Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 56


__ADS_3

Aku tahu betul tidak boleh berlama-lama di sini walau tidak ada orang di dalam hutan di siang bolong.


Aku menjambak kepalanya dan menariknya ke dalam hutan. Dia tentu tidak akan patuh begitu saja. Beberapa kali dia ingin kabur, tetapi ditarik kembali olehku.


Aku mengerutkan alis dan merasa orang ini sangat menjengkelkan.


Jadi aku mengambil busur silangnya dan membidiknya.


“Eh! Eh! Jangan bercanda! Itu ada racunnya! Ada racunnya!”


Dia sangat ketakutan. Dia duduk di tanah dan menendang-nendang kedua kakinya sambil merangkak ke belakang.


Aku mengerutkan alis dan berkata, “Jangan asal gerak … kalau tidak, tembakanku tidak bisa mengenaimu.”


Aku menarik pelatuk busur silang. Panah langsung terbang ke arahnya.


Dia menjerit histeris karena panah menusuk perutnya.


Sayangnya …


Ada tim penggali tambang di dekat sana.


Suara pengerjaan proyek dari tim penggali tambang yang menggelegar berhasil meredamkan jeritan histeris dan teriakan minta tolong dari Kevin.


Dia mendekap perutnya dengan badan gemetaran. Aku menjambak kepalanya dan menyeretnya berjalan ke depan. Aku berkata pelan, “Jangan asal gerak. Jangan sampai meninggalkan jejak darah … singkatnya, jangan buat masalah untukku, oke?”


Dia tidak punya tenaga untuk melawan saking sakitnya. Aku menyeretnya ke dalam hutan dan mencari tempat yang terpencil dari jalan raya.


Akhirnya ketemu.


Aku meletakkannya di permukaan tanah. Dia tidak lagi congkak seperti tadi, melainkan berkata sambil menangis, “Jangan … jangan begini, aku hanya membunuh seekor anjing. Tolong ampuni aku … “


Aku hanya melihatnya dengan tenang.

__ADS_1


Dia menangis histeris. Air mata dan ingusnya mengalir serentak.


Aku berkata, “Ini bukan niat awalku, bukan sama sekali … kamu tahu? Ada banyak orang yang mati di tanganku. Hanya kamu yang berbeda dengan mereka. Kamu telah menghancurkan hidupku dua kali.”


“Aku tidak paham apa maksudmu … bawa aku ke rumah sakit, kumohon! Aku akan mati, aku tidak mau mati!”


“Kamu kira kamu hanya membunuh seekor anjing. Bagi semua orang, kamu hanya membunuh seekor anjing … “ Aku berjongkok dan melihat matanya sambil berkata dengan tulus, “Hanya aku yang tahu kalau yang kamu bunuh adalah aku … aku yang awalnya masih bisa hidup di dunia ini. Ini pertama kalinya kamu menghancurkan hidupku.”


Darah mulai mengucur keluar dari mulutnya. Aku melanjutkan, “Kedua kalinya adalah sekarang. Kamu menghancurkan jiwaku. Aku tahu apa yang sedang kulakukan dan aku rela membayar harga apa pun atas hal ini … Kalau suatu hari aku mati karena hal ini, aku tidak akan menyesal. Aku sudah bersumpah pada Chiro kalau aku akan membalas dendam.”


Mulutnya penuh dengan darah sampai dia tidak bisa berbicara.


Dia memutar badan dan merangkak pergi dalam kesakitan. Setiap kali dia merangkak beberapa jauh, aku akan menarik kakinya dan menyeretnya kembali.


Dia sedang menangis, tetapi bukan menyesal atas dosanya.


Dia sedang mengalami apa yang Chiro alami sebelum mati.


Tidak ada yang mau mati. Semua orang akan menangis terhadap kemalangan mereka yang akan datang.


Aku menyeretnya ke sampingku dan duduk di punggungnya.


Seketika dia kehilangan tenaga untuk melawan lagi.


Setiap kali bernapas, dia akan mengeluarkan dengkuran aneh seperti ada sesuatu di dalam paru-paru yang menghalanginya menghirup oksigen.


Sama persis dengan Chiro sebelum dia mati.


Chiro bisa mati dengan tenang, tetapi tidak dengan orang ini.


Suara pengerjaan proyek dari tim penggali tambang masih berlangsung. Semua ini ditutupi oleh suara ributnya. Walau dia punya tenaga untuk berteriak minta tolong lagi, juga tidak ada yang bisa mendengar pengharapannya.


Aku ingin dia merasakan penderitaan Chiro sebelum mati dengan segenap hati dan pikiran.

__ADS_1


Tepat ketika itu, tiba-tiba ponselku berdering.


Aku mengambil ponselku dan melihat kalau itu adalah panggilan telepon dari Melly.


Aku mengangkat telepon dan berkata pelan, “Bagaimana?”


Dia berkata dengan cemas, “Aku sudah menemukan penyebab kematian Yudha!”


“Bagaimana dia mati? Bagaimana aku bisa menyelamatkannya?”


Dia menjawab, “Sudah tidak sempat! Satu jam lagi, dia akan bunuh diri!”


“Bagaimana mungkin?”


“Kuncinya ada pada Philip! Dia menculik Misel Patrisia, pacarnya Yudha di Jalan Firdaus. Lalu dia mengancam Yudha dengan nyawa pacarnya untuk bunuh diri dalam waktu dua puluh menit. Philip sangat licik dan tempat persembunyiannya sangat tersembunyi. Kepribadiannya juga gila, sama sekali tidak ada ruang untuk negosiasi. Persyaratannya sangat tegas. Kalau Yudha tidak melakukannya dalam satu menit, dia akan memotong satu jari tangan Misel. Dia akan memotong satu jari tangannya dalam setiap menit. Setelah sepuluh menit, dia akan memotong jari kakinya. Dua puluh menit kemudian, dia akan memotong kepalanya.”


Ini …


Tiba-tiba aku teringat pada Philip yang tampak sopan bersahaja.


Ternyata aksinya akan segila itu?


Aku bertanya dengan cemas, “Dia benar-benar melakukannya?”


“Iya! Berdasarkan informasi sepuluh tahun lalu yang aparat kepolisian beritahukan padaku, Yudha langsung menyuruh rekannya melacak lokasi pacarnya. Satu menit kemudian, Philip langsung memotong jarinya. Namun, itu hanya tipu muslihat. Memanfaatkan sudut rekaman video yang tidak menyeluruh, dia memotong jarinya sendiri dan membuat Yudha salah paham kalau itu adalah jarinya Misel. Yudha tidak berani mempertaruhkan nyawa pacarnya, maka dia memenuhi permintaan Philip. Dia melompat dari lantai atap rumah sakit dan mati di tempat.”


Aku mendesis kaget, “Philip memotong jarinya sendiri?”


“Benar. Berdasarkan data sepuluh tahun lalu yang aparat kepolisian berikan, dari awal hingga akhir Philip juga tidak melukai orang lain selain Yudha. Dia hanya mengincar Yudha. Hal ini adalah hal tabu pada sepuluh tahun yang lalu. Aparat kepolisian tidak ingin seluruh warga tahu bahwa pahlawan polisi terbesar di kota gugur seperti ini. Kapten besar pada saat itu juga khawatir Misel akan terluka oleh hujatan opini publik yang tidak logis. Jadi hal ini tidak diumumkan.”


“Lalu setelah Yudha bunuh diri? Apa Philip menepati janjinya?”


“Setelah memastikan Yudha sudah meninggal, Philip memang melepaskan Misel dan membiarkan aparat kepolisian menangkapnya.”

__ADS_1


Dia memang menepati janjinya …


Melly berkata dengan suara gemetar, “Dia hanya menakut-nakuti Yudha. Kalau kamu memberi tahu dia tepat waktu, mungkin dia tidak akan melompat dari gedung!”


__ADS_2