
Mengapa …
Mengapa selalu berjuang mati-matian?
Jelas-jelas kelak kamu akan mati karena semangat juang ini.
Tiba-tiba aku bertanya, “Eh, aku tanya kamu ya. Mengapa kamu mau menjadi polisi?”
Mulutnya penuh dengan liur darah. Dia terdiam karena pertanyaanku yang mendadak ini.
Dia mencengkeramku dengan lebih erat sambil berkata dengan suara lemah, “Mengapa kamu membunuh?”
Aku menjawab, “Demi melindungi mereka yang tidak bersalah.”
“Aku juga … di dunia ini, semua orang berharap akan dilindungi, tetapi harus ada orang yang menjadi pelindung.”
“Bagus. Kuhadiahkan satu serangan siku.”
Sekali lagi aku mengangkat tangan dan memukul punggungnya.
Sekujur tubuhnya gemetaran. Dia berteriak dengan suara rendah, “Aku tidak akan membiarkanmu pergi!”
Suaranya tegas, tetapi badannya berangsur-angsur lemah. Lalu dia jatuh lemas di lantai.
Meski begitu, dia tetap berusaha memeluk kakiku dan berkata dengan suara lemah, “Dia di sini … dia di sini … “
Aku bergumam, “Mengapa kamu tidak pikirkan orang yang menunggumu pulang? Mengapa kamu tidak pikirkan orang yang menyayangimu? Kamu mengorbankan nyawamu demi sebuah pekerjaan … pernah tidak kamu kepikiran ada yang sedang menunggumu pulang?”
Suaranya menjadi kurang jelas. “Di rumah semua orang, ada orang yang menunggunya pulang. Aku adalah polisi, kalau bahkan aku sendiri merasa keberatan … apa mereka bisa menemui orang yang sedang mereka tunggu?”
Dia memeluk kakiku dengan erat. Pada akhirnya aku menendang wajahnya.
Yudha yang memelukku dengan erat pun terpental karena tendanganku.
Aku memutar badan dan masuk gang. Sesekali terdengar suara langkah kaki di dalam sana. Seketika itu, aku tidak tahu harus lari ke mana.
Tidak boleh panik … aku terus berkata pada diriku untuk bersikap tenang.
__ADS_1
Seseorang bisa menemukan ide di saat mereka tenang.
Aku berusaha mendengarkan suara langkah kaki itu dan berjalan ke arah yang kedengarannya tidak ada orang. Namun, sirene mobil polisi di luar terus berbunyi. Suasana hatiku menjadi semakin kacau.
Tiba-tiba terdengar suara pengeras suara di dalam gang, “Warga-warga sekalian, aparat kepolisian sedang melaksanakan tugas. Kunci pintu dan jendela rumah kalian, jangan keluar! Ku ulangi lagi, kunci pintu dan jendela rumah kalian. Jangan ikut campur dan jangan keluar! Di luar sangat berbahaya. Kalian semua diam saja di rumah!”
Teriakan aparat polisi sangat tulus, tetapi para warga tetap keluar ke balkon.
Ini adalah gang tua yang isinya adalah rumah satu tingkat atau dua tingkat. Mereka berdiri di balkon lantai dua untuk melihatku.
Ada yang mengenali pakaianku dan berseru kaget, “Bukankah itu pemburu kriminal?”
“Iya, itu pemburu kriminal! Astaga!”
Mereka bahkan mengambil ponsel untuk merekam video. Aparat polisi panik dan berteriak dengan lebih nyaring menggunakan pengeras suara, “Jangan keluar! Mafia itu berbahaya!”
Tiba-tiba aku berlari kencang dan melompat untuk mencengkeram balkon di samping. Aku bergegas memanjat ke atas dan naik ke balkon dalam waktu paling singkat.
Warga yang menonton pun terkejut. Dia bergegas menutup pintu balkon dan berkata dengan panik, “Jangan bunuh aku! Bukankah kamu hanya membunuh orang jahat? Aku tidak pernah melakukan kejahatan!”
Aku tidak menghiraukannya, melainkan berdiri di balkon lantai dua agar penglihatanku semakin jauh.
Di mana-mana ada mobil polisi. Mereka memblokade semua jalan sehingga aku sama sekali tidak bisa kabur.
Satu-satu jalan keluarku saat ini adalah tembok di ujung gang. Setelah memanjat tembok, aku bisa pergi ke gang lain yang tidak diblokade karena keterbatasan jumlah anggota dari aparat kepolisian.
Namun … sisi atas tembok itu penuh dengan serpihan kaca. Kalau aku memanjat tembok, lalu meninggalkan jejak darah atau tidak bisa segera kabur karenanya, ini akan berakibat fatal bagiku.
Yudha memang pintar.
Apakah dia ingin membunuhku di sini?
Pelaku kriminal yang berbeda.
Pelaku kriminal yang berbeda.
Tiba-tiba aku kepikiran satu istilah, yaitu ikan dalam keroncong.
__ADS_1
Akulah ikannya.
Di seberang tembok adalah pemukiman warga, tetapi balkonnya tertutup. Jadi aku tidak mungkin bisa memanjat naik ke balkon mereka.
Saat ini, ada dua polisi yang masuk gang. Mereka mengarahkan pistol ke arahku sambil berteriak, “Jangan bergerak!”
Aku langsung melompat ke rumah satu tingkat di seberang balkon.
Aku berlari ke depan, tetapi ada satu parabola di depan. Aku tidak sengaja menabraknya karena berlari terlalu kencang. Aku terpeleset di genting rumah satu tingkat dan jatuh di lantai.
Sakitnya …
Aku merangkak bangun. Lalu aku melihat seekor kelinci kartun yang sedang menggigit wortel.
Ini rumahnya Fernando?
Melihatku terjatuh, para polisi langsung berlari kemari.
Dengan panik aku menoleh ke dalam rumahnya. Ada seorang pria yang berdiri di samping jendela sambil melihatku dengan ekspresi ketakutan.
Jangan-jangan …
Aku langsung meninju jendela dan kacanya pecah. Pria di dalam ingin mundur ke belakang, tetapi aku sudah mencengkeram bajunya.
Dia berteriak panik, “Tolong! Tolong aku!”
Aku berkata, “Jangan panik, aku tidak akan menyakitimu … kamu Fernando Alaska? Jawab baik-baik, aku tidak akan melukaimu.”
Dia terbengong dan berhenti berteriak minta tolong. Dia bertanya dengan heran, “Kok kamu tahu?”
Aku mengangguk sambil berkata, “Bagus kalau kamu Fernando.”
Di balik jendela itu pas adalah dapur. Aku mengambil sebuah pisau buah dan menusuk dadanya.
Dia kesakitan sambil mendekap dadanya, lalu jatuh lemas di lantai.
Dua polisi itu terbengong. Mereka bergegas berteriak, “Cepat panggil ambulans, ada yang terluka!”
__ADS_1
Aku memutar badan dan bergegas berlari ke tembok gang. Saat ini, Yudha sudah masuk ke dalam gang dan berteriak, “Kepung dia! Dia sudah tidak bisa kabur lagi. Jangan sembarangan tembak. Ini permukiman warga yang padat! Semuanya hati-hati, dia pandai bertarung!”