Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 74


__ADS_3

Aku berkata dengan tenang, “Jangan selak saat aku sedang ceritakan situasi waktu itu padamu, juga jangan menakut-nakuti aku dengan polisi. Kamu berada di dalam mobilku.”


Dia baru sadar dan tidak berani berbicara lagi.


Kami sudah sampai di dermaga.


Inilah tempat di mana aku membuang mayat pada waktu itu.


Permukaan air sungai di bawah lereng tenang tak beriak. Ada beberapa perahu yang terikat di sana.


Aku membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan kacamata renang aku dan memberikannya pada Wulan. “Untuk kamu. Awalnya ini untuk kupakai sendiri. Kamu sesuaikan ukurannya, nanti akan kamu pakai.”


Selesai bicara, aku langsung menyeretnya menuju tepi sungai. Dia menjadi cemas karena dirinya semakin dekat dengan air sungai. Dia bergegas berkata, “Saleh! Sebenarnya kamu mau apa? Apa kamu gila?”


Aku bilang, “Aku tidak gila, aku hanya ingin beritahukan jawabannya padamu. Bukankah kamu telah mencari jawabannya untuk sekian lama? Kuberi tahu saja.”


“Kamu kira aku akan percaya pada omong kosongmu?”


“Ikuti aku.”


Aku membawanya ke tepi perahu, tapi dia tidak mau naik. Jadi aku menariknya dengan kuat dan berhasil menyeretnya ke atas perahu.


Perahunya terikat, tapi tidak apa-apa, panjang talinya kira-kira lima atau enam meter. Aku juga tidak berencana untuk mendayung perahu ini.


Aku mendorong perahu dengan kakiku. Seketika perahu bergerak mengikuti arus air sungai.


Pada akhirnya, perahu ini tersentak.

__ADS_1


Aku bilang, “Pakai kacamata renang, lalu lihat ke bawah air. Hati-hati, jangan sampai jatuh. Apa perlu kupegang?”


Dia berkata dengan gemetaran, “Kamu hanya menakut-nakuti aku! Kalau kamu pikir ini sangat seru, kamu salah besar! Aku akan lapor polisi, aku akan beri tahu polisi, kamu …”


Aku memotong perkataannya, “Jangan omong kosong, oke? Aku masih harus buru-buru pergi menghadiri acara pernikahan adik iparku.”


Dia melihat permukaan air sungai dengan bengong, lalu melihat kacamata renang di tangannya.


Pada akhirnya, dia menelan ludah dan mengatur ukuran kacamata renang sebelum memakainya. Dia berkata dengan gemetaran, “Ini tidak benar … kamu hanya beromong kosong …”


“Kamu akan tahu setelah melihatnya.”


Setelah memakai kacamata renang, dia membungkukkan badannya sambil memegangi tepi perahu.


Aku memeganginya di samping dan menginjak tepi perahu di sebelah sana agar perahunya tidak terbalik atau agar Wulan tidak jatuh ke dalam air.


Waktu seolah-olah berhenti.


Aku mengulurkan tangan untuk membantunya melepaskan kacamata renang, lalu berkata pelan, “Hari pertama saat suamimu hilang, dia sudah berada di tempat ini.”


“Kamu … kamu …” katanya dengan gemetaran. “Dasar bajingan …”


Aku berkata dengan sungguh-sungguh, “Kamu selalu bilang padaku harus berpikir dari sudut pandang orang lain, tapi kuberi tahu, Joni hanya sekadar menghilang dalam pengetahuanmu yang sebelumnya. Itu tidak termasuk berpikir dari sudut pandang orang lain. Dia telah mencelakai istriku, dan aku sudah membunuhnya. Inilah yang dinamakan berpikir dari sudut pandang orang lain. Sekarang beri tahu aku … bagaimana perasaan hatimu?”


Saat aku berbicara sambil mendekatinya, dia terus mundur ke belakang sampai ke ujung perahu. Pertahanan psikologisnya sudah runtuh total. Dia berseru panik, “Jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku!”


Aku bilang, “Joni bunuh istriku dan tidak mau bertobat, lalu sekarang telah dia tebus dengan nyawanya sendiri. Dia sudah mati di tanganku. Kalau kamu benar-benar mau berpikir dari sudut pandang orang lain, memangnya kamu tidak mau bunuh aku?”

__ADS_1


“Ampuni aku … kamu sudah bunuh suamiku, ampunilah aku …”


“Di mana keberanianmu tadi? Bukankah selama ini kamu mau tuntut pertanggungjawaban dariku? Sekarang dugaanmu sudah dibenarkan, mengapa kamu tidak bunuh aku?”


Dia tetap berekspresi ketakutan, bahkan tidak bisa menuturkan satu kalimat lengkap.


Aku menghela napas panjang dan mengulurkan tangan padanya. “Ayo, berikan ponselmu padaku.”


Dia menyodorkan ponselnya dengan gemetaran. Lalu aku ambil dan langsung lempar ke sungai.


Kemudian, aku menarik tali perahu untuk kembali ke tepi sungai.


Dia masih gemetaran. Aku berkata, “Istriku … adalah orang yang sangat baik dalam seumur hidupnya. Bersama-sama kami telah merencanakan banyak masa depan. Aku bilang mau tabung uang dan buat ruang pakaian untuknya. Dia bilang mau belikan mobil baru untukku. Aku bilang mau bawa dia tamasya di pantai. Dia bilang mau gantung foto sedinding penuh bersamaku di rumah …”


“Setiap hari kami begitu bahagia. Setiap hari aku terus berpikir bagaimana caranya untuk membuat dia lebih bahagia. Apa kamu tahu? Aku tidak akan menyakiti kamu karena ada anak tidak bersalah di dalam kandunganmu. Awalnya aku juga akan punya anak … Dia beli setelan pakaian keluarga lebih dulu saat ada diskon. Dia tidak sabar untuk mencobanya. Hari itu dia juga mau aku pakai untuk dia lihat. Aku selalu bilang tunggu nanti setelah anak kami lahir. Aku punya banyak penyesalan, salah satunya adalah mengapa waktu itu aku tidak pakai untuk dia lihat.”


“Dia begitu berusaha demi kebahagiaan kecil kami. Jelas-jelas sudah begitu lama kami persiapkan … tapi semua ini direnggut. Kamu bilang mau berpikir dari sudut pandang orang lain. Sekarang apakah kamu bisa merasakan perasaan hatiku?”


Dia menundukkan kepala dan membenamkan wajahnya di telapak tangan, lalu menangis keras. “Bajingan … dasar kamu bajingan …”


“Apa kamu tahu? Aku memang tidak berharap kamu dapat memahami aku karena aku juga tidak peduli akan pendapatmu. Aku bawa kamu kemari, hanya berharap kamu bisa tahu … penderitaan yang kurasakan sama sekali tidak lebih sedikit dari punyamu. Inilah yang dinamakan dengan berpikir dari sudut pandang orang lain.”


Setelah aku naik, tiba-tiba dia mengamuk. Dia langsung melompat turun dari perahu tanpa menghiraukan kondisi hamilnya. Dia terus pukul aku dengan kepalan tinju sambil memarahi aku, “Bajingan! Dasar kamu bajingan! Kamu bunuh suamiku, kamu adalah pembunuh!”


Aku berkata dengan tenang, “Apa kamu mau balas dendam untuk dia? Oke, kuberi satu kesempatan.”


Aku membuka bagasi mobil dan mengeluarkan palu dari kotak peralatan tadi, lalu memberikannya pada Wulan.

__ADS_1


Dia tercengang dan melihat palu di tanganku dengan bengong. Lalu aku berkata lagi, “Kalau kamu ingin balas dendam padaku, kamu bisa pukulkan ini ke kepalaku.”


Dia langsung merampas palu itu dan mengangkatnya tinggi di atas kepala. “Kamu kira aku tidak berani?”


__ADS_2