Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 51


__ADS_3

Misel menangis saking cemasnya. “Kenapa kamu masih marah?”


Aku menjawab, “Dia tidak marah. Dia tidak akan marah padamu. Kalian keluar saja. Dia benar-benar ingin sendirian sebentar.”


“Aku … “


Setelah ragu sejenak, akhirnya Misel mengangguk. Lalu dia membawa yang lainnya keluar.


Aku menutup pintu bangsal dan duduk di samping Yudha. Aku mengeluarkan ponsel, dengan tenang membaca riwayat obrolan yang istriku kirim padaku di tahun silam.


Selain membaca berita dan menelepon, inilah kegunaan dari ponselku.


Waktu telah berlalu.


Sepuluh menit.


Dua puluh menit.


Tiba-tiba Yudha berkata, “Kamu tidak tanya apa yang telah terjadi?”


Aku menjawab, “Kamu tentu akan bilang di saat kamu ingin memberi tahu aku. Kamu canggung ya? Kamu canggung karena tidak ada topik di antara kita?”


Dia menggelengkan kepala. “Tidak.”


“Oh, kalau begitu kita sibuk masing-masing saja.”


“Aku ingin kamu tanya aku apa yang telah terjadi.”


Aku menyimpan ponselku dan duduk tegak, lalu bertanya dengan serius, “Apa yang telah terjadi?”


Dia bergumam, “Aku … aku tetap tidak ingin bilang.”


“Oh.”

__ADS_1


Aku lanjut melihat ponsel. Setelah hening sejenak, dia berkata lagi, “Aku mengecewakan temanku lagi.”


“Kamu bukan orang yang suka bercerita pada orang lain. Sekarang kamu akhirnya beri tahu aku setelah ragu dua kali, tetapi sebenarnya sama saja dikatakan atau tidak … “ Aku meletakkan tanganku di bahunya dan berkata dengan serius, “Aku tidak akan tanya apa yang telah terjadi dan aku pikir kamu pasti tidak ingin mengingatnya kembali. Aku hanya ingin tanya dua hal. Apa kamu cukup kuat untuk jawab?”


“Tanya saja.”


Aku bertanya, “Apa kamu merasa bersalah karena perbuatanmu?”


Dia menjawab, “Jika diulangi lagi, aku tetap akan berbuat seperti itu.”


“Teman yang kamu kecewakan itu, menurutmu apakah dia sama sepertimu?”


“Iya … tapi aku tidak ingin hal ini terjadi padanya. Aku lebih memilih itu adalah aku.”


Aku berkata, “Kamu selalu begini, selalu menambah beban di bahumu sendiri. Kamu suka berbagi kontribusi dengan semua orang, tetapi suka memikul dosa sendiri. Kamu hidup dalam perencanaanmu yang indah dan buru-buru menambahkan banyak tanggung jawab pada dirimu. Namun, pernahkah kamu kepikiran kalau setiap orang punya pilihan masing-masing dan harus menanggung akibat dari pilihannya sendiri?”


“Aku tidak paham.”


“Tidak pernah. Awalnya aku sedikit gugup karena khawatir tidak sanggup memikul tanggung jawabnya. Namun, aku selalu siap berkorban dalam setiap aksi yang dijalankan.”


Aku berkata dengan tulus sambil melihat matanya, “Kamu berpikir seperti ini, teman-temanmu juga berpikir seperti ini. Yudha, kamu bukan satu-satunya orang dewasa di dunia ini. Semua orang pun paham. Mereka hanya teguh terhadap intensi mereka sendiri. Mereka sudah memikirkan mungkin akan terjadi situasi seperti hari ini. Mengapa kamu harus menyalahkan dirimu atas segalanya?”


Dia terdiam. Lalu aku berdiri dan berkata, “Aku pergi beli minuman dulu. Sebenarnya kamu tidak perlu bujukanku, kamu hanya ingin mencoba untuk menceritakannya. Semua orang paham dengan logikanya. Jadi tidak ada artinya aku menceramahimu.”


Aku meninggalkan bangsal. Ada mesin penjual otomatis di rumah sakit.


Setelah aku membeli dua botol minuman, tiba-tiba ponselku berdering.


Itu panggilan telepon dari Melly.


Aku mengangkat telepon dan bertanya, “Bagaimana?”


Dia menjawab, “Masalahnya semakin janggal.”

__ADS_1


“Apanya yang janggal? Aku hanya ingin tahu temanku aman atau tidak.”


“Yudha meninggal! Waktu kematiannya menjadi lebih awal! Kematiannya pun menjadi aneh … “ jawab Melly. “Awalnya, kabar kegugurannya masuk berita. Namun, sekarang itu menjadi rahasia yang tidak banyak diketahui. Awalnya dia sudah meninggal selama 7 tahun, tapi sekarang menjadi 10 tahun!”


Aku mengerutkan alis.


Aku teringat pada Philip yang bersumpah akan kembali untuk membalas dendam pada Yudha.


Aku bertanya, “Kamu sendiri tidak tahu mengapa dia mati, lalu bagaimana kamu bantu aku?”


Melly menjawab, “Kematiannya tidak dilaporkan, itu artinya aparat kepolisian berpikir bahwa penyebab kematiannya tidak boleh diberitahukan pada media. Ini adalah pemikiran aparat kepolisian pada sepuluh tahun yang lalu. Sekarang masalah ini sudah tidak menjadi sorot perhatian lagi. Besok aku akan pergi ke kantor polisi untuk melakukan wawancara. Aku akan bohongi mereka kalau aku ingin membuat artikel berita tentang pahlawan. Kamu tunggu dulu. Besok setelah aku mendapatkan informasinya dari wawancara, aku akan beri tahu kamu.”


“Oke, kutunggu.”


Aku menutup telepon dengan hati yang linglung.


Kematian Yudha tiba-tiba menjadi misterius. Aku tidak paham mengapa aparat kepolisian tidak memberitahukan penyebab kematiannya pada pihak media. Sepengetahuanku, dia telah memecahkan banyak kasus dan memberi banyak kontribusi. Dia adalah anggota polisi yang paling berjasa di polda.


Keguguran dari polisi seperti ini pasti akan menciptakan kegemparan. Akan tetapi, mengapa aparat kepolisian merahasiakan penyebab kematiannya?


Tidak peduli bagaimanapun, aku percaya ini pasti berkaitan dengan Philip.


Aku menggelengkan kepala dan berkata pada diriku untuk jangan berpikir terlalu banyak. Sekarang belum ada petunjuk apa-apa. Semakin dipikirkan, masalahnya hanya akan menjadi semakin kacau. Lebih baik tunggu informasi Melly besok.


Aku membeli sebotol minuman lagi dan ingin memberikannya pada Misel.


Sampai di lorong di depan bangsal, aku melihat Misel dan ibunya sedang bertengkar.


“Sudah kubilang dengan jelas, kamu tidak boleh berpacaran lagi dengannya. Kamu tidak lihat kalau dia tertembak peluru ya … “ Almira sangat cemas. “Hari ini dia berhasil diselamatkan, tetapi bagaimana kalau dia mati besok? Kamu adalah putriku, bagaimana aku tega membiarkanmu menjadi wanita janda? Ini semua demi kebaikanmu!”


Misel menjawab, “Demi kebaikanku? Kalau Ibu benar-benar berpikir demi kebaikanku, seharusnya Ibu merestui kami! Pacarku terluka dan hampir mati, tapi dia malah memergoki aku sedang kencan buta dengan pria lain! Aku ingin mengumpat, tetapi kamu adalah Ibu kandungku. Aku tidak bisa!”


Almira berkata dengan cemas, “Kenapa kamu tidak paham? Agus sangat kaya. Keluarganya juga mendesaknya untuk cepat nikah. Dia juga suka kamu. Kamu tahu tidak apa yang keluarganya lakukan? Kuberi tahu ya, Ayahnya adalah pengembang properti. Kalau bukan karena kamu cantik, kamu kira dia akan suka kamu? Ini adalah kesempatan!”

__ADS_1


__ADS_2