
Aku turun ke bawah sambil memegangi boneka bintang. Aku mengangkat kepala untuk melihat langit, tapi malam ini kelam kelabu sehingga tidak bisa melihat bintang.
Pernikahan Misel sudah tidak sampai satu hari lagi.
Sepulangnya ke rumah, aku memeluk boneka bintang dan melamun sambil melihat foto pernikahan di dinding. Tidur sudah tidak lagi berkaitan denganku.
Aku terus melamun sampai fajar menyingsing.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi.
Aku pergi membuka pintu dan melihat Jenni sedang berdiri di depan rumahku.
Dia berseru kaget saat melihatku, “Ini … ini pakaian pemburu kriminal, ‘kan? Kenapa kamu belum ganti baju?”
“Tidak perlu ganti lagi …” kataku. “Kenapa kamu datang?”
“Cepat ganti! Aku sudah mendengar beritanya dari rekan kerjaku, jadi aku langsung datang untuk tanya kamu.”
Dia bergegas masuk ke ruang tamu dan menekan tombol remote TV.
Layar televisi menyala. Dia mengganti salurannya dan muncul berita dari stasiun TV.
“Pak Farhan telah diberi penanganan setelah diserang oleh pemburu kriminal, serta bersedia untuk menerima wawancara kita …”
Farhan muncul di layar TV. Wajahnya putih pucat, jelas masih ketakutan.
“Pak Farhan, apakah ada yang ingin dibicarakan dengan kami?”
__ADS_1
Dia menelan ludah. Dia melihat kamera dengan bengong dan berkata dengan gemetaran, “Aku salah … dengan sungguh-sungguh aku minta maaf pada kalian semua atas perbuatan dan perkataanku sebelumnya. Aku benar-benar sudah menyadari kesalahanku. Kelak aku akan berubah dan menjadi orang yang lebih baik, serta menebus kesalahanku dengan tindakan nyata. Aku ingin memohon pemburu kriminal, mohon maafkan aku … juga terima kasih kemarin kamu telah mengampuni nyawaku. Aku pasti akan menghargai nyawaku ini, pasti!”
Tampaknya dia sangat ketakutan …
Jenni menoleh padaku dan bertanya, “Apa itu perbuatanmu? Bagaimana bisa aksimu gagal?”
Aku menjawab, “Kamu banyak tanya, memangnya mau buat wawancara khusus untukku?”
Dia berbisik, “Aku hanya tidak menyangka kamu akan pergi cari dia. Dalam ingatanku, kamu hanya mengincar pelaku kriminal, tapi dia bukan.”
Tiba-tiba ada yang berseru kaget di dalam layar, “Pak Yudha!”
Kameramen bergegas berlari ke koridor sehingga kameranya bergoyang-goyang. Mereka berhasil mengejar Yudha, lalu wartawan bertanya, “Pak Yudha, rumornya selama ini Bapak yang bertugas dalam kasus pemburu kriminal. Kali ini pemburu kriminal mengubah sasarannya yang berbeda seperti dulu, serta menciptakan kegaduhan besar di kalangan masyarakat. Apakah ada yang ingin Bapak katakan?”
Yudha sedang sembunyi di koridor untuk merokok. Dia berkata pada kameraman, “Jangan asal rekam, oke? Setidaknya tunggu aku selesai rokok dulu … ada anak di bawah umur di depan TV, kalian jangan contohi aku merokok di dalam rumah sakit ya. Akan kupadamkan sekarang juga.”
Dengan patuh kameramen mengalihkan kameranya ke samping. Setelah Yudha selesai memadamkan rokoknya, kamera kembali diarahkan padanya. Lalu wartawan bertanya, “Pak Yudha, apa ada yang ingin dikatakan?”
Wartawan bertanya lagi, “Apa Pak Yudha mengatakannya pada pemburu kriminal?”
Yudha memutar badan seakan malas berbicara dengan wartawan.
Jenni melihat layar TV dengan ekspresi muram. Dia berkata, “Sepertinya dia sangat marah, tidak seperti saat kuwawancarai sebelumnya.”
Sambil menopang dagu dengan satu tangan, aku melihat layar TV dengan tenang. Aku tersenyum getir dan berkata, “Apa-apaan agar pengorbanan orang baik menjadi berarti … kalau orang jahat dibiarkan hidup bebas di dunia ini, itu adalah penghinaan terbesar pada orang baik.”
Jenni mengerutkan alis, tapi tidak berkomentar.
__ADS_1
Kamera kembali diarahkan pada Farhan dan putrinya. Farhan masih meneteskan air mata. “Aku benar-benar ingin memohon pemburu kriminal untuk mengampuniku. Aku tahu perbuatanku waktu itu sangat bodoh. Sebenarnya begini, aku punya putri yang mengidap penyakit bawaan. Setiap bulan butuh banyak uang untuk pengobatannya …”
Dia mengeluarkan nota-nota pembayaran dari rumah sakit dan melanjutkan, “Aku bekerja untuk cari uang, tapi dulu aku tidak giat belajar sehingga tidak punya pekerjaan dengan gaji tinggi. Istriku juga meninggalkanku karena ini. Jadi aku selalu melakukan siaran langsung. Penonton suruh aku lakukan apa, maka aku akan melakukannya … aku tahu aku salah, ini bukan alasan.”
Anak perempuan itu berdiri di samping ayahnya sambil memeluk boneka. Sesekali dia menyeka air matanya.
Matanya merah karena menangis. Dia bertanya pada wartawan, “Kenapa mau bunuh Ayahku?”
Wartawan menjawab, “Itu karena ada orang yang merasa Ayahmu melakukan kesalahan.”
Anak perempuan itu menangis sambil mengerutkan bibirnya, “Tapi guru bilang tidak apa-apa selama dia menebus kesalahannya. Mengapa tidak beri Ayahku kesempatan untuk memperbaiki diri? Apakah ajaran guru salah?”
Kameramen yang blak-blakan langsung berkata, “Ada polisi yang mati karena Ayahmu, apa kamu tidak tahu?”
Wartawan langsung menoleh padanya. “Jangan asal bicara, ini siaran langsung!”
Terdengar makian dan teguran staf lain di luar kamera.
Sepertinya kameramen dimarahi oleh sutradara. Dia berkata sambil menahan amarah, “Aku akan diam, biar aku lanjut rekam, oke?”
“Turun!”
Ada yang berseru dengan marah. Lalu kameranya bergoyang-goyang, sepertinya kameramen itu digantikan oleh orang lain.
Namun, anak perempuan itu sangat keberatan dengan perkataan tadi. Dia bertanya, “Kalau Ayahku mati, apakah Paman polisi bisa pulang? Kalau tidak bisa, mengapa Ayahku harus mati juga? Apakah Paman polisi mau ayahku mati?”
Semua orang terdiam, tidak ada yang bisa berkata-kata.
__ADS_1
Jenni melihat ponselnya dan berkata dengan pelan, “Opini publik berubah arah … semuanya memaki kamu. Awalnya kamu dijunjung tinggi oleh semua warga, tapi sekarang malah dicemooh oleh semua orang.”
Aku mengangguk dan lanjut melihat anak perempuan itu.