
Bagaimana ini … kakak beradik keluarga Leo sangat sadis. Yudha sudah mati dua kali di tangan mereka.
Aku tidak bisa membiarkannya celaka di hadapanku!
Aku bangkit berdiri dan melihat ke luar jendela.
Aparat kepolisian terus mendatangkan bala bantuan. Mobil polisi tidak bisa masuk karena di luar sana adalah jalan setapak. Namun, sejumlah besar pasukan polisi sedang memblokade jalan.
Aku berusaha menenangkan diri dan mengamati rumah ini.
Menurutku, rumah ini seharusnya tidak sesederhana itu. Sebagai buronan, kakak beradik keluarga Leo memutuskan tinggal di tempat ini, maka kemungkinan besar mereka akan menyiapkan jalan mundur. Dari aksi mereka yang diam-diam mengebor langit-langit, dapat dilihat bahwa Philip adalah orang yang selalu siap siaga.
Setelah memeriksa sekeliling, aku tidak menemukan apa-apa di rumah selain lubang itu.
Jadi aku mencoba untuk memperkirakan pemikiran Philip. Kalau dia membuat lubang di sini, artinya dia berharap bisa naik ke lantai lima jika mereka dikepung.
Lalu mengapa dia harus naik ke lantai lima? Jelas-jelas hanya ada satu tangga di sini. Tidak peduli dia kabur ke lantai mana, polisi tetap akan menunggunya di tangga lantai empat.
Aku pergi ke lorong untuk mencari jawaban. Dari kedua ujung lorong, satunya terhubung ke tangga dan satunya lagi adalah tembok.
Aku tentu tidak akan pergi ke tangga. Jadi aku pergi ke ujung lorong yang satunya.
Sesaat kemudian, aku menemukan ada yang tidak beres.
Pagar pembatas di lorong adalah pagar besi model lama. Kebanyakan sudah berkarat.
Namun, pagar pembatas di tempat ini berbeda. Ada jejak las di titik sambungnya sehingga sangat kokoh.
Balkon lorong bersebelahan dengan sebuah rumah tua dua tingkat yang gentingnya datar. Di belakangnya adalah deretan rumah dua tingkat.
Tiba-tiba aku kepikiran sesuatu dan kembali lagi untuk mengubek-ubek rumah itu. Di rumah yang seperti gudang itu, aku berhasil menemukan dua tali evakuasi yang dilengkapi dengan gesper keamanan.
__ADS_1
Ternyata mereka menyusun rencana seperti ini …
Tepat ketika itu, pintu rumah di lantai bawah diketuk. Lalu terdengar lagi suara Yudha, “Halo, aku orang yang tadi. Aku masih ingin tanyakan sedikit hal lagi. Apa aku mengganggu waktumu?”
Philip berdiri dan menghampiri pintu. Tadi dia sudah membukakan pintu untuknya, tetapi kali ini dia tetap mengambil cermin untuk mengamati keadaan di luar.
Hatiku menjadi suram. Dia sangat berwaspada.
Kemungkinan besar Yudha akan ketahuan!
Benar saja. Philip tertegun, lalu dia meletakkan cermin di tangannya.
Dia menghampiri Philbert dan mengeluarkan headset di telinganya. Philbert mendongak dan melihat kakaknya dengan penasaran. Philip berkata dengan suara dingin, “Polisi sudah datang.”
Philbert panik dan bergegas berdiri. Saking takutnya, dia memegangi pisau pemotong daging yang tajam di samping kompor. Sementara itu, aku sedang berpikir harus bagaimana membantu Yudha.
Tidak bisa … aku berada di lantai atas sehingga sulit untuk membantunya.
Melihat adegan ini, aku semakin yakin bahwa aku akan sulit untuk membantu.
Philbert semakin gugup dan napasnya terengah-engah. Philip memegangi bahunya sambil berkata dengan serius, “Jangan panik. Kita bawa pistol hanya agar bisa kabur. Kalau sudah tidak bisa kabur, kita baru serahkan diri.”
Philbert masih gemetaran. Dia berkata dengan suara bergetar, “Aku keluar dan bunuh mereka … aku tangkap orang jadi sandera, Kakak … aku pasti akan membantumu kabur!”
Philip berkata dengan tegas, “Jangan panik! Itu hanya akan membuatmu mengambil salah jalan! Dengarkan baik-baik, kalau kalah ya kalah. Paling-paling kita masuk penjara. Kamu jangan menyandera mereka. Mereka juga punya Ayah dan Ibu, juga disayangi oleh orang lain. Jangan menyakiti orang lain demi kepentingan sendiri, paham? Kalau nanti kamu akan asal tembak, berikan pistolmu padaku.”
Suara Philbert saat ini menjadi isak, “Kakak, aku tidak mau ditangkap.”
“Tidak apa-apa, Kakak akan membawamu kabur.”
Tiba-tiba dia mendorong lemari baju di balik pintu dan menjatuhkannya.
__ADS_1
Lemari baju itu sangat tinggi dan pintunya sangat sempit. Lemari baju jatuh di kompor dengan sudut 45 derajat, pas menutupi pintu dan jendela.
Philip khawatir lemari bajunya akan terdorong ke samping. Jadi dia memindahkan barang-barang ke atas lemari baju, menambah beratnya untuk mengulur waktu.
Philbert mengambil tangga dan meletakkannya tepat di bawahku.
Dia mau naik!
Bagaimana mungkin aku membiarkan mereka naik? Aku bergegas berdiri dan menggeser lemari di samping untuk menutupi lubang itu.
Philbert mendorong beberapa kali dengan kuat di bawah sana. Lalu dia berteriak panik, “Kakak, tidak bisa buka! Di atasnya tertutup, tidak bisa kudorong! Tidak bisa kudorong!”
Perasaannya sangat panik dan dia terus berteriak. Lalu Philip berseru dengan marah, “Jangan panik!”
Lemari tidak sepenuhnya menutupi lubang itu, tetapi masih ada sedikit celah.
Philip mendekati celahnya dan mendongak melihat ke arahku.
Aku menundukkan kepala melihatnya. Dia berdiri di tempat terang, sedang aku berdiri di tempat gelap. Aku bisa melihatnya, tapi aku tahu dia tidak bisa melihatku.
Tiba-tiba dia mengangkat pistol. Aku langsung mundur beberapa langkah.
“Dor!”
Kekuatan tembakannya sangat dahsyat sampai menghancurkan lemari itu.
Dia berkata dengan suara dingin, “Bukan tidak bisa didorong, tapi diblokir. Tampaknya lubang rahasia kita sudah ketahuan. Persiapan mereka sangat matang dan mungkin dari awal sudah mengetahui keberadaan kita. Lalu mereka melakukan penggerebekan setelah memblokir semua jalan keluar kita. Sekarang kita sudah tidak bisa kabur.”
Philbert berkata dengan panik, “Kakak, lalu sekarang kita harus bagaimana? Biar aku keluar dan serang mereka! Aku serang mereka semua!”
“Kamu serang bagaimana?”
__ADS_1
Philip memegangi dagu adiknya dan berkata sambil menggertakkan gigi, “Bertahan hidup adalah hal yang paling penting. Dengar baik-baik, kita belum tentu akan diberi vonis hukum mati. Kalau kamu bertindak sembarangan, kita mungkin akan ditembak. Jangan serang mereka. Kita telah melanggar hukum, memang semestinya mereka menangkap kita. Pria jantan harus mengaku atas kekalahannya. Benar tidak?”