dari pengantin pria atau dari pengantin wanita? Mau kasih berapa uang kondangannya?”


Aku jawab, “Kerabat dari pengantin wanita, Saleh Zulsafah. Uang kondangannya empat ratus juta.”


Staf pencatat keuangan pun terbengong. Dia mendongakkan kepalanya dan melihatku dengan bengong. Suaranya juga sedikit berubah nada, “Berapa?”


Aku jawab, “Empat ratus juta, apa bisa gesek kartu?”


“Bisa … bisa gesek dari mesin EDC klub kami.”


“Oke, gesek kartu.”


Aku mengeluarkan kartu ATM untuk menggesek kartu. Lalu ada pesan masuk di ponselku : “Nomor rekening Anda dengan 4 digit belakang berupa 5412 telah melakukan transaksi sebesar Rp 400.000.000 pada pukul 15:33.”


Beberapa staf pencatat keuangan melihatku dengan bengong. Pada akhirnya, mereka bergegas mencatat pemberian uang kondangan terbesar ini di baris paling atas.


Lalu aku membuka pintu lagi dan masuk. Agus sedang mengajari para pelayan harus melakukan apa pada saatnya nanti. Begitu melihatku, dia bergegas berkata, “Kakak ipar, kamu sudah datang? Misel ada di ruang tata rias sementara, di sebelah sana … dia bilang langsung cari dia saja kalau kamu sudah datang.”

__ADS_1


Aku mengangguk. Sebenarnya aku lumayan asing terhadapnya. Aku merasa tidak begitu terbiasa saat dipanggil kakak ipar olehnya.


Dia menunjuk pintu aula acara. Benar saja, ada sebuah ruang terpisah di sana.


__ADS_2