
“Aku paling tidak suka mendengar perkataanmu …” kataku dengan suara dingin. “Sebaiknya kamu diam saja.”
Dia pun terdiam. Lalu aku terus mundur sambil menyandera Misel.
Aula acara ini memiliki dua pintu. Satunya adalah pintu utama yang kami lalui tadi, sedangkan satunya lagi adalah pintu belakang yang mirip pintu evakuasi.
Namun, aku sudah mengujinya saat baru datang. Seperti di kebanyakan tempat umum, klub pribadi ini juga adalah tempat yang tidak menaati sistem keamanan kebakaran. Pintu belakangnya terkunci, maka semua orang hanya bisa keluar masuk melalui pintu utama.
Yudha menatap lurus padaku, tapi dari tadi dia tidak merogoh pistolnya.
Aku membawa Misel mundur sampai ke depan pintu utama. Para anggota tim reskrim regu dua juga bergegas mengikutiku.
Almira panik sekali dan berteriak pada mereka, “Kalian jangan kejar lagi, oke? Dia sudah bilang dia telah pasang bom di sini! Dulu dia adalah menantu aku, aku lebih memahaminya dari siapa pun. Dia pasti telah benar-benar pasang bom! Kalau kalian terus ikuti dia, dia akan bunuh putriku dan ledakkan kita semua! Kalian para polisi ingin membunuh kami semua ya?”
Yudha menoleh dan berteriak dengan marah, “Diam kamu! Kalau bukan karena kamu, bagaimana mungkin akan terjadi hal-hal seperti ini?”
Almira terkejut dan langsung terdiam.
Aku berkata dengan suara dingin, “Yudha, suruh anak buahmu jangan kejar lagi. Paling-paling aku hanya izinkan kamu sendiri untuk ikut keluar.”
Dia jawab, “Oke, aku akan suruh mereka jangan kejar lagi. Jangan sakiti Misel … aku percaya kamu tidak akan tega melakukan ini padanya. Jangan lupa dia adalah adiknya siapa.”
“Selama kalian patuh, aku tidak akan sakiti dia.”
Aku sudah mundur sampai di luar pintu aula acara.
Koridornya sepi dan tidak ada seorang pun. Semua orang berada di dalam aula acara.
Ada orang yang tidak tahan untuk menangis, juga ada yang memaki polisi karena mengikutiku dengan terlalu dekat.
Aku dan Yudha mundur ke luar pintu. Di lantai depan pintu ada gembok bentuk U dengan kunci yang tertancap di lubangnya.
Aku berkata dengan suara dingin, “Kunci pintunya sampai paling erat.”
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu dengan patuh mengambil gembok bentuk U dan mengunci pintunya.
__ADS_1
Aku berkata lagi, “Lempar kuncinya ke dalam.”
Dia merapatkan bibirnya dan memegangi gagang pintu. Di bawah pengaruh gembok bentuk U, pintunya hanya bisa terbuka sampai ada sedikit celah, tapi cukup untuk melemparkan kuncinya ke dalam.
Setelah melemparkan kuncinya ke dalam, dia berkata, “Apa sekarang sudah oke? Lepaskan Misel dulu.”
Aku lanjut membawa Misel mundur ke belakang. Saat sampai di ruang tata rias, aku berkata padanya, “Masuk ke dalam.”
“Aku tidak mau masuk …” katanya dengan cemas. “Kakak Ipar, sebenarnya kamu mau apa?”
“Masuk!”
Aku mendorongnya masuk, lalu mengambil kursi tata rias di dalam. Setelah menutup pintu, aku menyumbat gagang pintunya dengan kursi itu.
Dia berjuang untuk membuka pintu, tapi bagaimanapun juga tidak bisa menggerakkan gagang pintunya.
Seketika itu, hanya tersisa aku dan Yudha di koridor yang kosong ini.
Yudha melihatku sambil bergumam, “Benarkah kamu adalah pemburu kriminal?”
“Kalau itu kamu, mengapa kamu mengatakan semuanya …” Sekujur tubuhnya geemtaran. “Awalnya kami hanya tahu kamu telah bunuh satu orang. Dengan bodohnya aku berpikir mungkin aku bisa tunggu sampai kamu keluar penjara … mengapa kamu menceritakan semuanya?”
Aku tertawa. “Sebagai polisi, apakah sekarang kamu sedang ajari aku untuk berbohong pada polisi?”
“Aku hanya mau tahu apa alasannya!”
Aku membuang pisau di tanganku dan menengadahkan kedua tanganku padanya. “Untuk satu kali ini saja, bisakah kamu dia? Kalau kamu adalah temanku, biarkan aku pergi.”
“Aku adalah polisi, aku tidak mungkin akan membiarkanmu pergi.”
“Kalau begitu, kamu bisa tembak aku.”
“Aku adalah temanmu dan sekarang kamu tidak pegang senjata. Aku tidak mungkin tembak kamu.”
Aku berkata dengan tidak berdaya, “Lalu sebenarnya kamu mau bagaimana?”
__ADS_1
Tiba-tiba Yudha melepaskan pistolnya dan membuangnya di dekat pintu. “Kamu tidak pasang bom, ‘kan?”
“Benar.”
“Baguslah kalau begitu …”
Dia menghampiriku selangkah demi selangkah, lalu berkata dengan suara dingin, “Aku akan kalahkan kamu.”
Aku tertawa. “Dasar bodoh, kamu tidak pernah menang bertarung denganku.”
“Keparat!”
Tiba-tiba dia mengumpat, lalu menyerbu ke arahku.
Kecepatannya sangat tinggi. Dia langsung melontarkan serangan menyamping. Secara refleks aku tangkis dengan kedua lenganku, tapi aku mundur beberapa langkah ke belakang karena tendangannya.
Sebelum aku sempat bereaksi, sekali lagi dia maju dan meninju wajahku.
Sakit sekali …
Ternyata dia begitu pandai bertarung?
“Mengapa kamu bunuh orang? Mengapa kamu bunuh orang?”
Sambil memegangi kepalaku, dia melompat ke atas dan menghantamkan lututnya pada wajahku. Dia berteriak dengan marah, “Jelas-jelas kamu tahu betapa berharganya nyawa seseorang. Mengapa kamu malah pilih hal yang paling tidak patut dilakukan?”
Kepalaku sedikit pusing, lalu dia menahan kepalaku ke dinding. Dia menekan wajahku dengan sekuat tenaga dan berkata sambil menggertakkan gigi, “Mengapa kamu merenggut nyawa orang lain? Masing-masing orang punya keluarga yang sedang tunggu mereka pulang ke rumah.”
Aku meludahkan liur yang bercampur darah. Sambil tersenyum bengis, aku berkata, “Apakah benar nyawa semua orang itu setara? Bagaimanapun juga tidak logis untuk menukar nyawa buronan dan vonis penjara dengan kehidupan bahagia bagi warga yang bijaksana dan tidak berdosa! Bukanlah manusia yang kubunuh, tapi binatang! Keadilan akan datang terlambat … tapi aku tidak akan telat!”
Yudha berteriak dengan marah dan hendak menjatuhkan aku. Namun, aku menendang perutnya. Dia membungkukkan badan karena kesakitan, tapi tetap memelukku dan membanting aku di lantai.
Dia berteriak dengan marah, “Keadilan memang akan terlambat, tapi apakah kamu benar?”
“Aku lebih efektif daripada polisi, lebih bisa diandalkan daripada hukum! Kita semua menaruh harapan pada hukum, tapi pada akhirnya, apa yang diberikan oleh hukum pada kita? Hanya penderitaan dan keputusasaan!”
__ADS_1
Dia menahan aku dengan sekuat tenaga dan berkata sambil menggertakkan gigi, “Polisi menangkap penjahat untuk disidang di pengadilan, bukan hanya sekadar untuk memperjuangkan keadilan, juga supaya hukum yang tidak sempurna menjadi lebih sempurna setelah berulang kali diasah. Saleh … kamu memang sedang membasmi kejahatan untuk menegakkan keadilan, tapi motivasimu hanya dari hatimu! Dalam duniamu, kamu adalah pemeran utama yang berjaya. Sementara itu, motivasiku adalah kesejahteraan rakyat. Dalam duniaku … aku hanya peran kecil, tapi aku tidak akan pernah menyesalinya!”