Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 71


__ADS_3

Anak perempuan itu terus menangis sambil mengerutkan bibirnya, sungguh memilukan hati orang.


Kalau putriku bisa tumbuh hingga sebesar itu, mungkin hatiku akan hancur saat dia menangis.


Tiba-tiba Jenni melambaikan tangannya di depan mataku. Dia berkata, “Mengapa kamu bisa gagal? Rekanku bilang tusukan itu sama sekali tidak mengenai titik rentannya. Dengan kemampuanmu, bagaimana mungkin kamu gagal dalam hal ini? Aku juga pernah melihat aksimu. Jelas-jelas kamu lebih gila dari siapa pun.”


Aku memeluk boneka bintang dan mengelusnya dengan pelan.


Melihatku tidak menjawab, Jenni berkata, “Awalnya semua orang sangat mengagumi kamu, tapi sekarang sebagian besar orang sedang memaki kamu. Apa ada yang ingin kamu katakan?”


Aku mendesah dan berkata, “Aneh sekali … mengapa ketika orang jahat yang membuat kesalahan memiliki latar belakang yang patut dikasihani, semua orang akan berbaik hati dan mengampuni mereka atas nama para korban? Dosa adalah dosa, kejahatan adalah kejahatan. Semua orang di dunia ini punya kesulitan hidup masing-masing. Hanya karena patut dikasihani, maka dia bisa berkuasa di atas moral dan merusak kebahagiaan orang lain?”


Dia terbengong. Pada akhirnya dia berkata, “Semua orang itu bijaksana.”


“Iya. Semua orang hanya peduli akan kebijaksanaan yang ada di depan mata. Apakah mereka melihat bagaimana Fino meninggal?”


“Pada dasarnya, Fino juga bukan dibunuh oleh Farhan …” katanya dalam bisikan. “Maaf, aku tahu aku tidak seharusnya membantah kamu. Aku benar-benar sangat peduli padamu. Kalau kamu tidak suka mendengarnya, aku tidak akan katakan lagi … aku hanya merasa kali ini sepertinya kamu sudah berubah. Sebenarnya apa yang telah terjadi?”


Aku tidak menghiraukannya.


Melihatku masih tidak menjawabnya, dia mencoba untuk mencari topik, “Omong-omong, di mana anjingmu yang waktu itu bisa buka pintu?”


Aku menunjuk kotak abu jenazah, lalu dia terdiam.


Pada akhirnya, dia menghela napas berat. “Apa ada yang ingin kamu katakan pada mereka? Aku bisa membuat wawancara khusus secara rahasia. Aku tidak mau mereka menghina kamu. Kamu bisa menjelaskannya …”


Aku meregangkan badan dan berkata pelan, “Tidak perlu. Dari tujuh miliar penduduk dunia ini, sudah tidak ada orang yang pantas untuk aku beri penjelasan … orang yang benar-benar kusayangi sudah tidak bisa mendengarku lagi.”


Dia menundukkan kepalanya dan berbisik, “Dalam matamu hanya ada dia.”


Di layar TV, tiba-tiba wartawan berita berkata lagi, “Kali ini kami tidak hanya mewawancarai Pak Farhan. Ada pula Nyonya Wulan yang berinisiatif untuk menghubungi tim acara. Dia juga ingin menyuarakan isi hatinya pada kita … Sekarang mari kita alihkan kameranya pada Erick.”

__ADS_1


Muncul sebuah wajah yang tidak asing di layar TV.


Ibu hamil itu … adalah istrinya Joni Lasmana.


Dia duduk di kursi sambil menyeka air matanya. “Suamiku pasti juga dibunuh oleh pemburu kriminal … sudah sekian lama dia hilang. Aku telah lapor polisi, tapi sampai sekarang juga tidak berhasil ditemukan. Pemburu kriminal adalah sampah masyarakat! Dia membunuh suamiku! Temanku yang bekerja di kantor polisi sudah beri tahu aku, katanya kemungkinan besar suamiku telah dibunuh olehnya!”


Aku tidak tahan untuk tertawa.


Sudah saatnya aku pergi mencari dia.


Ini barulah dinamakan berpikir dari sudut pandang orang lain.


Akhirnya Jenni tidak mau lanjut menonton TV lagi. Dia mematikannya, lalu tiba-tiba berkata, “Tidak peduli bagaimana semua orang mengomentari kamu, terserah apakah kamu peduli akan pendapatku atau tidak, aku pun ingin bilang padamu … aku akan memercayai kamu selamanya. Nyawaku ini diselamatkan olehmu. Tidak peduli apa yang telah kamu lakukan, aku tetap akan percaya padamu!”


“Iya, terima kasih. Aku berencana pergi keluar, bisakah kamu temani aku?”


“Pergi ke mana?”


Dia tidak tahan untuk bertanya, “Apa aku tidak bisa tunggu kamu di sini saja?”


“Tidak bisa, aku mau bersih-bersih.”


“Kalau begitu aku bisa bantu kamu.”


“Aku tidak ingin seorang pun menyentuh segala sesuatu di dalam rumah ini.”


Setelah duduk melamun di sofa selama sejenak, pada akhirnya dia berdiri dengan ekspresi sedih dan pergi keluar.


Aku tidak mencegatnya. Setelah dia pergi, aku mulai bersih-bersih rumah.


Aku mengelap setiap ubin dan jendela rumah sampai bersih tak bernoda.

__ADS_1


Setelah membersihkan rumah, dengan hati-hati aku merapikan barang-barang. Kemudian, aku menurunkan foto istriku dan mengelapnya beberapa kali.


Dia tidak suka lingkungan yang kotor. Aku masih ingat …


Akhirnya rumahku kembali seperti semula seakan telah dibersihkan oleh istriku. Lalu aku mengelap kotak abu jenazah Chiro.


Setelah itu, aku berganti pakaian dan pergi keluar sambil memeluk kotak abu jenazah Chiro.


Begitu aku membuka pintu, aku langsung mendapat panggilan telepon dari Misel. Dia berkata, “Kakak ipar, hari ini adalah hari pernikahanku. Ingat harus dandan baik-baik ya, jangan sembarangan.”


“Iya, pasti. Aku sudah ganti kemeja putih.”


“Ppff … kamu formal sekali. Omong-omong, bisakah kamu datang lebih awal? Waktu resepsinya jam 5 sore. Aku harap kamu bisa datang lebih awal.”


“Kenapa?”


“Aduh! Jangan tanya, pokoknya datang saja!”


Aku tidak tahu ide apa lagi yang dimilikinya, tapi aku tetap berkata, “Baik, aku tahu.”


Setelah mengakhiri panggilan telepon, aku menoleh ke belakang pada rumah di mana aku hidup bersama dengan istriku.


Rumah kami sudah sangat bersih.


Gordennya dibuka sehingga cahaya matahari menyinari ruang tamu.


Aku ingat dulu saat aku ingin pergi ke rumahnya untuk melamar istriku, Almira mengajukan persyaratan padaku untuk harus memiliki satu rumah. Kalau tidak, dia tidak akan menyerahkan putrinya padaku.


Waktu itu aku masih miskin, bahkan tidak mampu membeli cincin berlian. Malah istriku yang diam-diam pergi membelinya.


Orang tuaku sudah cerai sejak dulu. Masing-masing sudah memiliki keluarga baru dan anak mereka sendiri.

__ADS_1


Sejak SMA, aku selalu tinggal di asrama sekolah dan tidak suka pulang ke rumah. Setiap kali pulang, aku selalu akan dioper ke sana-sini. Saat tinggal di rumah mereka, aku juga tidak berani berebutan makan daging dengan anak mereka.


__ADS_2