
Setelah mencetak foto, aku pergi ke kantor polisi. Di tengah jalan, Yudha mengirimkan pesan padaku : “Bisa tidak bantu aku rayu Misel? Dia terus tidak mengangkat teleponku.”
Aku membalas pesan : “Ingin berbaikan setelah menolak lamaran dari gadis, kamu benar-benar pria bajingan.”
Sesampainya di kantor polisi, aku memberikan foto-foto Fino pada resepsionis.
Saat aku keluar, ada sedikit kegaduhan di luar kantor polisi.
“Kenapa? Kenapa tidak tangkap dia? Jelas-jelas dia adalah orang jahat!”
“Kami bahkan sudah bawa dia ke kantor polisi, tapi kalian tidak mau tangkap dia?”
Aku kebingungan mendengarnya, maka dengan penasaran aku pergi ke sana. Ternyata ada beberapa orang yang sedang ribut di depan pintu.
Lebih tepatnya dua gadis itu yang sedang bertengkar. Wajah mereka merah padam saking marahnya. Ekspresi mereka tampak emosi.
Seorang polisi berdiri di samping mereka dengan ekspresi tidak berdaya.
Selain mereka bertiga, ada seseorang yang bersandar malas di dinding. Rambut ungunya tampak sangat mencolok di bawah cahaya matahari. Ada bekas luka yang tipis di wajahnya.
Kevin Tanaka!
Aku membelalakkan mata dan menatap lurus padanya. Polisi itu berkata dengan tidak berdaya, “Kami benar-benar tidak berhak tangkap dia karena dia tidak melanggar hukum.”
“Dia itu orang jahat!”
“Aku akui perbuatannya tidak bermoral, tapi dia memang tidak melanggar hukum.”
__ADS_1
Akhirnya aku paham setelah mendengar pertengkaran mereka.
Dua gadis itu akan melewati sebuah jembatan layang setiap kali mereka berangkat kerja.
Suatu hari hujan deras, maka mereka berteduh hujan di bawah jembatan layang. Tiba-tiba mereka mendengar suara erangan.
Ada semak-semak di bawah jembatan layang. Seekor anjing betina dan tiga anaknya tinggal di sana.
Anak anjing baru dilahirkan belum lama yang lalu, bahkan matanya belum terbuka. Awalnya mereka lumayan takut. Anjing dan kucing akan menjadi sangat galak setelah menjadi ibu, demi melindungi anaknya sendiri.
Akan tetapi, anjing betina ini berbeda. Dia sangat ramah walau sedang dalam masa menyusui. Saat mereka memberanikan diri untuk mengelus anak anjing, anjing betina hanya mengulurkan kepalanya untuk menjilat tangan mereka.
Seketika hati mereka luluh. Mereka ingin memelihara anjing-anjing ini. Namun, sekarang anjing betina sedang dalam masa menyusui sehingga mereka tidak berani sembarangan membawa anjing-anjing ke lingkungan yang asing. Jadi setiap hari mereka datang untuk memberi makan pada anjing-anjing. Mereka menjadi semakin akrab dengan anjing-anjing ini.
Namun, hari ini saat berangkat kerja, mereka ingin pergi menengok anjing-anjing ketika melewati jembatan layang. Akan tetapi, mereka mendengar erangan histeris.
Setelah mereka berlari ke bawah, mereka melihat Kevin melilit kepala anjing betina dengan kawat, lalu mencekiknya mati di hadapan tiga anak anjingnya.
Polisi mendesah dan berkata, “Itu anjing liar, bukan anjing kalian. Kalau kalian membawanya pulang dan mengambil tanggung jawab sebagai majikannya, anjing ini adalah milik kalian. Kalau kalian bawa dia ke sini dalam keadaan seperti itu, dia baru terhitung sebagai merusak harta milik orang lain. Namun … itu adalah anjing liar!”
“Iya, aku hanya membantu membasmi hama untuk masyarakat … “ Kevin tetap berlagak preman. “Memangnya kenapa kalau aku bunuh anjing liar? Aku takut kelak dia akan sembarangan gigit orang. Jadi aku menegakkan keadilan dan membunuhnya. Polisi tidak hanya tidak tangkap aku, sebaliknya harus memberiku penghargaan!”
Polisi itu berteriak dengan marah, “Diam saja! Anjing itu tidak tinggal di kawasan perkotaan, juga tidak mengganggumu. Belum pernah aku menemui orang yang begitu tidak tahu malu sepertimu!”
Kevin langsung membelalakkan matanya. “Kamu ini polisi, kenapa kamu marahi aku?”
Polisi itu tidak bisa menahan emosinya. Pada akhirnya dia hanya bisa berkata, “Aku minta maaf atas kekasaran tutur kataku.”
__ADS_1
Kedua gadis itu tampak enggan menerimanya. Namun, Kevin sudah pergi dengan sombong. “Kelak jangan asal cari polisi. Jangan menyia-nyiakan sumber daya masyarakat yang berharga.”
Dia tidak menyadariku. Dia berjalan keluar dengan santai, lalu aku membuntutinya.
Akhirnya aku menemui dia di tengah lautan manusia.
Aku sudah bersumpah pada Chiro bahwa aku akan membalas dendam!
Sepertinya Kevin memang tidak punya kesibukan. Dia hanya berjalan tanpa tujuan di pagi hari begini.
Aku terus membuntutinya. Dia mencari kursi pinggir jalan yang cukup bersih dan duduk di sana sambil main ponsel. Terkadang dia akan melirik gadis yang berjalan lewat. Lalu dia lanjut duduk di sana.
Sesekali dia merokok. Terkadang dia akan merogoh sebungkus rokok Surya seharga dua puluhan ribu dari saku kirinya, tetapi pada akhirnya tidak rela dirokok. Dia mengendusnya di bawah hidung, lalu memasukkannya ke dalam saku. Dia mengeluarkan rokok Forza seharga belasan ribu dari saku kanannya, lalu merokoknya dengan senang.
Dia duduk di kursi itu dan bermain ponsel selama hampir dua jam.
Pada akhirnya, dia berdiri dan pergi ke jalanan yang penuh dengan pabrik swasta. Di bawah matahari terik, para tukang buruh sedang bekerja di rumah renovasi dengan pencahayaan redup. Kipas angin listrik besar sedang mengirimkan angin ke dalam. Si rambut hijau yang dia temui sebelumnya sedang fokus mengasah pisau mesin di sebuah pabrik.
Kevin berteriak beberapa kali. Si rambut hijau tidak mendengarnya karena sedang mengasah pisau. Sesaat kemudian, dia mematikan mesin dan akhirnya mendengar panggilan Kevin.
Dia berjalan keluar. Lalu Kevin bertanya, “Ayo cari uang?”
“Tidak, tidak … “ kata si rambut hijau sambil menggelengkan kepala. “Aku sudah kerja di sini, sudah setengah hari.”
Kevin berkata dengan jengkel, “Berhenti saja. Lagi pula masih ada besok. Ayo nanti malam pergi ke tempat ski, ada adik-adik cantik.”
Si rambut hijau berkata, “Aku benar-benar tidak mau pergi. Terakhir kali sangat mengagetkan. Aku hampir menabrak mati orang itu.”
__ADS_1
Kevin berkata dengan tidak berdaya, “Itu idiot, kamu tahu? Jangan takut. Waktu itu aku tidak ingin membuat keonaran, hanya ingin memeras uangnya. Siapa sangka polisi bantu dia. Kalau ketemu lagi, akan kupukul dia sampai berlutut dan memohon ampun. Aku sangat pandai bertarung. Sudah, jangan lanjut kerja lagi. Nanti malam aku punya rokok.”
Tiba-tiba dia mengeluarkan rokok dan menggoyangkannya. Tidak heran tadi dia tirak rela merokok. Ternyata demi pamer di depan teman-temannya nanti malam. Dalam pandangannya, mampu merokok adalah hal yang sangat dibanggakan.