Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 78


__ADS_3

Polisi itu berdiri diam di tempat dan tidak bergerak.


Yudha memaksakan senyum dan berkata, “Acara pernikahannya sudah akan dimulai, ayo kita pergi foto? Sudah bertahun-tahun juga kita kenalan.”


“Iya, ayo pergi foto.”


Yudha dan rekannya memutar badan, lalu berjalan keluar.


Namun, saat sampai di depan pintu, ada dua polisi yang berdiri di depan pintu dan sama sekali tidak bermaksud untuk pergi.


Dengan kecepatan pelaksanaan Yudha, aku percaya pintu lainnya juga sudah dijaga.


Dalam hati aku memuji atas efisiensi kinerja Yudha. Aku mencoba untuk berjalan ke depan, tapi tiba-tiba Misel memeluk lenganku dengan sangat amat erat.


“Kenapa?” tanyaku setelah menoleh padanya.


Dia menggigit bibirnya dan bertanya, “Mengapa mereka semua datang …”


“Bukankah kamu yang undang mereka?”


“Aku memang undang mereka. Aku sudah membagikan undangan pada mereka semua, tapi pagi ini jelas-jelas ada berita tentang pemburu kriminal …” Tiba-tiba dia melihat mataku dengan sedikit ekspresi putus asa. “Mengapa … polisi tidak segera bertugas saat ada kasus? Biasanya mereka sangat sibuk, tapi di hari adanya kasus, mereka semua malah datang menghadiri acara pernikahanku!”


Aku jawab dengan pelan, “Kamu adalah kesayangan semua orang. Mereka semua ingin memberi ucapan selamat padamu.”


“Jangan bohongi aku.”


“Sudah, ayo kita pergi foto.”


Tidak peduli betapa aku ingin berjalan ke depan, Misel tetap memegangiku erat-erat.


Aku berkata dengan tidak berdaya, “Mereka sudah tidak sabar, ayo kita pergi foto, oke?”


“Aku tidak mau …” Dia membenamkan wajahnya di lenganku. Tadi dia masih bisa menahan air matanya, tapi sekarang air matanya langsung mengalir turun. Dia berkata sambil terisak, “Mengapa mereka semua datang … Kakak Ipar … apa kamu akan terkena masalah …”


Aku menghiburnya, “Riasanmu sudah luntur, jangan menangis lagi. Coba pikir, nanti semua orang akan foto bersama kamu. Apa kamu mau mereka melihat wajahmu yang jelek?”


“Aku tidak mau kamu pergi keluar!”

__ADS_1


“Tidak akan ada apa-apa …”


“Aku baru ingat, ayahnya suka anggur merah jadi ada gudang anggur bawah tanah di klub ini. Sekarang aku bawa kamu ke sana. Ke depannya setiap hari aku akan mengantarkan makanan untukmu …”


“Misel, apa kamu tahu betapa seriusnya tindakan atas membantu menyembunyikan pelaku kejahatan …”


“Kamu bisa pergi keluar dari lubang angin. Klub ini punya keluarga mereka. Mereka pasti tahu rute ventilasinya …”


“Kamu tenang dulu …”


“Aku tidak mau tenang! Aku tidak mau kehilangan kamu! Kakak sudah tiada, aku tidak bisa berdiam diri melihatmu celaka. Kalau kamu juga tiada, kelak aku bahkan akan takut untuk memimpikan kakak!”


Aku memegangi bahunya dan berkata dengan serius, “Tenang dulu, oke? Hari ini adalah hari pernikahanmu.”


“Wuuu, Kakak Ipar …”


“Dulu kakakmu selalu mendesah. Dia bilang entah kapan baru bisa melihat kamu si bodoh ini memakai gaun pengantin. Hari ini aku akan mewakili dia untuk menyaksikannya. Jadi setidaknya kamu harus tampil cantik, oke? Jangan khawatir tentang aku. Aku … hari ini aku datang, artinya aku punya alasan untuk harus datang.”


Aku mengulurkan tangan dan sekali lagi menyeka air matanya dengan pelan.


Di luar klub terdapat tembok bunga dan balon.


Semua anggota tim reskrim regu dua berdiri di sana dan melihatku dengan tatapan dingin.


Aku menggandeng Misel dan berjalan ke samping tembok bunga.


Saat berdiri di samping Yudha, aku bertanya dengan pelan, “Kenapa hari ini tidak dandan dengan tampan? Terutama rambutmu.”


Dia menolehkan kepala dan menatap mataku. Pada akhirnya dia berkata, “Tadi malam tiba-tiba ada kasus, jadi tidak sempat keramas … hari ini kamu tampan sekali.”


“Selama ini aku memang lebih tampan darimu. Namun, rambutmu terlalu berantakan. Tunggu aku sebentar …”


Aku berjalan menuju mobilku. Anggota tim reskrim regu dua bergegas mengikutiku.


Dengan santai aku berjalan ke depan bagasi mobil dan mengeluarkan sebuah topi.


Sebenarnya itu hanya topi bisbol yang sangat biasa. Aku menghampiri Yudha dan memakaikan topi bistol itu ke kepalanya. “Hhmm … kalau begini tidak kelihatan rambutmu yang berantakan itu. Oke, ayo kita foto.”

__ADS_1


Fotografer membantu kami memotret foto. Setelah memotret beberapa kali, dia tersenyum dan berkata, “Oke.”


Aku bilang, “Foto beberapa lagi.”


Dia menjelaskan, “Bapak, sudah banyak foto yang diambil, nanti kalian bisa pilih pelan-pelan.”


“Foto beberapa lagi … oke? Kami bertiga foto terpisah.”


Dia sedikit dilema. “Pengantin wanita masih harus foto dengan orang lain …”


Misel bilang, “Tidak, aku mau foto dengan dia.”


Fotografer tentu tidak berkomentar lagi setelah mendengar perkataannya.


Aku merangkulkan tanganku pada Yudha dan Misel. “Kita bertiga … benar-benar sudah kenalan bertahun-tahun lamanya. Ayo foto yang banyak. Mungkin kelak sulit untuk ketemu lagi.”


Misel menundukkan kepalanya, tapi pada akhirnya dengan keras kepala dia mengangkat kepalanya dan memaksakan senyum di wajahnya.


Namun, Yudha tidak bisa tersenyum.


Aku menepuk wajahnya. “Ayo senyum. Aku tahu kamu sedang sedih karena putus cinta, tapi juga tidak perlu berwajah cemberut, ‘kan? Hari ini adalah hari paling penting bagi Misel. Memangnya pria jantan tidak bisa lapang dada?”


Dia berusaha memaksakan senyum dan akhirnya memotret beberapa foto lagi.


Setelah berfoto, tiba-tiba Misel berkata pada Yudha, “Bisakah kamu mundur jauh sedikit? Aku mau foto berduaan dengan kakak ipar.”


“Oke.”


Yudha berjalan menjauh. Dia dan anggota tim reskrim regu dua tampak seperti sedang menonton di sekitar, tapi mereka berdiri di setiap tempat yang memungkinkan aku untuk kabur. Tangan mereka berada dalam saku celana, tapi tidak sepenuhnya dimasukkan ke dalam. Mereka serentak memasukkan ibu jari ke dalam saku celana.


Jadi mereka menyembunyikan pistol di belakang pinggang agar lebih mudah untuk merogoh pistol mereka?


Aku berdiri bersama Misel. Dia berbisik, “Aku benci dia. Dulu kupikir dia cinta aku, tapi dia benar-benar kejam sekali. Dia sudah membuatku menunggu dia selama bertahun-tahun, lalu sekarang dia mau merenggut kamu dari sisiku … Aku hanya ingin sekeluargaku aman sentosa.”


“Iya …”


“Kakak Ipar, menurutmu apakah dia sangat keterlaluan? Dengan bodohnya aku bahkan mempertahankan kesan baik yang terakhir padanya.”

__ADS_1


__ADS_2