Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 65


__ADS_3

“Iya … “


“Sebenarnya aku sangat suka cinta di antaramu dan Kakak. Aku sangat iri dan sangat mengharapkannya … “ katanya mencela diri. “Mungkin karena aku tidak seunggul kakak sehingga aku tidak bisa menemui pria baik sepertimu. Ah, jangan salah paham dengan perkataanku. Maksudku kamu dan Kakakku benar-benar sangat intim.”


Setelah dipikir-pikir, aku berkata dengan jujur, “Iya, selamanya kamu juga tidak akan lebih unggul dari Kakakmu.”


Dia kesal sekali. “Kamu sama sekali tidak rayu aku!”


“Aku cukup merayunya seorang diri dalam hidup ini.”


Dia terbengong. Pada akhirnya dia berkata, “Aku ingin nikah dengan Agus.”


“Benarkah? Aku kira kamu adalah orang yang mengincar cinta.”


“Apa gunanya mengincar cinta? Pada akhirnya hanya akan berakhir tragis. Lebih baik mengincar kekayaan … “ katanya. “Selain itu, menurutku Agus lumayan baik setelah kami berinteraksi. Kekurangannya adalah terlalu lugu dan tidak tahu bagaimana cara merayu wanita. Sebenarnya ini juga kelebihan, ‘kan? Hhmm … salah, ini adalah kelebihan sekaligus kekurangannya.”


Aku menjawab, “Aku tidak mau bicarakan gosip antar gadis.”


Dia berkata dengan serius, “Hanya saja keluarganya lumayan mendesak dan lumayan percaya pada mitos. Mereka mengharuskannya untuk menikah sebelum umur tiga puluh tahun. Kalau dia tidak menikah pada umur tiga puluh tahun, dia harus menunggu sampai umur empat puluh tahun baru akan ada hari rezeki … sekarang hanya tersisa lebih dari dua bulan sebelum dia berumur tiga puluh tahun. Tidak banyak waktuku untuk memikirkannya. Aku masih ingin berinteraksi dengannya untuk beberapa lama lagi … tapi dia bilang tidak perlu buru-buru. Dia bilang bisa pacaran dulu, tunggu aku sampai berumur tiga puluhan tahun atau empat puluh tahun.”


Aku mendesah dalam hati.


Tampaknya pengantinnya adalah Agus.


Misel berkata pelan, “Aku terus menunggu orang lain dalam seumur hidupku. Pertama kalinya ada orang yang bersedia untuk menungguku. Namun … jelas-jelas aku tahu penantian adalah hal yang sangat sengsara.”


Aku berkata, “Kuulangi lagi, aku tidak mau bicarakan gosip.”


Dia terkekeh. Tiba-tiba dia berkata dengan serius, “Kakak Ipar, kamu benar-benar sangat baik. Kalau aku pilih Agus, aku harap kelak dia bisa menjadi sepertimu.”


“Bagaimana kalau aku bukan orang yang sebaik itu? Bagaimana kalau suatu hari kamu menyadari aku tidak seperti yang kamu bayangkan, juga tidak seperti yang Kakakmu bayangkan?”

__ADS_1


“Apa maksudnya?”


Aku berkata pelan, “Sebenarnya … aku adalah pemburu kriminal. Mungkin kamu akan kecewa padaku. Aku bukan membasmi kejahatan untuk kesejahteraan rakyat seperti yang kamu pikirkan. Aku juga adalah orang yang egois.”


Dia terbengong. Lalu dia terkekeh dan berkata, “Iya. Kamu sudah menyelamatkan aku. Kamu adalah pemburu kriminalku!”


“Aku benar-benar adalah pemburu kriminal … ”


“Jangan katakan lagi … “ Dia bersandar di bantal di sampingku. Dia mematikan tablet-nya dan berkata pelan, “Hanya pemburu kriminal yang bisa muncul tepat waktu di depan sang korban … aku bukan polisi yang menuntut bukti nyata. Aku hanya percaya pada instingku sendiri. Anggap saja aku egois. Kakak sudah tiada. Aku ingin kamu menemani kami selamanya, dan menemani Yudha. Perbincangan kita hari ini adalah lelucon. Aku mengantuk. Aku akan lupa sehabis tidur. Keluarlah. Kalau ketahuan Kakak ipar tidur di sisi adik iparnya, akan sangat memalukan loh.”


Aku bangun dan membantunya mematikan lampu, lalu keluar dari bangsal.


“Kakak Ipar … “


Tiba-tiba dia memanggil saat aku sampai di depan pintu.


Aku menolehkan kepala. Dia meringkuk di bawah selimut, hanya mengeluarkan kepalanya. Dia menatap lurus padaku.


“Tidak peduli apa yang terjadi, setidaknya aku tahu kamu adalah orang yang seperti apa. Kakak juga tahu.”


Aku tersenyum dan menutup pintunya dengan pelan.


Hari sudah malam. Rumah sakit menjadi sunyi senyap.


Aku berjalan ke ruang tangga. Saat aku membuka pintu, aku melihat Yudha masih di sana.


Aku bertanya, “Kamu berencana tinggal di ruang tangga rumah sakit?”


Dia mendongak melihatku. Matanya merah usai menangis.


Siapa sangka pria jantan yang selalu berjuang di garis terdepan juga memiliki sisi lemah seperti hari ini?

__ADS_1


Aku duduk di sampingnya dan berkata, “Seseorang selalu akan menemui hal-hal yang tidak dapat diperbaiki dalam hidupnya. Kita semua tidak ingin hal itu terjadi. Saat kita masih kecil, kita masih bisa memberontak saat menemui hal-hal yang tidak kita inginkan … “


“Saat kita tidak mau disuntik, kita akan menangis keras. Kalau hati dokternya meluluh, mungkin dia akan bilang suntik nanti saja.”


“Saat kita tidak bisa menghafalkan pelajaran untuk pertama kalinya dan menangis karena desakan guru, kalau hati gurunya meluluh, mungkin dia akan bilang hafalkan besok saja.”


“Kita sedih, kita tidak mau, maka kita memberontak. Segala sesuatu di sekitar seolah-olah berhenti. Saat itu, dunia hanya berporos pada kita sendiri. Setelah dewasa, kita baru paham kalau kehidupan orang dewasa tidak akan berhenti. Tidak peduli betapa enggan, tidak peduli betapa keras kita menangis, kehidupan akan terus berlangsung tanpa berbelas kasih. Tidak peduli betapa sedih juga tidak ada gunanya.”


Dia menggosok mata dan berkata, “Kamu jarang sekali berbicara panjang lebar padaku, juga tidak pernah menghiburku.”


Aku berkata, “Ayo pergi. Aku pikir kamu juga tidak takut pada luka kecil begini. Aku temani kamu keluar rumah sakit dan kemas barang-barangmu. Kamu adalah pria jantan. Semuanya akan berlalu asal kita berlapang dada.”


“Bagaimana mungkin bisa berlapang dada semudah itu?”


“Kalau begitu pura-pura berlapang dada.”


Aku memapahnya dan pulang bersama-sama.


Itu adalah rumah yang dulunya mereka tinggali bersama-sama. Walau MIsel sudah merobek foto bersama mereka, masih ada banyak kenangan yang tersisa.


Yudha mengambil kantong besar. Lalu dia membuang semua barang miliknya dan Misel ke dalam kantong.


Gelas dan sikat gigi pasangan, bantalnya, pakaiannya …


Setiap benda yang dibuang ke dalam kantong adalah kenangan mereka bersama ketika dulu.


Aku duduk di sofa sambil melihatnya membuang barang-barang ke dalam kantong.


Ini mungkin sangat sadis baginya karena dia dilema sangat lama setiap kali membuang sesuatu.


Tiba-tiba dia mengangkat kepala dan berkata, “Apa aku bisa mencoba untuk mengejarnya kembali?”

__ADS_1


Aku bertanya, “Kalau dia bersedia kembali ke sisimu, kapan kamu berencana nikah dengannya?”


__ADS_2