Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 64


__ADS_3

“Namun, aku … “


“Dengarkan aku dulu. Aku merasa aku benar-benar sangat mencintaimu. Aku telah mengorbankan banyak hal demi mendukung pekerjaanmu. Kamu selalu minta aku tunggu kamu dan aku sudah menunggumu sekian lama.”


Dia mengerutkan bibir dan tiba-tiba air matanya mengalir turun. Dia berkata terisak, “Aku benar-benar sudah menunggumu sekian lama … tidak, aku bukan menunggu sekian lama, tapi aku telah mencarimu sekian lama. Berulang kali aku meneriakkan namamu di jurang dalam yang gelap ini, tapi aku tidak pernah melihat ada cahaya, tidak pernah mendengar jawabanmu. Aku murahan sekali … jika mengingat kembali akan beberapa tahun terakhir ini, aku benar-benar sangat murahan!”


“Saat aku ditangkap, aku mulai memikirkan kembali kehidupanku. Aku sadar aku seperti ngengat yang menyongsong api, mencari api yang tidak mungkin bisa dimiliki dan terus melukai diri sendiri. Namun, saat aku masih muda, aku selalu membayangkan kelak akan ada seorang pria yang dapat menyayangi dan melindungiku. Saat itu, aku baru sadar betapa pesimisnya hidupku.”


”Apa kamu tahu? Dalam perjalanan pulang setelah aku selamat dari bahaya, aku terus berpikir untuk menjauh darimu. Kali ini aku benar-benar membulatkan tekad. Aku sudah menunggumu selama delapan tahun. Aku bahkan sudah tidak ingat berapa kali aku melamarmu. Kali ini … aku tidak ingin begitu pesimis lagi. Aku … benar-benar sangat lelah untuk menunggumu. Saat aku tercerahkan, aku baru sadar aku sudah tidak mencintaimu lagi.”


Urat nadi Yudha berkedut-kedut. Badannya sedikit terhuyung. Dia berkata dengan bengong, “Kamu … sudah tidak mencintaiku lagi?”


Misel menjawab, “Mungkin selama ini aku hanya menuntut kemenangan, maaf … saat itu aku sudah memikirkan banyak hal. Kamu adalah orang yang tidak akan bisa kudapatkan setelah menunggu sekian lama, tapi aku malah hampir mati karena kamu. Selalu ada satu pihak yang pesimis dalam cinta. Aku tidak mau menjadi orang seperti itu lagi.“


Yudha membuka mulutnya, tetapi tidak bisa mengatakan apa-apa.


Dia bergumam, “Kamu … kamu sebenarnya tidak perlu katakan sebanyak itu … aku hanya ingin tanya … apa kamu masih cinta aku? Walau … hanya sedikit saja?”


Misel menjawab dengan suara dingin, “Tidak ada. Silakan pergi.”


“Kakak Ipar, kamu salah paham dengan Kapten Yudha. Sebenarnya dia … “


Seorang anggota tim reskrim regu dua tidak tahan untuk berbicara, tetapi Yudha menarik lengannya.


Dia merapatkan bibirnya, lalu memutar badan dan keluar dari bangsal.


Aku melirik Misel.


Acara pernikahan dua bulan kemudian … ternyata bukan dengan Yudha?


Anggota tim reskrim regu dua mengikuti Yudha meninggalkan bangsal. Mereka tidak tahan untuk bertanya, “Kapten Yudha! Kenapa kamu tidak beri tahu Kakak Ipar?”


“Kalian … coba lihat apa regu satu butuh bantuan atau tidak.”

__ADS_1


“Kapten Yudha!”


“Cepat pergi!”


Yudha melambaikan tangannya dengan lemas. Badannya terhuyung seakan hendak terjatuh.


Aku memeganginya. Para anggota tim saling bertatapan dan pada akhirnya pergi dengan wajah lesu.


Setelah mereka pergi, Yudha bersandar lemas di dinding. Tangannya masih berada di dalam saku. Perlahan dia mengeluarkan tangannya yang memegangi kotak cincin nikah dengan erat. Kulit jarinya menjadi putih dan kotak cincin nikah juga penyok karena digenggamnya.


Dia seakan kesulitan bernapas. Dia berkata dengan bengong, “Dia … dia serius?”


“Serius apanya?”


“Tentang … tidak cinta aku.”


Aku menjawab, “Tunggu dulu. Tunggu dua orang di dalam sana pergi.”


Tidak lama kemudian, Almira dan Agus pergi keluar.


Setelah pintu dibuka, Misel sedang bersandar di ranjang. Dia melihat layar tablet dengan wajah senyum. Melihat aku masuk, tiba-tiba dia tersenyum dan melambaikan tangan padaku. “Kakak Ipar! Ayo lihat, ini seru sekali!”


Aku melihat layar yang sedang memutarkan sebuah fim komedi. Dia tertawa terbahak-bahak karena melihatnya.


Aku menekan layarnya. Waktunya kira-kira enam menit. Jika dikurangi dengan satu menit lagu pengantar, dia langsung mencari film untuk ditonton setelah Almira pergi.


Aku berkata, “Lihat nanti saja. Aku hanya mau lihat Ibumu sudah pergi atau belum.”


“Oke.”


Aku menutup pintu bangsal dan menghampiri Yudha. Dia masih duduk di bangku. Dia menolehkan kepala dan melihatku dengan bengong.


Aku berkata, “Dia sudah tidak cinta lagi.”

__ADS_1


“Benarkah … “


Dia menggigit bibirnya dengan kuat dan menutupi matanya. Napasnya perlahan menjadi sesak. Sekali lagi dia bersembunyi di ruang tangga karena takut Misel akan mendengar tangisannya.


Dia berkata terisak dengan suara serak, “Aku membuatnya menunggu terlalu lama … “


Aku mengangguk dan bersandar di dinding, melihatnya dengan tenang. “Iya, sudah menunggu terlalu lama.”


Tiba-tiba aku teringat akan sepotong kalimat.


Wanita mudah jatuh cinta dan selalu bersusah demi cinta, pada akhirnya akan semakin terjerat.


Namun, cinta adalah jiwa wanita. Dia bisa mempersembahkan seluruh hidupnya demi orang yang dia cintai.


Akan tetapi …


Cintanya hilang karena menunggu terlalu lama.


Dia tidak akan cinta seperti dulu lagi.


Setelah terbebas dari perputaran sengsara ini … akhirnya dia tidak lagi terkekang.


Aku tidak menemani Yudha.


Saat pria menangis, sebenarnya dia tidak perlu ditemani temannya. Aku juga tidak tahu harus bagaimana menghiburnya. Apa aku harus memeluknya sambil mengelus kepalanya dan menyuruhnya jangan menangis? Aku tidak bisa melakukannya.


Aku kembali lagi ke dalam bangsal. Misel masih menungguku untuk menonton film bersamanya. Aku duduk di sampingnya. Dia sedang menonton film dengan fokus dan tertawa terbahak-bahak.


Dengan tenang aku menunggu filmnya selesai. Saat dia mencari film berikutnya, aku bertanya, “Kamu yakin tidak mau bersama Yudha lagi?”


“Tidak … “ Dia menekan layarnya sambil berkata, “Aku merasa aku yang dulu terlalu bodoh. Aku tidak perlu terus berkorban. Aku harap bisa aku memperlakukan diriku dengan lebih baik. Coba kamu pikir, sudah berapa kali aku melamarnya, tapi pada akhirnya aku hampir mati karena dia.”


Aku menjawab, “Mungkin dia akan mati demi kamu.”

__ADS_1


Dia berkata, “Siapa tahu? Itu pun belum terjadi. Aku juga tidak berharap hal seperti itu akan terjadi.”


__ADS_2