
Kesempatan!
Aku memegangi pentungan dengan erat, lalu merangkak keluar dari panggung opera secara mengendap-endap. Misel melihatku. Matanya melebar karena kaget dan dia tidak berani mengeluarkan suara.
Aku tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini. Aku langsung mempercepat langkah dan melompat ke depan. Aku memegangi pentungan berpaku ini dengan erat, lalu mengayunnya dengan kuat.
Namun, entah mengapa di saat aku melihat bayangan punggung Philip, aku seperti sedang melihat bayangan diriku.
Otakku tidak terkendali dan aku memutar pentungan sebanyak setengah lingkaran. Awalnya paku itu seharusnya mengarah pada belakang kepala Philip, tapi sekarang menjadi hanya pentungan yang memukul kepalanya.
“Phuum!”
Philip jatuh di lantai. Hatiku sangat tidak keruan melihat dia terjatuh.
Kami … pada dasarnya adalah orang sejenis.
Philip jatuh di lantai karena pukulan pentunganku, tapi dia segera merangkak bangun.
Pukulanku tadi tidak membunuhnya seketika. Aku bukanlah orang yang akan berbelas kasih pada musuh. Saat Philip berusaha mengambil pistolnya, aku langsung menendang pistolnya sampai terpental jauh.
“Keparat!”
Philip mengumpat. Tiba-tiba dia mengepalkan tangan dan meninju kakiku. Akan tetapi, bagaimana mungkin aku membiarkannya memukulku? Aku ingin menghindar, tapi dia menerjang kemari dan langsung memelukku.
Aku tahu betul aku harus segera menjauh darinya. Dengan kuat aku menghantamkan lututku pada wajahnya. Namun, dia memelukku dengan erat dan enggan melepaskanku. Tidak peduli bagaimana aku menyerangnya, dia sama sekali tidak bermaksud untuk melepaskanku.
Sungguh tragis.
Philip bukan orang yang pandai bertarung, tapi pertarungan kami terkesan tragis!
Setiap tinjuan menghantam tubuhnya. Pria ini jauh lebih gila dari yang kubayangkan. Saat aku menyerangnya, dia juga menyerangku dengan sekuat tenaga.
Dia tidak seperti semua lawan yang pernah kutemui pada sebelumnya.
__ADS_1
Orang lain akan berpikir untuk melindungi dirinya saat bertarung. Bahkan Yudha juga tahu untuk melindungi titik rentannya.
Namun, hanya Philip yang berbeda. Dia menyerah untuk melakukan pertahanan dan bertarung mati-matian denganku. Kami sama-sama adalah orang yang tidak mengindahkan pertahanan. Setiap serangan kami adalah serangan dengan segenap tenaga!
Kami tidak saling kenal, tapi kami sama-sama memiliki tekad untuk enggan hidup berkepanjangan seperti ini. Dengan gila kami membakar kekeraskepalaan kami yang terakhir.
“Phuum! Phuum!”
Suara sikuku yang menghantam punggungnya bergema di dalam kuil tua. Dia mengepalkan tangan dan meninju perutku.
Sakit sekali …
Kegilaanku bagai binatang buas akhirnya terbangkitkan. Aku tidak bertarung dengannya menggunakan ilmu bela diri yang mahir kukuasai, melainkan bertarung seperti binatang.
Entah dia yang memukulku sampai mati atau aku yang memukulnya sampai mati.
Philip berteriak dengan suara rendah. Dia tahu dia akan rugi kalau terus terkekang seperti ini. Pada akhirnya dia merangkak bangun sambil menahan rasa sakit. Dia mencengkeram aku dan mendorongku ke depan.
Aku dipeluknya di tengah udara. Lalu aku menyerah untuk melakukan pertahanan. Saat aku dipeluknya mundur ke belakang, aku memukul punggungnya dengan kuat. Aku mengepalkan tangan dan meninju telinganya sampai berdarah.
Rasa sakit di punggungku yang dahsyat membuat napasku tersentak. Sambil menahan rasa sakit, aku menutupi matanya dengan kedua tangan dan mencungkilnya dengan sekuat tenaga.
“Sakit!”
Philip menggeram marah. Lalu dia menghantamkan aku ke lantai.
Badanku gemetaran saking sakitnya karena dihantamkan ke lantai. Di saat bersamaan, aku mengapit lehernya dengan kedua kakiku dan berguling ke samping dengan seluruh tenaga.
Akhirnya Philip berhasil kujatuhkan di lantai. Aku ingin mengunci lehernya, tetapi dia sudah menerjang kemari dan menimpa di atas badanku. Dia ingin mencontoh aku untuk mencungkil mataku dengan kedua tangannya.
Tanpa sempat mengepalkan tangan, aku langsung menampar wajahnya dengan kuat.
Dia terbengong karena tamparanku. Namun, seketika dia sadar kembali. Dia juga menamparku dengan kedua tangannya. Kami menyerang satu sama lain dengan segenap tenaga. Aku merasa pipiku sudah mati rasa. Sudut bibirnya juga merembeskan darah.
__ADS_1
Tidak bisa terus begini …
Orang ini sudah gila.
Aku mengangkat kepala dan menghantam hidungnya dengan kuat.
Badannya mencondong ke belakang karena hantaman itu. Aku kira dia akan jatuh di lantai. Siapa sangka dia mampu menahan rasa sakit yang dahsyat karena titik rentannya terpukul, lalu menghantamkan kepalanya dengan kuat pada hidungku.
Ganas sekali!
Rasa sakit tidak akan membuatnya menghindar. Kematian juga tidak akan membuatnya menciut. Sekarang kami hanya fokus pada tekad untuk memukul lawan sampai mati.
“Keparat … “
Aku tidak tahan untuk mengumpat. Aku merangkak bangun sambil mendekap hidungku. Saat aku hendak berdiri, dia juga mencontohi aksiku untuk melontarkan serangan siku. Badannya juga menerjang ke arahku.
Dia sama sekali tidak takut apakah jurusnya ini akan gagal. Walau gerakannya tidak cukup akurat, dia yakin dia pasti bisa menyerangku asal dia terus berdekatan denganku.
Aku menyongsong serangannya dengan bahuku. Aku menggertakkan gigi saking sakitnya. Seketika aku tersadarkan dan menjambak rambutnya. Lalu aku menegakkan badan dan menghantamkan lututku pada wajahnya dengan kuat.
“Phuum! Phuum! Phuum!”
Aku sudah tidak tahu yang aku serang adalah hidungnya atau dahinya. Tidak peduli bagaimanapun, kedua itu adalah bagian tubuh yang rentan. Aku hanya perlu memukulnya sampai mati.
Satu kali, dua kali, tiga kali …
Aku enggan berhenti. Kalau aku berhenti, artinya dia akan menyerang balik.
Akhirnya dia kehabisan tenaga dan tidak lagi meronta di tanganku. Kedua tangannya menjuntai ke bawah dengan lemas.
Aku baru menghela napas lega. Aku membuangnya ke samping dan bernapas terengah-engah.
Tiba-tiba …
__ADS_1
Philip yang kukira sudah tidak punya tenaga untuk bertarung lagi mendadak bangun dan menerjang ke arahku.