Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 59


__ADS_3

“Aku membawa adik berjalan keluar. Ada banyak tempat yang menjadi desa terlantar karena gempa tahun itu. Di mana-mana ada orang yang tertimpa. Adik masih kecil, dia merengek tidak mau pergi dan sangat takut. Dia tidak mau melihat orang mati lagi. Lalu aku memikulnya dan suruh dia tutup mata. Di sepanjang jalan yang gersang penuh dengan mayat-mayat … Ada beberapa kali aku ingin berbaring saking lelahnya, tapi aku ingat pesan Ibu padaku untuk merawat adikku.”


“Jalanan pun rusak. Bisakah kamu percaya? Saat aku dan adikku sedang berjalan di sana, tiba-tiba jalan rayanya retak. Lalu kami jatuh ke bawah. Saat itu aku pikir, tamatlah dan kami akan mati di sana. Kami terjebak di bawah. Adik terus menangis. Dia bilang mau pulang dan cari Ibu. Aku juga ingin menangis, tapi aku tidak bisa. Aku bilang kami pasti akan pulang. Sesekali ada batu yang jatuh ke dalam lubang. Aku melindungi adik dengan badanku sendiri. Punggungku lebam karenanya.”


“Setelah itu, ada sebuah tangan yang mengulur ke dalam. Polisi sudah datang. Lalu mereka menyelamatkan kami. Saat itu aku baru tahu kami sudah aman. Kemudian, aku dan adik hidup saling bergantungan. Kami dibesarkan oleh kerabat. Aku menceritakan tentang Paman itu, tapi dia membantah dan bilang kami omong kosong karena masih kecil. Dia bilang dia sama sekali tidak mengambil uang dan bukti pinjaman. Dia hanya kabur karena takut akan ada gempa lanjutan. Saat kerabat kami mendatanginya, dia bahkan berlagak polos. Dia bilang dia hanya ingin bertahan hidup dan apa salahnya itu?”


“Hukum tidak dapat menegakkan keadilan untuk kami. Aku melihat dengan mataku sendiri bahwa Ibuku meninggal di rumah, tapi hukum tidak bisa membalas dendam untuk Ibu. Setelah gempa kali itu, adik menjadi janggal. Perasaannya mudah terangsang. Awalnya kerabat masih bisa memaklumi. Lama-kelamaan, semua orang bilang adikku sakit jiwa dan mungkin akan mendatangkan kemalangan kalau membesarkan kami. Setelah aku beranjak dewasa, kami tidak lagi hidup mengandalkan mereka. Aku menyewa rumah dan mencari pekerjaan untuk menghidupi adikku. Aku membawanya ke dokter. Dokter bilang dia terkena PTSD. Mungkin suatu hari nanti dia akan sembuh, juga mungkin tidak akan sembuh untuk selamanya. Dia sendiri juga tidak yakin.”


“Tidak peduli bagaimana kondisinya, aku selalu akan merawatnya. Ini adalah janji terakhirku pada Ibu. Teman masa kecil yang meminjam uang Ayahku malah menjadi kaya raya. Dia tidak pernah kembali lagi setelah menjadi kaya. Aku tahu dia sedang menghindariku. Kemudian, adik juga beranjak dewasa. Perasaannya mudah terangsang sehingga sama sekali tidak bisa bekerja. Aku khawatir aku tidak mampu menghidupinya, maka aku bawa dia ke kota.”


Tiba-tiba Misel bertanya, “Orang yang mati … Pamanmu itu?”


Philip mendekap matanya. Dia menyeka air matanya dan bergumam, “Tuhan memberkati. Aku menemuinya di tengah lautan manusia. Selamanya aku akan mengingat dendam di mana dia membiarkan Ibuku mati dalam putus asa di rongsokan itu. Saat menemuinya lagi, dia memakai jas dan mengendarai mobil mewah, tampak sangat sukses. Aku bilang pada adikku … kalau hukum tidak dapat menegakkan keadilan untuk kami, kami akan menuntut keadilan untuk diri sendiri!”


“Kami memukulnya hingga pingsan dan menyeretnya pergi. Di dalam hutan, dia mohon ampun pada kami. Dia juga menangis di depan kami. Namun, hati kami sama sekali tidak tersentuh. Aku tanya dia … apa dia masih ingat bagaimana Ibuku menangis saat gempa itu? Dia sangat takut mati. Jadi dia beritahukan sandi kartu ATM-nya pada kami. Namun, aku tidak berencana membiarkannya hidup.”

__ADS_1


“Ibu meninggal di tengah bebatuan. Aku juga akan membunuhnya di tengah bebatuan. Kondisi psikologis adikku sangat buruk. Dia terus memukulnya dengan batu, tapi aku tidak mencegahnya. Itu adalah karma yang semestinya dia peroleh. Kami memukulnya sampai mati dan menguburnya di sana. Bagaimana Ibu meninggal di tahun silam, begitulah dia mati. Setelah bunuh dia, kami hidup dalam persembunyian … kami hanya membunuhnya, tidak pernah melukai orang lain dan tidak pernah melakukan pelanggaran hukum. Aku selalu bilang pada adikku … kami tidak bersalah, kami hanya membalas dendam untuk Ibu.”


“Aku hanya memiliki adikku … aku tahu perbuatanku salah, tapi aku hanya memiliki adikku. Di tahun itu, kami berjalan sampai sangat jauh di jalanan yang gersang … Di tahun itu, kami telah menemuinya banyak mayat dan berhasil selamat dari maut. Perbuatanku tidak benar, tapi dendam atas kematian adikku … harus dibalas!”


Misel menangis sambil berkata, “Yudha tidak mungkin asal bunuh orang! Aku sudah dengar dari anak buahnya. Jelas-jelas adikmu yang menembak lebih dulu!”


“Apa itu penting?” gumam Philip. “Bagi orang-orang yang bertahan hidup mengandalkan sedikit kenangan seperti kami, apakah moral dan hukum di mata kalian penting?”


Misel ingin berbicara lagi, tapi Philip mengambil sehelai kain untuk menyumbat mulutnya.


Saat aku melihatnya, aku seolah-olah telah melihat diriku.


Dia adalah orang yang sama sepertiku.


Philip mengambil ponsel Misel dan melakukan panggilan video dengan Yudha.

__ADS_1


Panggilan video segera tersambung. Lalu terdengar suara Yudha, “Sayang, akhirnya kamu telepon aku. Aku salah, aku … “


Dia tiba-tiba terdiam di tengah kalimatnya karena dia sudah melihat wajah Philip.


“Pak Yudha … “ Philip menggosok matanya yang dipenuhi garis merah. Dia berkata pelan, “Aku tidak mau basa-basi denganmu. Kamu telah bunuh adikku, maka aku juga bisa bunuh orang yang kamu cintai. Sekarang aku akan melakukan transaksi denganmu. Entah kamu mati atau dia yang mati.”


“Philip! Tenangkan dirimu! Apa yang mau kamu lakukan?”


“Tidak perlu negosiasi denganku. Aku tidak mau dengar. Sekarang kuberi waktu dua puluh menit. Kamu mati sekarang juga. Aku akan telepon lagi setelah satu menit. Kalau kamu masih hidup, aku akan potong satu jarinya. Aku akan potong satu jarinya setiap satu menit. Setelah jari tangannya dipotong semua, aku akan potong jari kakinya. Lalu kepalanya.”


“Kamu sedang menakut-nakuti aku?”


“Aku tidak berniat untuk menakut-nakuti kamu. Aku hanya menuturkan hal yang seratus persen akan kulakukan. Sekarang waktunya akan dihitung mundur … “


Tiba-tiba Philip berhadapan dengan Misel dan berjongkok sambil membelakangiku. Dengan tenang dia melihat Yudha di layar ponsel. “Seperti yang kubilang, satu menit nanti … kuharap kamu sudah mati.”

__ADS_1


__ADS_2