
Aku berjalan ke sana dan mengetuk pintunya.
“Masuk.”
Mendengar jawaban Misel, aku membuka pintu ruang tata rias.
Aku langsung terbengong saat melihatnya. Aku tidak tahan untuk bergumam, “Marsela …”
Acara pernikahan akan dimulai dalam satu jam lagi, tapi dia tidak menyanggul rambutnya, melainkan digerai.
Gaun pengantin putih itu sama persis dengan yang foto yang kulihat dengan penuh nostalgia.
“Aku pergi ke studio pernikahan itu dan khusus meminta gaun pengantin yang dulu Kakak pakai …” kata dia dengan suara pelan. “Bukan model yang sama … tapi gaun yang sama.”
Aku melihatnya dengan bengong. Dia berdiri dan menghampiriku selangkah demi selangkah.
Aku bilang, “Sama persis.”
“Hanya ini yang tidak sama …” Dia mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin berlian besar di jarinya. “Lihat, cukup besar, ‘kan? Dulu punya kakak itu cincin palsu dan jauh lebih kecil dari yang ini. Aku benar-benar merasa … sangat amat mahal!”
Aku tersenyum dan berkata, “Seberapa mahalnya?”
Dia berkedip dan berkata, “Cukup untuk membuatku menangis karena tidak rela. Sebenarnya saat itu aku hanya meliriknya sedikit lebih lama, tapi dia bersikeras mau beli. Dia lumayan teliti dalam hal begini. Kalau aku melirik sesuatu dengan sedikit lebih lama, dia akan mengingatkan dalam hati. Dia kira aku suka, jadi akan berusaha membelikannya untukku. Kalau aku makan lauk tertentu dengan lebih banyak, dia juga kira aku suka. Lalu dia akan buatkan lauk itu saat sarapan pagi, makan siang, dan makan malam selama beberapa hari berturut-turut, sampai membuatku mau muntah.”
“Dia rela menghabiskan uang untukmu, benar-benar anak orang kaya.”
“Awalnya aku juga merasa dia tidak bisa apa-apa selain punya duit. Dia benar-benar bodoh di hadapan perempuan. Setelah berinteraksi untuk waktu lama, aku baru sadar sebenarnya dia juga lumayan baik. Dia bodoh, tapi bisa diajari perlahan-lahan.”
Aku tertawa setelah mendengarnya. Lalu Misel menghampiriku. Aku menoleh ke belakang dan melihat karpet merah yang panjang.
Saat ini aku benar-benar merasa seolah-olah istriku sedang berdiri di sampingku, seolah-olah telah kembali ke hari pernikahan kami.
Aku menoleh pada Misel dan berkata pelan, “Temani aku … jalan sebentar, oke?”
“Aneh sekali …” katanya. “Aku juga berpikir seperti itu.”
Dia melambaikan tangan pada Agus. Lalu Agus bergegas berlari kemari.
__ADS_1
Kemudian, Misel melepaskan cincin nikahnya dan meletakkannya di tangan Agus. “Pegang baik-baik, jangan sampai hilang. Aku temani Kakak Ipar jalan-jalan sebentar.”
Agus berkata dengan sedikit sedih, “Aku tahu Kakak Ipar pernah selamatkan kamu. Aku pasti akan balas budi pada penyelamat istriku, tapi jalan di tengah … jalan utama di tengah tidak boleh dilalui. Itu tidak baik untuk kita.”
Misel terkekeh dan berkata, “Dasar bodoh. Tidak hanya jalan utama, bahkan kedua sisinya juga tidak akan aku lalui. Kami pergi ke koridor di luar aula pesta.”
Agus mengangguk dengan patuh. “Itu tidak masalah … Sepakat ya, hanya boleh jalan di koridor di luar!”
“Oke, tenang saja.”
Misel menarikku berjalan keluar.
Dia tidak memakai parfum, tapi ada wangi lavender yang samar-samar di badannya.
Saat sampai di depan koridor, kami sedang melihat karpet merah di depan. Tiba-tiba dia menggandeng lenganku dan bersandar pelan padaku.
Aku menoleh padanya.
Angin sepoi menggerakkan rambutnya. Dia menyibakkan rambutnya ke belakang telinga dan berkata dengan lembut, “Sayang … ayo kita pergi.”
Aku hampir meneteskan air mata.
Di karpet merah, Misel terus menggandeng lenganku. Dengan kompak kami berjalan dengan sangat pelan.
Setiap langkah seolah-olah membuatku kembali ke masa dulu.
Dulu saat aku berjalan dengan Marsela juga seperti ini.
Misel berkata, “Kakak Ipar, sebenarnya Kakak pernah katakan sesuatu padaku.”
“Hhmm?”
“Kakak bilang … kamu selalu merasa kamu beruntung untuk bisa hidup bersamanya. Sebenarnya dia merasa dirinya yang beruntung.”
“Benarkah?”
“Kakak bilang sudah lama sekali kalian hidup bersama, tapi setiap hari begitu bangun, selalu terasa seperti hari pertama pacaran denganmu. Setiap hari dia tidur dalam kebahagiaan, lalu bangun dengan penuh penantian. Aku merasa kakak benar-benar sangat beruntung karena ada seseorang yang dapat menyayanginya selama seumur hidup seperti harta berharga. Bagi pria, bertahan satu hari adalah nafsu, bertahun satu tahun adalah akting. Namun, kamu tetap sama dalam setiap hari …”
__ADS_1
Tiba-tiba Misel berhenti dan menoleh padaku.
Dia mengangkat kepalanya dan bertatapan denganku. Dia berkata dengan sungguh-sungguh, “Hidup kakakku sangat singkat, tapi kebahagiaan yang dia miliki sudah berkali-kali lipat lebih banyak daripada yang dimiliki orang lain. Aku tahu kamu sangat rindu padanya, tapi kamu tidak pernah bersalah padanya. Aku ingin mewakili dia mengucapkan terima kasih padamu. Setelah hari ini, aku juga akan menjadi istri orang lain. Aku berharap dapat memiliki cinta yang seperti kalian.”
Aku bergumam pelan.
Sambil menggigit bibirnya, perlahan mata Misel dibasahi oleh air mata. Dia mengerutkan bibir dan berkata dengan terisak, “Andaikan … andaikan Kakak bisa melihatku menikah.”
“Jangan menangis, nanti riasanmu luntur.”
Dengan pelan aku menyeka air matanya. Dia juga berusaha keras untuk berhenti menangis.
Saat ini, tiba-tiba pintu utama dibuka.
Itu adalah anggota tim reskrim regu dua. Ternyata Misel juga mengundang mereka.
Bagaimanapun mereka telah kenalan selama bertahun-tahun.
Yudha berjalan di baris terdepan. Dia tampak sedikit lemas dan wajahnya putih pucat. Anggota tim lainnya langsung melihatku setelah masuk, bahkan tanpa sadar memperluas jarak mereka. Mereka berjalan menuju aula acara, tapi dalam keadaan mengepung.
Akhirnya mereka akan menangkapku?
Yudha berjalan sampai di depan kami, lalu berkata dengan pelan, “Selamat ya.”
“Terima kasih.” Misel mengangguk.
Dia tidak melihatnya, melainkan memegangi lenganku erat-erat.
Dalam delapan tahun pacaran yang begitu lama, mungkin sudah entah berapa kali mereka membayangkan adegan bertukar cincin nikah dengan satu sama lain.
Namun, hari ini Misel adalah pengantin wanita, sedangkan Yudha adalah tamu acara.
Meskipun cinta telah terukir di dalam tulang, roda takdir tetap berputar dengan kuat dan tidak ada yang bisa melawannya.
“Saleh …”
Tiba-tiba seorang polisi menghampiriku, tapi Yudha menahan dadanya dan mendorongnya mundur dengan kuat!
__ADS_1