Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 58


__ADS_3

Kalau terjadi kesalahan … aku akan mati.


Philip meletakkan pistolnya di lantai dan menoleh pada Misel. Tiba-tiba dia bertanya, “Apakah orang yang membunuh seseorang adalah orang jahat?”


“Hanya orang jahat yang membunuh orang lain!”


“Bagaimana kalau orang itu harus dibunuh? Seperti pemburu kriminal yang muncul akhir-akhir ini. Dia juga sudah membunuh banyak orang. Mengapa dia begitu dijunjung tinggi oleh para warga?”


“Dia adalah orang baik. Dia hanya membunuh orang-orang jahat!”

__ADS_1


Philip menyimpan pistolnya. Dia menghampiri Misel dan tiba-tiba menyodorkan sebotol air mineral dan membantunya minum.


Misel sangat haus dan minum dengan lahap. Philip berkata pelan, “Dulu keluargaku tinggal di desa. Rumahku tidak termasuk kaya, tapi kehidupan kami cukup bagus. Keluarga kami adalah yang pertama di desa untuk membeli mobil, juga menjadi yang pertama untuk membeli rumah di kota. Ayah dan ibu bekerja dengan giat, juga berintegritas. Mereka paling dihormati oleh para pekerja proyek di sana. Ayah dan Ibu sangat berbudi pekerti. Mereka menaruh perhatian besar untuk mendidikku dan mengajariku banyak hal. Keluargaku bukan keluarga cendikiawan, tapi kami adalah keluarga harmonis.”


Setelah Misel selesai minum, Philip menutup tutup botolnya. Dia melanjutkan, “Sampai pada tahun itu, teman masa kecil Ayahku bertamu ke rumah. Dulu dia miskin, tapi kemudian menjadi kaya berkat bantuan ayahku. Setiap kali ada bisnis, Ayah selalu mengajaknya untuk kerja bareng. Setiap kali dia mengalami kesulitan dana, Ayah selalu ikhlas padanya. Pada kali itu, dia mengungkapkan kesulitannya. Dia bilang investasinya gagal. Dia memohon pada Ayah untuk izinkan dia utang uang proyek. Tidak hanya begitu, dia bahkan ingin pinjam uang.”


“Lalu?”


“Siang hari itu, mungkin karena kesulitannya sudah teratasi berkat Ayah dan Ibu, Paman itu juga berseri-seri wajahnya. Mereka minum bir dengan sangat girang sampai sore hari. Adik merengek mau pergi dari meja makan, maka Ibu suruh aku bawa dia tidur siang. Tepat ketika itu, tiba-tiba rumahku berguncang dahsyat. Kami semua tidak kuat berdiri. Tiang penyangga rumah pun patah. Ibu langsung memeluk kami, tapi Ibu sama sekali tidak bisa berdiri stabil. Saat semen ambruk, Ayah langsung menarik kami. Aku melihat dengan mataku sendiri di mana papan semen yang amat besar menghantam kepalanya sampai penyok.”

__ADS_1


“Setelah Ayah terhantam, lampu gantung besar di rumah juga jatuh. Aku ingat saat keluarga kami baru beli rumah baru, kami memasang lampu gantung yang cantik. Saat lampu dinyalakan, cantiknya seperti dunia dongeng. Aku dan adik suka berbaring di lantai di bawahnya untuk melihat lampu gantung itu. Hari itu Ibu juga sangat senang. Dia memegangi tangan Ayah, lalu kami sekeluarga menari dengan wajah tersipu di bawah cahaya lampu. Sangat malu, tapi segera menjadi senang. Aku masih ingat Ayah memeluk kami di bagian tengah rumah baru di bawah lampu gantung besar, lalu bilang kelak keluarga kami tidak akan hidup miskin lagi … Namun, lampu gantung besar itu jatuh dan langsung mengenai tubuh Ibu. Ibu tertimpa di lantai dan tidak bisa merangkak bangun.”


“Aku dan adik berusaha keras untuk mendorong lampu gantung besar itu, tapi kami terlalu kecil. Tidak peduli bagaimana kami berusaha, kami juga tidak mampu mendorongnya. Saat itu Ibu tidak bisa melihat apa-apa karena tertimpa. Dia tanya kami bagaimana kondisi Ayah. Aku tidak berani bilang kalau Ayah sudah meninggal. Jadi aku bilang aku tidak melihatnya karena di dalam rumah penuh dengan debu. Aku memohon Paman itu untuk membantu. Dia memang datang untuk membantu. Bersama-sama kami mengangkat lampu gantung besar itu. Tenaganya jauh lebih besar dari kami. Sebentar lagi kami sudah berhasil menggeser lampu gantung besar itu.”


“Namun, tiba-tiba dia melirik ke meja. Di atas meja ada bukti pinjaman uang yang baru dia tandatangani dengan Ayah. Guncangan kedua hendak datang. Sebentar lagi Ibu sudah bisa keluar. Aku mengulurkan tangan dan ingin memegangi Ibu agar bisa keluar. Akan tetapi, mendadak Paman itu melepaskan lampu gantung. Aku hanya bisa melihat Ibuku tertimpa lagi. Dia langsung lari, tapi bukan berlari ke arah pintu. Dia berlari ke arah meja makan untuk mengambil bukti pinjaman uang dan sekantong penuh uang. Lalu dia kabur.”


“Saat itu aku langsung menangis. Aku menangis dengan keras. Aku bilang Paman, tolong kembali. Kami tidak mau uangnya, mohon bantu keluarkan Ibuku. Aku berlutut di lantai sambil merangkak ke luar. Aku ingin dia lihat aku berlutut dan mohon dia untuk mengasihani kami. Dia berdiri di depan rumah dan melihatku. Pada akhirnya dia tetap pergi.”


“Aku dan adik tidak bisa menggeser lampu gantung besar itu. Aku melihat Ibu kehilangan banyak darah. Rumah berguncang dengan dahsyat. Ibu mendorong aku dan adik keluar. Dia suruh aku bawa adikku pergi, tapi aku ingin membawa Ibu pergi sama-sama. Namun, Ibu seperti sudah gila. Saat kami mendekati lampu gantung, dia langsung mendorong kami keluar. Pada akhirnya Ibu bilang … Philip, kamu adalah pria jantan. Kelak Ibu serahkan Philbert padamu. Kamu harus lindungi dia.”

__ADS_1


“Aku menangis dengan sangat keras. Adik juga menangis. Saat itu dia terlalu kecil dan tidak paham banyak hal. Aku hanya bisa memeluknya dan berlari keluar. Setelah kami keluar, rumah kami belum ambruk. Ada beberapa kali aku ingin kembali ke dalam, tapi kakiku lemas dan aku tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa mendengar Ibu sedang menangis di dalam. Dia menangis sambil bilang dia sangat cinta kami. Dia suruh aku membesarkan adikku, lalu rumah kami ambruk … “


“Jelas-jelas baru ambruk lama setelahnya … jelas-jelas kami bisa kabur bersama Ibu kalau dia bersedia membantu. Saat dia mengalami kesulitan, Ayah dan Ibu pasti akan membantunya. Namun, saat Ibu tertimpa, dia malah mengantar kami sekeluarga ke dalam neraka.”


__ADS_2