
Dia bertanya, “Kenapa harus jual rumahnya? Setelah dijual, apakah uangnya diberikan pada Misel?”
“Tidak perlu, aku akan meninggalkan barang lain untuk dia. Kalau ada karma di dunia ini, aku juga tidak ingin menjerat kehidupan berikutnya dari istriku. Setelah rumahnya dijual, sepuluh persen uangnya untuk kamu, lalu bantu aku donasikan sembilan puluh persen sisanya pada SD Desa Honur di pinggir kota. Saat dia masih hidup, dia sering mengantarkan donasi barang dan dana ke sana. Sekolahnya belum punya trek lari karet. Kamu bisa bantu aku buatkan atas nama istriku.”
Dia berkata dalam bisikan, “Kamu percaya padaku?”
Aku menoleh padanya.
Dulu saat mengobrol santai dengan Melly, dia pernah bilang padaku.
“Dari dulu Kak Jenni tidak menikah, sampai sekarang juga belum. Dia selalu bilang orang yang dia sukai adalah seorang pahlawan. Keberuntungan terbesar dalam hidupnya adalah menemui orang itu, tapi penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah telat menemui orang itu.”
Aku berkata pelan, “Tidak banyak orang yang bisa kupercayai di dunia ini dan kamu adalah salah satunya. Sebenarnya selama ini aku sedikit kejam padamu. Bantu aku lakukan semua itu, lalu lupakan aku dan jalani kehidupanmu baik-baik.”
Jenni menggigit bibirnya dan tidak berkomentar.
Pada akhirnya, dia memutar badan dan menuruni gunung. Dia berkata sebelum pergi, “Nanti aku akan bantu kamu jaga makamnya. Seharusnya ada banyak hal yang ingin kamu katakan dengannya, aku tidak mau ganggu kalian … Lalu, jangan katakan hal-hal negatif seperti itu. Bahkan jika kamu masuk penjara, aku juga akan tunggu kamu keluar.”
Aku tersenyum getir, lalu menoleh pada batu nisan istriku.
Aku mengulurkan tangan untuk mengelus batu nisan yang dingin itu dengan pelan. Aku bergumam, “Kamu selalu bilang entah kapan Misel si bodoh itu akan menikah. Hari ini adalah hari pernikahannya. Pengantin prianya sudah diganti, dengar-dengar juga sangat baik padanya … Sebenarnya aku sangat takut melihat dia memakai gaun pengantin. Aku takut akan melihat dirimu yang dulu.”
“Aneh sekali, jelas-jelas aku tahu kamu tidak ada di dalam dan sedang menemaniku. Namun, saat berada di sini, tetap ada perasaan aneh dalam hatiku.”
“Apa kamu masih bisa dengar suara guntur? Apa kamu masih takut gelap? Apa kamu masih tunggu aku dengan tenang? Sebentar lagi … tunggu sebentar lagi, sebentar saja.”
Aku membungkukkan badan dan memberi kecupan pelan pada batu nisan.
__ADS_1
Saat aku menuruni gunung, Jenni sedang menungguku di sana.
Aku melambaikan tangan padanya dan berkata pelan, “Ayo kita pergi.”
“Oke …”
Aku naik ke dalam mobil. Setelah melihat gunung ini untuk terakhir kalinya, aku langsung berbalik arah dan pergi.
Sekarang sudah jam 10 siang.
Aku menyetir mobil menuju rumah Joni.
Selama ini aku tahu alamat rumahnya karena dulu aku bahkan langsung datang mencarinya.
Aku menekan bel pintu, lalu pintu rumahnya dibuka.
“Kenapa sekaget itu …” kataku. “Dulu kamu yang datang ke rumahku, tapi hari ini giliran aku yang datang ke rumahmu. Bagaimana rasanya menurutmu?”
Dia bertanya dengan waspada, “Untuk apa kamu datang?”
Aku jawab, “Bawa kamu ke suatu tempat.”
“Tempat apa?”
“Bukankah selama ini kamu mau tahu di mana suamimu? Aku akan beri tahu kamu.”
Dulu Wulan sering datang untuk menuntutku dan memintaku mengembalikan suaminya padanya, tapi sekarang wajahnya malah putih pucat. Dia yang sedang hamil bahkan sedikit gemetaran badannya. “Kamu … kamu mau apa? Aku tidak akan pergi denganmu!”
__ADS_1
“Tenang saja, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu.”
Seketika aku mencengkeram lengannya. Dia ingin berteriak, tapi aku mendekap mulutnya dan langsung menyeretnya ke dalam mobil.
Dia masih berteriak-teriak saat aku naik. Aku duduk di kursi pengemudi dan menutup pintu mobil. Dia berteriak sambil menyerbu ke arahku, ingin mencakarku dengan kuku jarinya.
Aku mengangkat tangan dan menampar keningnya. Dia langsung bersandar di kursi dan melihatku sambil gemetaran. “Kamu … ampunilah aku …”
“Kok kamu takut sekali aku akan menyakiti kamu …” kataku sambil mendesah. “Pakai sabuk pengaman kamu. Sudah kubilang aku tidak akan menyakiti kamu. Selama ini kamu terus mencari suamimu, jadi aku bawa kamu pergi menemuinya.”
Dia melihatku dengan bengong, lalu pada akhirnya memakai sabuk pengaman.
Aku menyetir mobil dan memboncengnya ke tempat di mana waktu itu aku menghajar Joni.
Setelah memarkirkan mobil, aku berkata sambil menunjuk ke sana, “Waktu itu aku menghajar suamimu di sini.”
Dia terbengong. Aku bawa dia turun dari mobil dan pergi ke tepi jembatan. Aku berkata, “Waktu itu aku menjambak kepalanya dan membenturkannya dengan kuat ke mobil. Dia lumayan penakut. Meskipun tindakannya seperti bajingan, nyalinya sangat kecil. Waktu itu dia sangat ketakutan dan langsung melompat dari jembatan. Kamu lihat … dia mati karena jatuh di sana.”
Wajah Wulan putih pucat. Dia menelan ludah dan melihat sungai di bawah dengan bengong.
Aku berkata, “Waktu itu malam hari, dia langsung mati setelah jatuh ke dalam sungai. Air sungai pun diwarnai oleh darah, tapi tidak masalah. Tidak ada orang yang akan melihat ke bawah jembatan di malam-malam begitu. Saat orang-orang lewat di esok pagi, darahnya juga sudah bersih karena air sungai.”
Wulan berkata padaku dengan bengong, “Kamu bercanda, ‘kan? Kamu sedang menakut-nakuti aku, ‘kan?”
“Lucu sekali. Jelas-jelas selama ini kamu tebak kalau Joni dibunuh olehku. Sekarang aku sudah mengaku secara terang-terangan, tapi kamu malah tidak mau percaya. Ayo naik ke mobil, aku bawa kamu cari mayatnya.”
Aku menarik lengannya dan membawanya kembali ke dalam mobil. Lalu aku menyetir ke bawah menelusuri jalanan. Aku berkata, “Rekaman CCTV di jalan ini tidak aktif. Waktu itu aku membawa mayatnya melintasi jalan ini. Aku menyetir mobilnya. Sebenarnya aku sangat lelah saat pulang karena aku berjalan kembali dengan jalan kaki, butuh banyak waktu.”
__ADS_1
“Candaan ini tidak lucu!” dia mengambil ponsel dan gemetaran saking marahnya. “Apa kamu berani katakan langsung pada polisi? Sekarang aku akan lapor polisi. Apa kamu berani ulangi lagi apa yang kamu katakan padaku tadi di hadapan para polisi?”