Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 41


__ADS_3

Aku tersenyum pahit dan berkata, “Oke, aku janji. Aku akan selamat.”


“Aku kirim pesan ke kamu. Kamu lihat sendiri.“


Aku menerima pesan dari Melly. Aku melihatnya dengan tenang sampai pesan itu menghilang.


Lalu aku menyimpan ponselku. Aku tahu aku sudah harus berangkat.


Saat aku keluar dari gang, tiba-tiba ada lampu yang menyala dan membuatku tidak bisa membuka mata karena silau.


Itu adalah lampu mobil Yudha!


Dia turun dari mobil dan menghampiriku. Dia berkata dengan suara dingin, “Ternyata kamu memang ada di sini.”


Hatiku terkejut. Aku berkata sambil merendahkan suara, “Aku kira aku sudah kabur darimu.”


“Tidak susah untuk memperkirakan rute pelarianmu. Dengan liciknya kamu bisa kabur setelah kerap kali melakukan aksi kriminal, artinya kamu memiliki kesadaran anti-pengintaian dan psikologis yang kuat. Pelaku kriminal yang lain akan kabur tanpa tujuan yang jelas, tapi kamu bukan begitu. Aku hanya perlu menenangkan diri dan memperkirakan rute pelarianmu yang akurat, lalu menunggumu di sini.”


Aku bertanya, “Kamu taruhan … memangnya tidak takut salah?”


Dia menjawab, “Walau peluang untuk menangkap pelaku kriminalnya sangat kecil, aku juga tidak akan menyerah.”


“Kamu tidak mengejar buronan itu, malah menangkapku?”


“Aku sudah beri tahu rekan yang lain. Aku punya alasan untuk menangkapmu, jadi aku bisa membuktikan kebenaran temanku.”


Setelah terdiam sejenak, aku berkata, “Bagaimana kalau begini? Aku bantu kamu tangkap orang yang tidak bisa kamu tangkap.”


Dia merogoh pistol dan mengarahkannya padaku sembari berkata dengan suara dingin, “Aku tidak mau berdebat denganmu. Sekarang cepat jongkok di bawah dengan tangan di kepala. Kali ini tidak sama dengan yang sebelumnya. Tidak ada orang lain di sisimu. Peluru ini juga tidak akan melesat.”


Saat melihat moncong pistol yang gelap itu, entah mengapa tiba-tiba aku tidak merasa gugup lagi.


Sebelumnya aku sedikit gugup saat menghadapi penjahat bersenjata. Namun, sekarang aku sama sekali tidak merasa takut ketika menghadapi pistolnya Yudha.


Aku memasukkan kedua tangan ke dalam saku, lalu berkata, “Kamu tahu tidak? Mati bukanlah hukuman bagiku. Pistolmu tidak bisa menakuti mereka yang tidak punya semangat hidup lagi. Jadi kamu akan dipukul.”

__ADS_1


Dia mengerutkan alis dan berkata, “Apa yang sedang kamu bicarakan? Angkat tanganmu! Sekarang juga!”


Sebelum dia selesai bicara, aku merogoh serbuk besi yang tadinya kukantongi dan melemparkannya dengan kuat ke wajah Yudha.


Dia tidak menyangka aksiku akan secepat ini. Matanya kelilipan serbuk besi dan dia menembak dengan panik. Namun, aku sudah menghindar.


Seketika itu, dia memegang erat pistolnya dengan dua tangan, lalu aku meninju perutnya.


Dia mengerang kesakitan, tetapi membuka matanya sambil menahan rasa sakit. Dalam sekejap, dengan cepat dia melepaskan magasin dan melemparkannya dengan kuat.


Aku meliriknya dengan rasa kagum. Dia selalu sangat berhati-hati dalam bertindak. Aksinya ini adalah karena khawatir aku akan merampas pistolnya dan membahayakan masyarakat.


Saat aku beraksi, dia tidak berniat untuk melakukan pertahanan dan rela dipukul. Reaksi pertamanya adalah tidak boleh membiarkan penjahat mengambil pistolnya.


Dia hampir muntah karena ditinju olehku. Dia memutar badan dengan terhuyung dan meninju ke arahku.


Akan tetapi, aku sudah mengambil aksi lebih dulu. Sebelum dia sempat meninjuku, aku menangkis tinjuannya dan meninju wajahnya.


Dia tidak jatuh, dan aku juga tidak berhenti.


Kunci dari tinjuan beruntun adalah tidak boleh meninju lurus ke depan. Saat orang awam melakukannya, mudah sekali membuat tinju menjadi semacam permainan.


Tinjuan beruntun harus memiliki kurva. Saat menyerang lawan, tinjuan dilontarkan dengan bantuan kurva tersebut. Ketika melontarkan tinjuan kanan, tinju kiri ditarik kembali mengikuti pergerakan tubuh. Ketika melontarkan tinjuan kiri, tinju kanan akan ditarik kembali. Kedua bahu dan pinggang merupakan faktor pendukung dalam melontarkan tinjuan atau menariknya kembali.


Hanya tinju seperti ini yang akan cepat dan bertenaga.


Benar, aku tidak bermaksud untuk menyimpan tenaga.


Dalam sekejap, Yudha dikalahkan olehku. Dia kewalahan dan hanya bisa melindungi kepalanya dengan dua tangan.


Saat dia melindungi kepalanya, aku menyerang pinggangnya.


Saat dia melindungi pinggangnya yang sakit, aku menyerang perutnya dengan lututku.


Saat dia melindungi perutnya, aku meninju wajahnya.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak mampu melawan.


Akhirnya dia jatuh di lantai. Saat ini, dari jauh terdengar sirene mobil polisi di kedua ujung jalanan.


Aku mengerutkan alis. Sirene mobil polisi semakin dekat dan tiba-tiba berhenti. Sepertinya mereka sudah memblokade jalan keluar di kedua ujung jalanan.


Aku langsung masuk gang, tetapi juga terdengar sirene mobil polisi di dalam sana. Seketika aku kehilangan arah.


Aku menarik napas dalam-dalam dan berkata sambil merendahkan suara, “Jadi aku dikepung?”


Dia merangkak bangun dengan susah payah dan mengadang di depan gang, menghalangi jalan keluarku.


Napasnya terengah-engah. Aku mendesah, “Kamu jelas bukan lawanku, masih mau bertahan sampai titik darah penghabisan?”


Dia batuk beberapa kali dan akhirnya napasnya kembali stabil. Lalu dia memuntahkan liur darah ke lantai. “Aku memang bukan lawanmu, huh … huh … kalau kamu ditangkap, dia akan selamat. Kalau kamu kabur, aku pun malu untuk menghadapinya lagi.”


Aku berkata dengan tenang sambil melihatnya, “Kamu memang baik hati. Pernah tidak kamu kepikiran orang lain akan jengkel padamu?”


Dia berkata sambil terengah-engah, “Aku tidak boleh kalah … “


Aku mendesah sambil melihatnya.


Dasar bodoh.


Aku juga tidak boleh kalah. Kalau aku kalah di sini, siapa yang bisa melindungimu?


Aku berusaha mendengarkan arah keberadaan mobil-mobil polisi, tetapi tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


Ada terlalu banyak gang sehingga aku tidak tahu aparat kepolisian telah memblokade gang mana saja. Namun, aku tahu betul ini adalah pengaturan Yudha. Ini artinya peluangku untuk kabur saat ini sangat kecil.


Aku hanya bisa berjuang!


Aku berjalan ke dalam gang dan ingin mencari tempat untuk mengamati keadaan di sekitar. Namun, dia sama sekali tidak ingin membiarkanku pergi. Tiba-tiba dia menerjang kemari dan memeluk pinggangku.


Dengan kuat aku menyodok punggungnya dengan siku. Dia merintih kesakitan, tetapi memelukku dengan lebih kuat.

__ADS_1


__ADS_2