Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 49


__ADS_3

“Letakkan pistolmu! Cepat letakkan!”


Philbert memegangi pistolnya dengan erat. Lalu Philip berteriak, “Jangan sembarangan! Mereka itu orang baik!”


“Dia bilang, polisi akan tembak aku!”


Tiba-tiba Philbert mengarahkan pistolnya pada pria selebgram. Dia langsung berteriak ketakutan, “Pak polisi, tolong aku!”


“Lindungi warga!”


Di saat genting ini, Yudha berteriak dan menyerbu ke depan untuk melindungi pria selebgram dari tembakan peluru. Namun, detik berikutnya, Fino mencengkeram bahunya dan menariknya ke belakang.


“Dor!”


Terdengar bunyi tembakan.


Mereka terpental keluar karena kekuatan tembakan yang dahsyat. Punggung mereka menabrak keras di jendela. Fino langsung jatuh duduk di lantai dengan lemas.


Dada dan perutnya berlumuran darah. Daging-dagingnya tampak benyek. Dengan jarak sedekat itu, pasir besi dari pistol rakitan masuk ke tubuhnya dan melubangi perutnya.


“Fino!”


Sejumlah besar pasir besi itu melukai lengan kiri Yudha. Dia berteriak marah sambil mengangkat pistol. Peluru yang ditembakkan melintasi leher Philbert.


Philbert memegangi lehernya di mana darah terus mengalir keluar dari lukanya. Lalu dia jatuh di lantai. Dia berusaha untuk merangkak ke arah kakaknya. Namun, tidak ada pergerakan lagi darinya setelah dia baru merangkak dua langkah.


Philip terbengong melihat adegan ini dan tidak bisa berkata-kata.


Dia menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan. Mulutnya terbuka lebar, sedang berteriak tidak jelas dengan panik.


Air matanya mengalir tiada henti. Melihatnya, tiba-tiba aku teringat akan reaksiku saat istriku meninggal.


Aku juga seperti ini pada hari itu …


Terus berteriak, tetapi tidak tahu apa yang sedang diteriakkan.

__ADS_1


“Cepat panggil ambulans!”


“Kapten! Kak Fino!”


Aparat polisi juga berteriak dengan cemas. Yudha mendekap luka tembaknya dan berkata sambil menggertakkan gigi, “Borgol dulu yang satunya.”


Philip yang awalnya patuh tiba-tiba mengamuk.


Namun, berbeda dengan adiknya, dia malah berlari ke arahku. Tidak ada yang sempat bereaksi karena saking cepatnya dia.


Dia menumpu pagar dan melompat keluar dari sampingku. Pagar pembatas di perumahan tua tidak tinggi sehingga tidak ada yang sempat mencegatnya.


Dia jatuh keras di genting rumah dua tingkat di seberang.


Seorang polisi berlari ke sana untuk melihat keadaannya. Saat ini jika dia mendongakkan kepala, dia akan melihatku. Untung dia tidak melakukannya.


Melihat Philip berusaha untuk bangun, polisi itu bergegas meninggalkan balkon. “Cepat kejar! Kalian berdua tinggal di sini untuk merawat Kapten Yudha dan Kak Fino. Yang lainnya, ikuti aku!”


Philip melompat dari lantai empat ke lantai dua. Ketinggian ini sama seperti melompat dari lantai tiga ke permukaan tanah.


“Aku akan balas dendam … “ Tiba-tiba dia berubah drastis dan berteriak dengan marah, “Yudha! Kamu bunuh adikku! Aku tidak akan pergi begitu saja! Aku sumpah aku pasti akan kembali untuk balas dendam!”


Saat ini aku tidak tahu harus berkomentar apa terhadap hal ini.


Awalnya segalanya baik-baik saja, tetapi tiba-tiba malah menjadi seperti ini …


Yudha tidak menghiraukannya. Aku melihat dia berjongkok dan mengulurkan tangannya yang gemetaran pada Fino, ingin mendekap lukanya. Namun, tidak ada gunanya. Lukanya terlalu luas. Jika terserang oleh pistol rakitan yang isinya adalah pasir besi dari jarak sedekat itu, dapat dibayangkan seberapa kuat daya tembakannya.


Fino terus muntah darah dan tubuhnya kejang-kejang.


Saat ini pria selebgram membuka pintu rumahnya. Wajahnya putih pucat. Dia melihat Fino dengan ekspresi ketakutan.


“Keparat!”


Yudha menahan rasa sakit dan mencengkeramnya. “Sudah kubilang jangan keluar untuk menonton! Dasar keparat!”

__ADS_1


“Aku bukan sengaja. Aku juga tidak tahu akan menjadi seperti ini … “ teriak pria selebgram. “Dia ditembak oleh orang lain, apa hubungannya denganku?”


“Kap, kapten … “


Fino memegangi Yudha dengan lemas dan bergumam, “Jangan pukul dia … kalau terjadi sesuatu padanya, bukankah aku … mati dengan sia-sia?”


Yudha mendorong pria selebgram dan berkata dengan panik, “Jangan omong kosong. Kamu akan baik-baik saja. Kamu lihat, aku juga tertembak. Bukankah aku baik-baik saja? Kamu tidak akan mati … kamu masih begitu muda, kamu akan hidup lebih lama dariku. Itu … itu bahkan bukan peluru asli. Bukankah kamu selalu bilang kamu tidak takut peluru?”


Fino membuka mulut, tetapi muntah darah lagi. Dengan susah payah dia menelannya. Suaranya menjadi semakin lemah. “Kapten … bagaimana kamu … beri tahu ibuku … “


Belum selesai bicara, dia sudah menundukkan kepalanya.


Dia membuka mata dan melihat badannya berlumuran darah. Hanya lencana di bahunya yang masih bersih dan tidak dinodai darah.


Bibir Yudha terus bergetar dan napasnya terengah-engah. Lalu dia menggoyang bahu Fino.


“Eh … jangan tidur … kamu beri tahu sendiri … jangan suruh aku. Kamu harus pulang dengan selamat dan beri tahu sendiri padanya … “


Polisi di samping mendekatkan tangannya ke leher Fino untuk merasakan denyut nadinya. Dia berkata terisak, “Kapten, Kak Fino sudah tiada.”


Yudha berlutut di lorong sambil mendekap lukanya dengan satu tangan. Dia membenamkan wajahnya di bahu Fino.


Pria yang selamanya berjuang di garis terdepan ini akhirnya menangis.


Dengan erat dia menempelkan wajahnya pada lencana di bahu Fino.


Dia tidak ingin orang lain melihatnya menangis.


Aku sangat tidak suka perasaan saat ini.


Jelas-jelas aku berada di sini, jelas-jelas aku ingin mengubah semua ini.


Namun, sekarang?


Fino sudah meninggal, Philip juga berhasil kabur di bawah pengawasan kami.

__ADS_1


Perasaan seperti ini sangat tidak nyaman. Aku pun berpikir dalam hati. Jelas-jelas aku kuat tak tertandingi dengan bantuan telepon lintas waktu, tetapi pada akhirnya aku tidak dapat memutarbalikkan situasi ini dengan sempurna.


__ADS_2