
Adegan di layar televisi berubah. Jenni muncul di layar dan berbicara sambil memegangi mikrofon, “Sekarang aku sedang berada di kantor polisi. Katanya kali ini aparat kepolisian sudah menemukan petunjuk penting terkait pemburu kriminal itu.”
Petunjuk penting? Aku meninggalkan petunjuk apa?
Jenni berjalan ke dalam. Lalu Fino muncul di layar televisi. Dia sedang mengawal seorang pria yang menurutku tidak asing. Setelah dipikir-pikir, bukankah itu adalah warga yang kunci sandi pintu rumahnya berhasil kubuka?
Pria itu berteriak panik, “Bukan aku! Benar-benar bukan aku!”
Fino berkata dengan kesal, “Ayo masuk denganku. Jangan teriak bukan kamu di depan kami!”
Jenni berlari mengikutinya sambil berkata pada kamera, “Berdasarkan opini warga yang antusias, pria yang ditangkap ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan pemburu kriminal. Saat dikepung oleh aparat kepolisian, pemburu kriminal langsung memasukkan sandi pintu rumahnya dan kabur. Jelas bahwa dia adalah kenalan lama yang berhubungan dekat.”
Mendengarnya, pria itu menangis sambil berkata pada kamera, “Sejak kapan aku kenal dia? Aku juga tidak tahu mengapa dia bisa mengetahui sandi pintu rumahku!”
“Jangan bantah lagi! Ayo ikut kami untuk melakukan penyelidikan!”
Aparat polisi membawanya masuk. Lalu Jenni bertanya pada Fino, “Halo, apa ada yang bisa diberitahukan terkait kasus ini?”
Fino menjawab, “Jangan wawancara di sini. Kami masih ada aksi lanjutan dan untuk detailnya tidak bisa diberitahukan. Kami akan menangkapnya secepat mungkin. Matikan kamera kalian, jangan mengganggu aksi kami!”
Hhmm? Masih ada aksi?
Tampaknya mereka akan sibuk sepanjang malam.
Saat ini, bos rumah makan menghampiri Philip dan memberikan dua kantong makanan padanya.
Dia menjinjing kantong makanan dan berterima kasih, lalu bangkit berdiri.
Aku masih duduk di tempat. Setelah dia pergi keluar, aku membuntutinya dari jarak pengintaian.
Dia berjalan di depan dan memasuki gang di samping.
__ADS_1
Aku mengikutinya memasuki gerbang perumahan tua di dalam gang.
Kawasan ini sangat kumuh. Ada seorang nenek yang duduk di kursi roda. Rodanya terjebak dalam lubang. Dia sudah mencoba beberapa kali, tetapi gagal untuk mengeluarkan kursi rodanya.
Tiba-tiba Philip mengulurkan tangan dan mendorong nenek itu.
Nenek menolehkan kepala dan berkata terima kasih. Philip mengangguk sambil tersenyum, lalu naik ke lantai atas.
Ada seorang pria yang duduk di lorong. Melihatnya pulang, dia bergegas berdiri dan berseru, “Kakak!”
“Jangan teriak keras-keras … “ kata Philip. “Jangan sampai mengganggu yang lain. Banyak yang sudah tidur.”
Itu adalah Philbert Leo. Rambutnya botak, tetapi masih lumayan mirip dengan poster buronannya.
Dia menghampiri Philip. Gerakannya cukup besar saat berjalan, tidak seperti orang normal.
Gedung ini memiliki lima tingkat. Mereka naik ke lantai empat dan berjalan ke depan pintu rumah mereka. Philip merogoh kunci untuk membuka pintu. Di saat bersamaan, tiba-tiba tetangganya membuka pintu rumah.
Philbert terkejut dan memegangi lengan Philip dengan erat. Dia menundukkan kepala melihat kakinya.
Setelah ragu sejenak, dia mengulurkan tangan dan mengayunkan tinju di depan pria bertato.
“Keparat … “
Pria bertato marah. Philip bergegas mencegatnya dan meminta maaf, “Maaf, adikku bukan sengaja.”
Mendengarnya meminta maaf, pria bertato menahan emosi dan menyuruh Philbert untuk lebih berhati-hati. Lalu dia masuk ke rumahnya.
Philbert berkata dengan marah, “Biasanya dia lebih nyaring dariku … aku tidak bisa tidur karenanya!”
Philip berkata, “Itu bukan alasanmu untuk memukul orang. Sudah sering kuberi tahu, hanya orang bersalah yang akan memukul orang. Kalau hanya mengandalkan kekerasan dan enggan berbicara logis, artinya dia memang salah … Menurutmu, dia atau kamu yang salah?”
__ADS_1
Philbert menjawab, “Dia.”
“Oke, ayo masuk.”
Mereka masuk dan menutup pintu rumah.
Entah mengapa aku merasa ingin tertawa.
Seorang buronan yang melakukan pembunuhan dan perampokan pun mengatakan harus menjadi orang yang berbicara logis.
Mereka adalah buronan dan pasti akan sangat berwaspada. Jadi aku hanya bisa berdiri di depan tangga, bahkan tidak berani mendekati jendela mereka.
Aku mengamati gedung tua ini yang totalnya ada lima tingkat. Setiap tingkat kira-kira ada enam penghuni. Rumahnya sangat sempit dan kira-kira hanya dua puluhan meter persegi.
Aku naik ke lantai lima, ingin melihat keadaan di sekitar dari ketinggian.
Di lantai lima sangat hening. Sekarang sudah jam sebelas malam. Seluruh lantai lima gelap gulita karena tidak ada yang menyalakan lampu. Mungkin mereka semua sudah tidur.
Aku melintasi lorong sambil mengamati sekeliling.
Tiba-tiba aku mencium wangi cabai.
Aneh sekali.
Aku mengendusnya lagi dengan saksama. Seharusnya semua penghuni lantai lima sudah tidur, di lorong juga sunyi senyap. Lalu dari mana datangnya wangi cabai ini?
Aku menoleh ke belakang. Rumah di belakangku pas berada di atas rumah Philip. Ada lubang kecil di jendela rumahnya dan di dalamnya gelap gulita. Namun, jika dilihat dengan saksama, ada cahaya yang tampak samar-samar di lantai yang gelap itu.
Hhmm? Mengapa ada cahaya di lantai?
Aku membuka senter di ponsel untuk menyinari bagian dalam rumah. Aku baru sadar sama sekali tidak ada orang di dalam. Seluruh rumah penuh dengan barang-barang rongsokan seperti gudang.
__ADS_1
Aku terus memperhatikan cahaya di lantai. Aku langsung mengulurkan tangan ke dalam jendela dan pas memegangi gagang pintu.