Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 46


__ADS_3

Aku membuka pintu dan berjalan di lantai secara mengendap-endap. Setelah mendekati cahaya itu, aku baru sadar ternyata ada lubang di langit-langit antara lantai empat dan lima. Ada sepotong papan kayu yang menutupi lubang itu dan mengadang cahayanya.


Aku hanya pernah mendengar orang-orang menghubungkan rumah kiri dan kanan, tetapi tidak pernah mendengar ada yang menghubungkan rumah atas dan bawah.


Aku tersenyum sinis. Kakak beradik ini memang adalah buronan.


Aku merebahkan diri di lantai dan dengan hati-hati menggeser papan kayu sedikit demi sedikit. Aku melihat Philbert sedang duduk di samping meja makan dan menaruh nasi di dalam mangkuk besar. Dengan penuh penantian dia melihat kakaknya yang sedang sibuk di depan kompor.


Philip sudah membeli lauk di luar, tetapi dia masih memasak sepiring lauk pedas. Wangi cabainya menerobos langit-langit dan tercium olehku yang di lantai atas. Kalau tidak, benar-benar sulit disadari ternyata mereka membuat lubang ini.


Philip menuang cabai ke mangkuk adiknya, lalu memasukkan air ke dalam kuali. Dari gerakannya yang terampil, jelas bahwa dia sering merawat adiknya. Dia berkata pada adiknya, “Ayo makan.”


Philbert membuka film di ipad sambil makan dengan lahap. Philip duduk di sampingnya sambil memegangi sebuah buku dan membacanya dengan tenang.


“Sialan, sudah kubilang kecilkan volume suaranya!”


Tepat ketika itu, tiba-tiba tetangganya berteriak dengan marah. Philbert yang menonton film dengan senang pun terkejut. Dia memegangi sumpit dengan erat dan bernapas terengah-engah.


Philip mengulurkan tangan memegangi pergelangan tangan adiknya. Dia berkata pelan, “Tidak apa-apa, kecilkan suaranya saja.”


Philbert mengecilkan volume suara ipad. Namun, suara tetangga di sebelah menjadi lebih nyaring.


“Pukul dia! Teman-teman, kasih balon saja. Jangan kasih love, itu tidak seberapa harganya. Ayo pukul dia!”


“Tolong teman-teman follow dan beri like agar tidak salah tempat lain kali. Masih ada satu menit lagi. Aduh, sudah mau kalah … apa ada yang bisa bantu aku?”


Aku baru paham bahwa pria bertato itu adalah selebgram. Dia sedang berduel dengan selebgram lain.


Sebenarnya suaranya sangat nyaring, sama sekali tak tertandingi oleh suara film.


Philbert duduk di depan meja dan mengambek. Philip menyadari kejengkelannya. “Ada apa?”


“Jelas-jelas suaranya lebih nyaring dariku … “ Sepertinya Philbert adalah orang yang kesulitan untuk mengontrol perasaan diri. Sekujur tubuhnya gemetaran. Lalu dia menepuk meja dan berkata, “Kenapa dia boleh, tapi aku tidak boleh?”

__ADS_1


“Kamu terlalu emosi, tarik napas dalam-dalam dulu.”


Philbert sangat patuh pada kakaknya dan menarik napas dalam-dalam. Setelah dia kembali tenang, Philip berkata, “Orang lain salah, memangnya kita harus iri karena mereka boleh melakukan kesalahan? Memangnya kita boleh mencontoh orang lain untuk melakukan kesalahan?”


Philbert menggelengkan kepala sambil berkata, “Tidak boleh.”


“Kamu sendiri tahu, kalau begitu tonton saja dengan tenang … “ kata Philip. “Pakai headset kamu.”


“Tapi aku mau tonton bareng Kakak. Aku benci dia! Aku mau pukul dia!”


Philip memegangi bukunya dan menggelengkan kepala sambil berkata, “Aku sudah sering temani kamu tonton … jangan asal pukul orang. Sudah berapa kali aku beritahu kamu? Pria jantan yang sejati tidak akan sembarangan memukul orang lain, kecuali untuk melindungi orang yang harus dilindungi olehnya.”


Entah mengapa, tiba-tiba hatiku terguncang.


Aku merasa sulit menerima hal ini.


Aku sulit menerima bahwa ini adalah perkataan yang diucapkan oleh seorang buronan.


Philbert sangat nurut pada kakaknya. Jadi dia menonton film sambil memakai headset. Tepat ketika itu, pria selebgram di sebelah berteriak lagi, “Siapa? Ada apa? Tidak tahu! Sialan, jangan ketuk pintu terus, aku sedang sibuk!”


Ketika aku merasa heran, tiba-tiba pintu rumah kakak beradik keluarga Leo diketuk.


Philip bertanya, “Siapa kamu?”


“Halo, ada sedikit hal yang ingin kutanyakan.”


Hatiku terkejut karena suaranya sangat tidak asing.


Philip menghampiri pintu, tetapi tidak buru-buru membukanya. Dia mengambil cermin dan bersembunyi di balik pintu, lalu mengarahkannya cermin ke luar jendela.


Setelah melihat pantulan di cermin, dia baru membuka pintu.


Orang yang berdiri di depan pintu adalah … Yudha!

__ADS_1


Kenapa dia bisa datang kemari?


Philip tidak mengenalinya, jadi dia bertanya, “Ada apa?”


Yudha berdiri di tempat, ekspresinya perlahan menjadi kaku karena melihat wajah Philip.


Namun, dia segera tersadarkan. “Begini, aku datang ke sini untuk cari kerja dan mau sewa rumah di sini. Jadi aku mau tanya berapa uang sewa rumah kalian per bulan?”


Philip menjawab dengan sopan, “Sebulan satu juta delapan ratus rupiah. Kalau kamu mau sewa, aku sarankan kamu bayar uang sewanya per kuartal. Uang sewa rumah di sini lebih murah kalau dibayar per kuartal. Kamu bisa negosiasi dengan pemilik rumahnya.”


“Oh begitu … aku carinya lewat agensi. Terima kasih ya.”


“Kamu juga bisa negosiasi dengan agensi, tapi mereka akan minta kamu bayar uang muka lebih banyak. Kamu bisa tawar-menawar dengan mereka. Sama-sama.”


Philip menutup pintu rumahnya. Dia kembali membaca buku.


Aku mengepalkan tangan dengan erat. Tiba-tiba aku ingat Fino bilang pada wartawan bahwa mereka punya aksi lanjutan dan menolak untuk diwawancara.


Aku benar-benar tidak menyangka ternyata aksinya adalah mengincarku! Mengapa mereka bisa datang ke sini?


Aku menolehkan kepala ke arah pintu dengan gugup, takut Yudha akan menemukanku.


Namun, aku terbengong tidak lama setelah itu.


Ada sinar merah kecil yang berkelap-kelip di tumit bagian celanaku.


Aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Ternyata itu adalah sebuah chip.


Seketika itu, aku teringat pada adegan sebelumnya di dalam gang di mana Yudha memeluk kakiku dengan erat dan enggan membiarkanku pergi.


Sialan … aku dijebaknya!


Aku langsung keluar dan pergi ke lorong. Baru sampai di lorong, aku mendengar Yudha berkata, “Kebetulan menemukan buronan bernama Philip Leo! Mohon bala bantuan, blokade lokasi sasaran!”

__ADS_1


Aku berhenti dan hanya bisa menyelinap kembali ke rumah tadi.


__ADS_2