
“Tidak perlu sampai begitu, ‘kan … jangan gegabah.”
“Bunuh! Bunuh bajingan ini!”
Aku berkata dengan suara dingin sambil melihat layar ponsel, “Kalian yang sembunyi di balik layar dan dengan senang hati menyaksikan kematian orang lain, sebenarnya kalian juga sama bajingannya seperti dia.”
Aku mematikan siaran langsung. Farhan memegangiku dengan tangannya yang masih sehat, lalu berkata sambil menangis, “Mohon ampunilah aku! Aku punya keluarga! Aku punya anak …”
Aku berkata, “Hidup atau mati, tergantung pada takdir. Kalau kamu bisa bertahan, Tuhan akan mengampunimu. Kalau kamu tidak bisa bertahan, jangan salahkan aku. Aku hanya patahkan satu tanganmu dan tusuk kamu satu kali dengan pisau. Kamu bisa pergi ke rumah sakit sendiri.”
Aku memegangi pisau dengan erat dan membidik perutnya.
“Ayah …”
Tepat ketika itu, tiba-tiba terdengar suara anak kecil.
Aku menoleh ke sana. Seorang anak perempuan yang berumur 5 atau 6 tahun berjalan keluar dari kamarnya sambil memeluk bantal. Rambutnya berantakan, matanya masih mengantuk. Dia berdiri dengan kaki telanjang di sana dan menggosok matanya dengan kuat. “Ayah, kenapa berisik sekali … “
Dengan tenang aku melihat anak perempuan itu, lalu bertanya pelan, “Putrimu?”
Farhan menjawab dengan gemetaran, “Iya … ini putriku.”
“Oh.”
Aku meletakkan pisau di tanganku dan mengambil taplak meja untuk menutupi lengan Farhan yang bengkok.
Anak perempuan itu bertanya dengan penasaran, “Ayah, siapa dia?”
“Aku teman ayahmu …” aku menghampirinya dan berkata dengan lembut, “Tadi aku sedang main dengan ayahmu, maaf membangunkanmu … kamu tidur lagi, oke?”
Anak perempuan itu jelas belum sepenuhnya bangun. Aku mendorongnya ke depan dengan pelan, lalu dengan patuh dia kembali ke kamarnya.
Farhan bergegas berkata, “Kumohon … jangan sakiti dia! Semua ini adalah salahku, jangan sakiti anakku!”
__ADS_1
Aku menoleh padanya dan berkata pelan, “Aku hanya ingin merayunya sampai tidur.”
Setelah masuk kamar, anak perempuan itu berbaring di ranjang. Ada banyak boneka di ranjangnya. Setiap bonekanya sangat bersih dan tidak berdebu.
Dia memilih salah satu boneka dan memeluknya. Dia mengedipkan mata, lalu melihatku dengan penasaran, “Mengapa Paman pakai topeng?”
Aku menjawab dengan pelan, “Paman jelek, tidak mau dilihat orang lain.”
“Ayahku juga jelek …” katanya. “Tapi guru bilang tampan atau jelek itu tidak penting karena hati yang indah adalah yang paling cakap. Yugo Leonard juga tidak tampan, tapi dia sangat baik. Semua orang mau main bersama dia. Aku juga mau bermain dengan dia.”
Aku berkata dengan suara lembut, “Apa dia temanmu?”
“Iya … panas …”
Aku mengulurkan tangan untuk meraba dahinya, memang sedikit panas. Jadi aku bantu dia menyalakan kipas angin, tapi tidak diarahkan padanya, melainkan berputar di dalam kamar.
“Tahan dulu, sebentar lagi sudah tidak panas … apa semua ini dibeli oleh ayahmu?”
“Iya, Ayah sering beli hadiah untukku.”
“Aku suka Ayah, tapi Ibu tidak suka Ayah …” tiba-tiba dia merendahkan suaranya dan berbisik di telingaku, “Paman, kuberi tahu satu rahasia ya. Ibu bilang Ayah tidak bisa cari uang dan setiap hari hanya bermain game, jadi Ibu tidak mau hidup bersama Ayah lagi. Sekarang aku juga hanya bisa datang ke rumah Ayah di hari Minggu, tidak bisa di hari lain.”
Aku tersenyum dan berkata, “Kamu beri tahu rahasia ini pada semua orang, ‘kan? Kamu ini tidak pandai jaga rahasia.”
Dia terkekeh. Aku mengulurkan tangan untuk mengelus kepalanya dengan pelan, lalu berkata dengan suara lembut, “Paman juga punya anak perempuan, dia jauh lebih kecil darimu.”
“Apa dia adalah bayi?”
“Iya … dia adalah bayi dan selamanya adalah bayi.”
Dia bertanya dengan penasaran, “Lalu siapa namanya?”
Aku memejamkan mata dan berkata pelan, “Selina … Selina Zulsafah.”
__ADS_1
Dia bertanya lagi, “Apa aku bisa lihat? Aku suka bayi.”
“Dia sedang melihatmu …” aku menunjuk ke luar jendela. “Dia akan menjadi bintang di langit dan terus mengawasi Paman tapi dia tidak sama sepertimu. Setiap minggu kamu bisa melihat Ayahmu, tapi selamanya dia tidak akan bisa melihat Paman.”
“Aku punya bintang.”
Tiba-tiba dia memutar badan untuk mencari-cari di tengah bonekanya. Pada akhirnya, dia menemukan satu boneka bintang dan memberikannya padaku. Dia berkata, “Kalau dia adalah bintang di langit, Paman bisa peluk bintang kalau rindu dia.”
Aku tertawa. “Kamu benar-benar kasih Paman?”
“Iya! Guru bilang kita harus bisa berbagi.”
“Kalau begitu … terima kasih. Cepatlah tidur, sayang.”
Dengan patuh dia memejamkan matanya. Setelah keluar dari kamar, aku berjalan menghampiri Farhan.
Dengan badan gemetaran, dia melihatku sambil memohon dalam bisikan, “Kumohon … anakku masih begitu kecil. Mohon kasihani dia …”
Aku mencabut pisau tadi, lalu melihat ke bawah padanya. Aku bertanya, “Kamu pasti tidak ingin biarkan dia melihat adegan ini, ‘kan?”
Badannya bergidik.
Aku menjambak rambutnya dan menyeretnya ke koridor di luar.
Hari itu, Fino meninggal di tempat ini.
Farhan masih menangis tersedu-sedu dan sesekali menoleh ke rumahnya. Mungkin dia berharap dapat melihat putrinya lagi.
Aku menekannya di lantai koridor dan menodong pisau di perutnya. “Seperti yang kukatakan tadi, hidup atau mati tergantung pada takdir.”
Selesai bicara, aku langsung menusukkan pisau ke dalam perutnya, tapi tidak mencabutnya.
Setelah itu, aku melepaskannya dan berkata dengan suara dingin, “Kamu bisa pergi ke rumah sakit sendiri, juga bisa panggil mobil ambulans. Ini adalah harga yang harus kamu bayar. Philbert Leo mati karena kamu, Fino juga mati karena kamu. Kalau kamu mati karena tusukan pisau ini, jadilah orang berhati nurani di kehidupan selanjutnya.”
__ADS_1
Dia duduk lemas di lantai sambil mendekap perutnya, seperti Fino yang duduk di sana pada waktu itu.
Dengan gemetaran dia mengambil ponsel untuk menelepon mobil ambulans. Aku hanya meliriknya sekilas dan tidak berkata apa-apa padanya. Lalu, aku langsung pergi.