Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 52


__ADS_3

Suara Misel menjadi dingin, “Kalau dalam seumur hidup ini aku tidak bisa bersama orang yang kucintai, apa artinya banyak harta?”


Tiba-tiba Almira bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak bersama kamu?”


Misel terbengong.


Almira berkata sambil menunjukkan angka delapan dengan jarinya, “Delapan tahun! Kalian sudah pacaran selama delapan tahun! Sampai sekarang dia juga belum menikahimu. Jangan bilang kalau Ibu keterlaluan. Orang tua mana yang tidak berpikir demi kebaikan anaknya sendiri? Nak, lihat seperti apa kehidupanmu dalam beberapa tahun ini!”


Misel yang tadinya masih berdebat pun tidak bisa berkata-kata saat mendengar “sampai sekarang juga belum menikahimu”.


Almira melanjutkan, “Betapa cantiknya putriku? Agus yang keluarganya begitu kaya juga terpikat olehmu. Memangnya penghasilanmu lebih rendah dari punya Yudha? Memangnya pekerjaanmu lebih buruk darinya? Lihatlah kamu. Setiap hari kamu terus mengejar di belakangnya. Dia bilang tunggu nanti, kamu benar-benar tunggu sampai sekarang. Kamu sudah tunggu dia selama delapan tahun. Kamu masih mau tunggu berapa lama lagi? Kalau suatu hari dia mati, apa artinya penantianmu sekian lama ini? Itu pistol! Itu luka tembakan pistol! Barang yang tidak akan ditemui sepanjang hidup oleh orang biasa seperti kita!”


Misel menggigit bibirnya. Wajahnya memerah, lalu dia berbisik, “Dia akan menikahiku.”


“Dia tidak bermaksud untuk menikahimu! Dia sudah terluka pun tidak ingin bicara denganmu. Dia sudah muak denganmu, paham tidak? Kalau dia benar-benar cinta kamu, sekarang kamu adalah sandaran satu-satunya yang dia punya.”


“Sudah kubilang! Dia akan menikahiku!”


Misel berkata tiba-tiba, lalu dia memutar badan dan pergi ke bangsal.


Mendadak aku punya firasat buruk.


“Yudha!”


Dia membuka pintu bangsal. Matanya yang cantik menatap lurus pada Yudha.


Misel menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Aku tahu kamu punya banyak kesulitan dalam menjadi polisi. Aku tahu kamu selalu harus melaksanakan misi berbahaya. Namun, sudah bertahun-tahun lamanya aku berpacaran denganmu. Aku tidak pernah menyesal atas keputusanku. Aku suka kamu, sangat amat suka kamu. Apa kamu tahu apa yang dikatakan oleh para tetangga dan tetua padaku? Mereka diam-diam bilang aku murahan, rendahan, dan selalu mengejar di belakangmu … “


“Kamu selalu suruh aku tunggu sebentar lagi dan selama ini aku juga percaya padamu. Mengapa aku menurutimu selama bertahun-tahun ini? Itu karena aku bisa merasakan kamu cinta aku. Jadi aku juga akan memperlakukanmu dengan segenap cintaku. Akan sangat memalukan untuk diulangi, tapi aku masih ingin mengatakannya. Aku suka kamu, sangat suka kamu. Aku tidak peduli betapa bahayanya misimu, tidak peduli apakah aku akan khawatir selama sepanjang hidup, aku sudah membuat keputusanku. Aku ingin hidup bersamamu untuk selamanya … “

__ADS_1


“Jangan suruh aku tunggu lagi. Beri aku jawaban yang jelas. Aku tidak sedang bercanda denganmu. Ini benar-benar adalah terakhir kalinya aku tanya kamu. Aku juga punya harga diri dan batasnya. Yudha Setiawan … sebenarnya kamu mau menikahi aku atau tidak?”


Aku tidak tahan untuk mendesah dalam hati saat melihat adegan ini.


Malah di saat ini.


Almira masuk ke bangsal dan tidak tahan untuk berkata, “Iya, ayo beri jawaban yang jelas pada putriku. Sebenarnya kamu mau menikahi dia atau tidak? Kami benar-benar tidak sudi menunggumu selama bertahun-tahun.”


Misel berteriak dengan marah, “Diam! Aku sedang tanya dia! Biarkan dia pikir sendiri!”


Almira langsung menutup mulutnya dan tidak berbicara lagi.


Yudha membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu. Pada akhirnya, dia hanya bisa berkata, “Tunggu … tunggu sebentar lagi, oke?”


“Tidak mau! Ayo jawab, kamu mau nikahi aku atau tidak?”


Yudha memalingkan kepala dan melihat luka di lengannya dengan tenang.


Setelah terdiam lama, akhirnya Yudha menjawab, “Untuk sementara … belum mau.”


Ekspresi di wajah Misel berangsur-angsur menjadi kaku.


Dia mengendus hidungnya, lalu tiba-tiba memutar badan dan pergi. Dia bahkan tidak melirikku saat berjalan melewatiku.


Almira memelototi Yudha dengan jengkel. “Polisi macam apa kamu ini!”


Dia menutup pintu bangsal. Saat ini hanya tersisa aku dan Yudha di dalam bangsal.


Aku meletakkan botol air di meja. Yudha menundukkan kepala dan berkata pelan, “Hari ini aku hampir mati.”

__ADS_1


“Hhmm?”


“Moncong pistolnya begitu dekat denganku. Saat itu, reaksi pertamaku adalah tentang dia. Itu adalah waktu yang sangat singkat, tetapi dalam benakku terlintas akan momen-momen bersama kami selama bertahun-tahun.”


“Jadi sekarang kamu lebih khawatir akan menyulitkan hidupnya?”


“Aku sangat cinta dia dan hanya akan cinta dia dalam seumur hidupku … “ gumam Yudha. “Kalau aku cinta, bagaimana bisa aku membiarkannya menjadi wanita janda? Saleh, hanya kamu yang bisa memahamiku.”


Aku duduk di ranjang sambil bermain ponsel. Aku berkata dengan kalem, “Tidak, aku tidak paham. Setiap kali kamu hanya mementingkan pemikiranmu sendiri, tapi tidak pernah peduli bagaimana pemikiran orang lain. Kamu khawatir dia menjadi wanita janda, tapi kamu tidak pernah berpikir kalau dia rela menanggung risiko menjadi wanita janda untuk mencintai kamu. Selama bertahun-tahun, kamu telah memecahkan banyak kasus dan menangkap banyak oknum kejahatan. Sudah sekian lama dia bersamamu, memangnya dia tidak tahu apa artinya kalau dia menjadi istrimu? Namun, pada akhirnya kamu mengecewakan tekadnya dan menghina harga dirinya.”


“Bagaimana aku tega membiarkannya hidup seperti itu?”


“Singkatnya, menurutku kamu hanya mengharukan dirimu sendiri. Lebih sederhana lagi … menurutku kamu adalah idiot.”


Sepulangnya ke rumah, aku berbaring di sofa dan melihat ponsel dengan tenang.


Sudah larut malam.


Sudah saatnya istirahat.


Namun, aku sama sekali tidak mengantuk. Dalam benakku tidak memikirkan apa-apa saat aku memandang langit-langit yang gelap, tetapi pikiranku tidak bisa tenang.


Aku mencoba mengulurkan tangan ke belakang untuk mengusap kepala Chiro.


Akan tetapi, aku hanya meraba sofa yang kosong melompong. Aku baru sadar kalau Chiro sudah tiada.


Entah mengapa tiba-tiba hatiku dilanda ketakutan yang amat besar.


Aku tidak merasakannya saat pergi membunuh Daniel, tidak saat aku menghadapi pengejaran dari aparat kepolisian, bahkan juga tidak saat aku menyelinap ke tempat tinggal kakak beradik keluarga Leo.

__ADS_1


Jelas-jelas aku bukan orang yang punya rasa takut. Saat Yudha membidikku dengan pistolnya, aku bahkan hanya tersenyum.


__ADS_2