
Aku menganalisis, “Tidak mungkin … Philip bahkan tidak ragu untuk memotong jarinya sendiri. Ini adalah batas maksimalnya. Dia tidak ingin menjerat orang yang tidak bersalah. Dia memotong satu jarinya sebagai peringatan untuk dirinya, agar dia mempertahankan sedikit hati nuraninya yang tersisa. Kalau Yudha tidak menurutinya … dia mungkin bisa melakukan apa saja. Sekarang sudah tidak sempat. Cepat beri tahu aku di mana lokasi Misel!”
“Ini sangat berbahaya! Kemungkinan besar Philip membawa senjata!”
“Jangan buang-buang waktu, cepat beri tahu aku!”
“Tidak bisa! Dia … “
Melly tiba-tiba berhenti di tengah kalimat.
“Cepat katakan!”
“Tunggu sebentar, ingatanku sedang berubah … “
Sesaat kemudian, tiba-tiba dia terengah-engah. Suaranya juga gemetaran, “Bajingan … dasar kamu bajingan … “
Hatiku terkejut.
Tampaknya dia sudah tahu.
“Demi seekor anjing … kamu bunuh orang!”
Aku berkata pelan, “Sekarang kamu mau bertengkar denganku?”
“Kamu menghancurkan kemuliaan kami! Dasar kamu sampah! Dasar kamu bajingan! Bagaimana bisa nyawa anjing dibandingkan dengan nyawa manusia? Dasar tidak manusiawi! Aku begitu percaya padamu dan melakukan begitu banyak hal demi kamu. Dengan bodohnya aku percaya padamu, percaya dengan perkataanmu kalau profesi kami sangat mulia!”
Aku berkata dengan kalem, “Kalau sudah selesai marah, berikan alamat Misel padaku. Waktunya sudah menipis.”
“Kamu … kamu tidak mau jelaskan?”
“Tidak ada yang bisa dijelaskan. Aku sudah melakukannya, artinya aku bersedia menanggung akibatnya … “ kataku. “Semua orang harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Aku bersedia bertanggung jawab. Kalau bisa menukar nyawaku dengan nyawa Yudha, ini sepadan!”
“Saleh! Apa benar-benar tidak ada yang ingin kamu jelaskan padaku?”
“Yang dia bunuh itu bukan anjing, tapi aku. Bagimu, itu hanya seekor anjing, tapi bukan bagiku.”
Melly terdiam. Setelah hening sejenak, akhirnya dia berkata, “Di kuil tua Desa Sango di pinggir kota.”
__ADS_1
“Pas aku ada di sekitar.”
“Kalau kamu pergi, tamatlah hidupmu! Bukti pembunuhanmu sudah terekam. Ada tim pemasaran di sekitar yang sedang merekam pemandangan alam dengan kamera drone untuk membantu pemerintah setempat membuat promosi bidang pariwisata. Sekarang kamu harus mencegat mereka untuk mendapatkan kamera drone itu. Kalau tidak, video pembunuhanmu terhadap Kevin akan terungkap setelah mereka membawanya pulang untuk mengedit video.”
Ternyata begitu …
Aku kira suara pengerjaan proyek dari tim penggali tambang di sebelah sana bisa menutupi jeritan Kevin dan akan menguntungkan bagiku.
Ternyata itu juga menutupi suara kamera drone dan membawaku ke jalan maut.
Aku melirik Kevin di tanah, lalu menyeretnya ke tebing di samping.
Semakin mendekati tebing, semakin dia gemetaran.
Di bawah sana adalah jurang hutan yang dalam.
Dia memegangiku dengan sekuat tenaga. Dia tidak bisa berkata-kata, hanya bisa terengah-engah dengan penuh suara dengkuran dari paru-parunya. Dia seperti sedang memohonku untuk jangan berbuat seperti itu.
Tanpa ragu aku langsung mendorongnya dari tebing. Dia bahkan tidak sempat berteriak.
Setelah melihat dia jatuh, aku berkata pelan di telepon, “Kamu memaki aku, tapi kamu juga membantuku.”
“Tidak perlu tunggu kamu akhiri hubungan kita. Aku tidak berencana mencegat kamera drone itu.”
“Bajingan! Hati-hati, Philip sangat berbahaya!”
“Kalau aku mati di sana, anggaplah sebagai karma dari Yang Maha Esa, anggaplah sebagai penghiburan untukmu.”
Setelah menutup telepon, aku mengendarai motor matic menuju kuil tua.
Tidak heran Yudha bilang hari ini dia tidak bisa menghubungi Misel.
Kemungkinan besar saat itu Misel sudah diculik.
Saat ini suara pengerjaan proyek penggali tambang sudah berhenti. Aku mendengar suara dengungan.
Aku menoleh ke arah suara itu. Ada sebuah kamera drone yang sedang terbang di sebelah sana. Sepertinya kamera itulah yang merekam aksi pembunuhanku terhadap Kevin.
__ADS_1
Aku meliriknya sekilas dan tidak menghiraukannya. Aku lanjut mengendarai motor matic.
Kuil tua di Desa Sango sudah terlantar selama bertahun-tahun. Dulu saat desa direnovasi, semua warga desa pindah ke tempat lain. Seiring perkembangan ekonomi yang semakin maju, mereka membangun kuil baru di desa.
Kini kuil tua sangat usang dan kumuh. Dengan hati-hati aku menyelinap ke dalam kuil tua.
Kuil tua ini sangat sederhana. Ada panggung opera, aula depan, dan aula belakang yang adalah tempat persembahan papan arwah leluhur.
Setelah memasuki pintu utama, aku langsung bersembunyi di bawah panggung opera. Dengan hati-hati aku mendekati aula depan.
Terdengar tangisan sedu di aula depan. Itu adalah tangisan Misel!
Di sekitar panggung opera dikelilingi oleh kain merah yang menutupi sosokku. Melalui lubang kecil di kain merah, akhirnya aku melihat Misel.
Dia sedang diikat di sebatang tiang. Air mata berlinang di wajahnya yang cantik.
Biasanya dia selalu bilang mau mencontohi pemburu kriminal untuk menghukum pelaku kriminal, tetapi saat benar-benar menghadapi Philip, dia malah menjadi kasihan seperti ini.
Philip duduk di tidak jauh darinya sambil memegangi sebuah pistol rakitan … dia masih punya pistol.
Tampaknya Philip sudah menemukan tempat persembunyian yang layak. Dia benar-benar sangat berwaspada dalam bertindak.
Misel masih terus menangis. “Sebenarnya kamu mau apa?”
“Ada utang yang harus aku tuntut pada Yudha … “ gumam Philip. “Dia membunuh adikku. Aku harus membunuhnya untuk membalas dendam.”
“Yudha hanya akan membunuh orang jahat! Kalian sendiri yang melakukan kejahatan!”
“Kejahatan?”
Philip mendongakkan kepala, dengan tenang melihat dewa-dewa yang tergambar di langit-langit kuil tua.
Dia berkata pelan, “Aku tidak pernah melakukan kejahatan. Selama ini adikku juga sangat bijaksana.”
“Kamu bohong! Kalian membunuh orang! Aku sudah melihat poster buronan kalian!”
Misel menangis tersedu-sedu. Sementara itu, akhirnya aku menemukan sebuah pentungan di bawah panggung opera.
__ADS_1
Ada sebatang paku berkarat di pentungan itu. Ini adalah satu-satunya senjata yang bisa kugunakan untuk melawan pistol Philip.