
“Kalau kubunuh mereka, mereka tidak bisa menangkap kita dan kita tidak akan masuk penjara!”
“Masuk penjara tidak sebanding dengan nyawa kita. Mereka bukan orang jahat. Mereka itu orang baik. Aku tidak akan izinkan kamu bertindak sembarangan! Berikan pistolmu!”
Aku mengerutkan alis.
Philip aneh sekali. Pemikiran dan perbuatannya tidak seperti seorang buronan.
Namun, Melly bilang kelak Yudha akan mati dua kali di tangan mereka.
Berdasarkan dugaanku, kemungkinan besar karena Philbert sama sekali tidak mampu mengontrol perasaannya sendiri.
Tepat ketika itu, orang di luar mulai menggedor pintu.
“Duumm!”
Penguncinya langsung rusak. Pintunya terpental sampai menabrak lemari baju, tetapi gagal untuk mendorongnya.
Philbert berteriak saking kagetnya. Aparat polisi berteriak, “Semuanya jangan keluar! Aparat kepolisian sedang melakukan tugas. Jangan keluar untuk menonton! Sembunyi di dalam rumah, lalu kunci pintu dan jendela rumah. Jangan keluar untuk menonton!”
Pria di sebelah berteriak, “Astaga! Teman-teman, ada polisi yang sedang melakukan penangkapan di sebelahku!”
Pintu mengeluarkan bunyi hantaman yang nyaring. Sekujur tubuh Philbert gemetaran saking takutnya. Dia memegangi pistol dengan erat.
Philip memegangi pistolnya dan menepuk punggungnya dengan pelan. “Tenang … berikan pistolmu, tenang … tarik napas dalam-dalam … “
Akhirnya Philbert memberikan pistolnya. Aku pun menghela napas lega.
Kalau begini, Yudha akan baik-baik saja, ‘kan?
__ADS_1
Philip mengambil pistolnya dan berkata dengan serius, “Nanti kita keluar dan serahkan diri kita. Mungkin keadaannya akan sedikit menakutkan. Dengarkan Kakak, mungkin mereka akan sangat galak, tetapi sebenarnya mereka adalah orang baik. Kalau kamu patuh, mereka tidak akan menyakitimu, oke?”
Philbert mengangguk dengan takut. Lalu Philip berteriak ke arah luar, “Siapa dari kalian yang bisa mengambil keputusan?”
Yudha juga berteriak di luar, “Aku Yudha Setiawan, Kapten Reskrim regu dua. Aku bisa mengambil keputusan. Katakan saja apa maumu!”
“Pak polisi, kami tahu kami bersalah. Sekarang kami akan menyerahkan diri. Tolong kalian jangan tembak kami. Kami akan letakkan senjata di lantai dalam penglihatan kalian, lalu berjalan keluar dengan tangan di kepala. Aku hanya punya satu syarat … bukan, ini adalah permohonan.”
“Apa yang kamu mau?”
“Kondisi adikku sangat tidak stabil. Sejak kecil dia memang seperti itu. Kalau dia melakukan tindakan yang berlebihan, tolong kalian jangan sakiti dia.”
“Aku akan memenuhi permohonanmu asal dia tidak bermaksud untuk menyakiti kami.”
“Sekarang aku akan memindahkan lemari baju yang menutupi pintu. Mungkin akan menimbulkan suara, tapi aku tidak bermaksud untuk menyerang. Tolong kalian jangan panik kalau mendengar ada suara.”
Philip menghampiri lemari baju dan memindahkan barang-barang di atasnya. Tiba-tiba pria di sebelah berkata, “Aku tentu tidak akan pergi menonton! Aku sudah mendengar suara tembakan, bagaimana mungkin aku tidak berani … Astaga, teman-teman, jangan kasih aku hadiah. Bukankah kalian menyulitkan aku?”
Aku ingin tahu apakah dia akan terkena bahaya, tetapi aku tidak bisa melihatnya kalau kakak beradik keluarga Leo pergi keluar. Sekarang aku tidak bisa membantu, tetapi setidaknya aku ingin melihat apa yang sedang terjadi. Mungkin aku juga bisa melakukan sesuatu.
Setelah dipikir-pikir, aku mengambil tali evakuasi dan mengikatkan gesper keamanan di pagar pembatas ujung di ujung balkon. Setelah menggulung tali beberapa lingkaran di tanganku, dengan hati-hati aku melangkah dan menginjak pipa pembuangan air di dinding di samping balkon. Akan tetapi, aku tidak berani mengulurkan kepalaku karena aku tahu aku pasti akan ketahuan jika aku mengulurkannya.
Aku hanya bisa berjongkok dan membuka kamera ponsel untuk melihat pergerakan di luar melaluinya.
Untung ponselku berwarna hitam. Tidak akan mudah ketahuan asal aku tidak membuka senter.
Di lorong lumayan terang karena lampunya menyala. Aku melihat Philip membuka pintu rumah dan melempar keluar dua pistolnya. Lalu dia melempar pisaunya juga.
Yudha dan timnya mundur ke jarak aman. Fino ada di sebelahnya. Melihat buronan benar-benar melemparkan pistolnya, Yudha berkata, “Sekarang peluk kepala dengan dua tangan, lalu keluar sambil berjongkok.”
__ADS_1
Philip keluar lebih dulu, sedangkan Philbert mengikuti kakaknya dengan perasaan takut.
Yudha menghela napas lega saat melihat mereka benar-benar keluar. Dia berkata, “Jangan gerak dan jangan dekati pistol. Tetap dalam posisi yang sama, punggung menghadap kami.”
Kakak beradik keluarga Leo mematuhinya. Yudha sangat puas terhadap kerja sama mereka. Lalu dia berkata pada Fino, “Kita borgol mereka.”
Philip langsung berkata, “Tolong kalian lembut sedikit saat borgol, kondisi adikku tidak stabil.”
Yudha mengangguk dan berpesan pada Fino, “Usahakan lebih lembut. Asal mereka tidak melawan, jangan menyakiti mereka.”
“Baik, Kapten.”
Mereka menghampiri kakak beradik keluarga Leo. Tepat ketika itu, terjadilah kekacauan.
Jendela rumah sebelah tiba-tiba dibuka. Pria selebgram mengulurkan leher dan mengarahkan ponselnya pada kakak beradik keluarga Leo. Lalu dia berteriak pada Philbert, “Dasar tolol, ternyata kamu punya pistol? Beraninya tadi kamu congkak denganku. Kamu akan segera ditembak mati!”
Orang ini … benar-benar memenuhi permintaan para penggemarnya?
Yudha langsung berteriak, “Jangan menonton di sini, masuk sana!”
“Tembak mati!”
Philbert yang sudah kembali tenang pun terangsang lagi. Dia tiba-tiba memutar badan dan mengageti para polisi.
Polisi di belakang langsung mengangkat pistol saat melihat buronan tidak mematuhi perintah. Philip bergegas berkata, “Dia hanya menakutimu! Polisi tidak akan tembak kamu!”
Namun, Philbert sangat ketakutan. Dia berteriak dengan panik, “Polisi sudah angkat pistol! Mereka benar-benar mau tembak aku! Kakak, mereka mau tembak aku!”
“Mereka tidak akan tembak kamu! Tarik napas dalam-dalam, tenang dulu!”
__ADS_1
Tidak peduli apa yang dikatakan oleh Philip, Philbert sangat ketakutan pada pistol-pistol yang diarahkan padanya. Saking paniknya, dia langsung menerjang ke arah pistol rakitannya. Aksinya mengejutkan para polisi. Lalu keadaan pun memburuk.