Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 53


__ADS_3

Namun, sekarang … aku merasakan ketakutan yang sulit dideskripsikan.


Dalam rumah seluas 115 meter persegi yang kosong ini sangat hening, hanya bisa mendengar suara napasku sendiri. Jika didengar dengan saksama saat telingaku ditempelkan di sofa, aku dapat mendengar denyut nadi dari pembuluh darahku. Suaranya “tik, tak” seperti jarum jam yang sedang bergerak.


Aku tidak bisa tidur. Tidak peduli bagaimanapun juga tidak merasa mengantuk.


Ketakutan yang amat kuat membuatku meringkukkan badanku. Aku mencoba untuk memeluk bantalku dengan erat sambil mendengarkan pesan suara istriku berulang kali.


“Sayang, di sini hujan deras, aku rindu kamu … “


“Sayang, di sini hujan deras … “


Aku mendengarnya berulang kali. Suaranya menggema di ruangan yang kosong ini.


Ternyata rumahku begitu besar.


Ternyata rumahku begitu hening.


“Mengapa hanya tinggal aku sendiri … “ aku bergumam sambil memegangi ponselku, “Mengapa kalian semua pergi ke alam sana dan hanya meninggalkan aku di sini? Apa Chiro sudah sampai di sisimu? Apa dia masih bermanja di kakimu?”


Sayangku …


Di sini sangat hening, aku takut sekali.


Sebenarnya aku sangat takut gelap, aku tidak suka tidur sendirian.


Aku benci ada suara yang akan merambat sampai jauh di dalam ruangan, tetapi sama sekali tidak ada jawabannya.


Kelak siapa yang akan menemaniku untuk merindukanmu … kelak saat aku membuka mataku, harapan apa yang harus kumiliki untuk memaksa diriku sadar dan menerima dunia yang tanpa dirimu ini?


Jelas-jelas kita sudah sepakat.


Maut pun tidak akan bisa memisahkan kita.


Aku tidak tidur semalaman. Tidak peduli apa yang kupikirkan, aku tetap tidak bisa tidur. Kepalaku jernih, tetapi aku kehilangan kemampuan untuk merasakan hidupku.

__ADS_1


Pagi ini aku pergi ke rumah sakit dan membawakan makanan untuk Yudha.


Suasana hatinya belum membaik. Dia duduk di ranjang dan makan sarapan bersamaku. Mungkin karena melihat lingkaran hitam di mataku, dia bertanya, “Tadi malam kamu tidak tidur? Apa hatimu tidak tenang tanpa Chiro?”


Aku menjawab dengan pelan, “Apa hubungannya denganmu?”


Setelah hening sejenak, dia bertanya, “Aku pindah dan tinggal bareng kamu saja?”


Aku menggelengkan kepala sambil berkata, “Tidak perlu.”


Dia menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Sepertinya Misel masih marah denganku. Tadi pagi aku telepon, tapi tidak dia angkat. Lalu aku telepon dua kali lagi, tapi dia tolak. Dulu saat kami bertengkar, paling-paling satu malam dia sudah kembali tenang dan ceria seperti biasanya.”


Aku menjawab, “Ini mencerminkan keseriusannya kemarin, juga membuktikan kesadisan dan kekejamanmu.”


Tiba-tiba dia berkata, “Fino sudah tiada. Mungkin kamu tidak ingat siapa dia. Sebelumnya saat kamu masuk rumah, dia pernah datang berkunjung.”


“Aku ingat dia.”


“Bisa tidak kamu bantu aku?”


“Bantu apa?”


Aku berkata, “Langsung menyimpan folder di desktop, kamu benar-benar tidak seperti pria normal.”


Dia tersenyum pahit dan pada akhirnya berkata, “Dalam waktu dekat aku tidak bisa ketawa walau mendengar lelucon.”


“Sayang sekali, aku tidak sedang bercanda. Aku benar-benar sedang mengkritikmu.”


Aku mengambil kuncinya. Setelah membantu mengemas bangsalnya, aku pergi keluar.


Sesampainya di rumah Yudha, aku baru sadar ini tidak sesederhana seperti yang kupikirkan.


Misel adalah gadis yang blak-blakan, serta bersantai-santai di rumah. Seperti yang diam-diam Yudha keluhkan pada kami, jika dia tidak mengemas rumah, Misel bahkan bisa membiarkan semangkuk mie sampai membusuk.


Rumah mereka selalu berantakan. Hanya ada beberapa tempat yang selalu rapi, yaitu dinding foto mereka. Isinya adalah kenangan mereka.

__ADS_1


Namun, saat ini … semua fotonya dirobek.


Seluruh foto bersama di dinding dirobek menjadi dua sampai hanya tersisa foto Yudha sendiri.


Aku pun tersenyum sedih. Misel benar-benar marah.


Aku membuka laptop dan mengklik folder-nya.


Isi folder itu adalah foto anggota reskrim regu dua di mana mereka sedang melaksanakan misi, saat pelatihan, serta saat makan bersama dan aktivitas lainnya.


Yudha selalu duduk di bagian tengah di dalam foto. Semua orang suka mengelilinginya dan Fino selalu berada di sisinya.


Kebanyakan orang di foto sudah terpisahkan dari Yudha oleh maut.


Ada satu foto di mana Fino mendapatkan lencana penghargaan. Yudha sendiri membantu merapikan lencananya.


Fino tersenyum dengan sangat ceria dan wajahnya berseri-seri. Namun, senyumannya tidak berlangsung lama. Foto berikutnya adalah setiap anggota tim reskrim regu dua yang menggantung lencana masing-masing. Mereka tidak membawa pulang penghargaan mereka, melainkan membuat sebuah dinding penghargaan.


Di dalam foto, ada banyak lencana yang digantung di bawah nama Yudha. Fino sedang memegangi satu-satunya lencana yang dia miliki. Senyumannya berubah menjadi kejengkelan.


Folder itu tidak hanya berisikan foto, tetapi juga video-video.


Aku memutar videonya. Kameranya sangat kacau, sepertinya direkam sendiri oleh rekan tim reskrim regu dua.


Yudha sudah menggantung lencananya. Lalu dia menepuk bahu Fino dan menyuruhnya lanjut berusaha lagi.


Fino berkata, “Sudah, Kapten. Jangan terus merangsangku lagi. Cepat atau lambat aku akan mendapatkan penghargaan yang lebih tinggi darimu, bahkan yang belum pernah kamu miliki.”


Ada yang berkata di dalam video, “Jasa penghargaan yang lebih besar dari Kapten Yudha? Jadi kamu mau gugur?”


Yudha langsung menolehkan kepala dan berkata pada sang perekam video dengan tegas, “Jangan omong kosong!”


Gurauan mereka yang dulu, kini menjadi kenyataan.


Mungkin kali ini Fino benar-benar akan mendapatkan penghargaan yang lebih tinggi dari Yudha.

__ADS_1


Sayangnya, dia tidak dapat menyaksikan momen tersebut dengan matanya sendiri.


Aku mengambil usb milik Yudha dan memasukkan foto-foto Fino ke dalamnya. Lalu, aku pergi ke toko fotokopi.


__ADS_2