Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 67


__ADS_3

Agus bertanya, “Mengapa aku pantas mendapatkan gadis yang lebih baik?”


“Keluargamu sangat kaya! Kamu bisa punya banyak pilihan. Mengapa kamu mau pilih orang yang tidak pantas kamu sayangi?”


“Kalau mereka mengincar hartaku, mereka juga bukan orang yang pantas aku sayangi! Aku sudah tahu kamu sangat mementingkan rasa cinta. Kalau bisa membuatmu jatuh cinta padaku, mengapa aku harus pilih orang yang lebih mencintai harta? Kalau kamu bisa jatuh cinta padaku, aku bisa menjadi orang yang sangat bahagia dan kamu juga bisa hidup bahagia!”


“Setelah sekian lama kamu berpikir, pada akhirnya ini jawabanmu?”


“Iya …”


Gawat.


Agus sangat bodoh.


Namun, kebodohannya tepat mengenai sasaran.


Tiba-tiba Misel bertanya sambil melihatnya, “Apa kamu mau cium aku?”


Agus gemetaran.


Dia berkata terbata-bata, “Apa … apa kamu … akan memikirkan dia …”


“Mungkin.”


“Aku mau bilang … kalau begitu, aku tidak mau cium … tapi aku payah … aku tetap ingin cium kamu …”


Misel bergumam, “Cara terbaik untuk melupakan suatu percintaan adalah memulai percintaan yang baru. Agus … apa kamu benar-benar bersedia terus menunggu aku? Apa kamu akan menyayangi aku seperti dia pada dulunya?”


“Tidak … tidak akan.”


“Benarkah?” Misel sedikit kecewa.


“Dia sangat baik, tapi dia tidak pandai merawatmu …” kata Agus dengan gemetaran, “Maaf, kamu sudah memberitahukan banyak prestasinya padaku, tapi aku ingin seperti kakak iparmu yang memperlakukan kakakmu … aku bukan pahlawan seperti Yudha, tapi aku akan berusaha untuk menyukaimu, membuatmu hidup dengan bahagia dan sederhana seperti kakakmu …”


“Lebih baik lagi kalau seperti itu. Aku sudah tidak menginginkan pahlawan lagi.”


Misel menciumnya.


Yudha mencengkeram lenganku dengan erat. Badannya gemetaran dahsyat seperti Agus.


Dia berusaha mengontrol napasnya agar tidak terengah-engah.


Kami bersembunyi di dalam toilet yang sempit sampai Misel mengantar Agus pergi.

__ADS_1


Jelas-jelas Yudha datang untuk meminta berbaikan, tapi pada akhirnya hanya bisa keluar dari bangsal dengan kepala tertunduk dan sembunyi di koridor seperti pencuri.


Setelah keluar dari rumah sakit, aku berjalan mengikutinya. Tiba-tiba dia berkata dalam suara bisikan, “Bro, jangan ikuti lagi. Aku mau tenang sendirian.”


“Tidak mau minta berbalikan lagi?”


“Tidak …” katanya dengan suara pelan. “Dia lebih baik dariku. Aku bukan sedih karena Misel menciumnya, tapi aku tidak bisa memungkiri kalau dia lebih cocok dengan Misel daripada aku.”


Aku tersenyum getir.


Lalu mengapa sekarang harus berpura-pura lapang dada?


Yudha naik ke mobil dan menghilang di tengah kegelapan. Aku berdiri sendirian di jalanan dan tidak tahu harus pergi ke mana.


Aku tidak mau pulang ke rumah yang hampa. Namun, selain pulang ke rumah, orang sepertiku bisa pergi ke mana lagi?


Aku berbaring di sofa. Tadi malam aku tidak tidur, tapi aku tetap bersemangat.


Kepalaku sakit sekali … aku berharap bisa tidur. Namun, saat aku memejamkan mata dan akhirnya hendak terlelap, aku selalu akan membuka mata tiba-tiba.


Ketika aku membuka mata, kepalaku tersadarkan lagi. Aku melihat rumah yang hampa ini.


Aneh sekali …


Tanpa ditemani Chiro, kesunyian ini … membuatku tidak bisa tidur.


Sampai fajar menyingsing, aku tetap tidak mengantuk.


Di dalam video, istriku sedang berjalan di trotoar. Meskipun dia kalem, kadang dia juga akan bertindak nakal.


Dia suka berjalan sambil menginjak bayangan orang atau menginjak garis zebra cross.


Dia suka memakai gaun panjang. Dia berjalan di depanku dengan ditemani oleh Chiro yang akan mengitarinya.


Di dalam video, aku bertanya pada istriku, “Hari ini adalah hari perayaan pernikahan kita … kamu mau pergi ke mana?”


Dia menjawab sambil tersenyum, “Pergi ke Kafe Kirin.”


“Kenapa setiap kali pergi ke sana? Memangnya tidak bosan?”


Kafe Kirin adalah tempat kencan pertama kami.


Dia bertanya, “Apa kamu bosan?”

__ADS_1


“Tidak juga. Aku hanya ingin kita bisa punya kenangan baru.”


Dia berkata pelan, “Setiap hari saat kita bersama adalah kenangan baru. Setiap hari saat bersamamu patut aku kenang untuk waktu lama, walau kupikirkan beribu kali juga tidak akan bosan.”


“Sayang, mengapa kamu selalu bisa mengatakan rayuan cinta secara tiba-tiba? Kamu tidak merasa malu?”


“Aku juga sangat malu, tapi hatiku akan bahagia kalau bisa mengungkapkan cintaku padamu. Aku suka untuk tenggelam dalam perasaan seperti ini.”


Video terhenti pada senyumannya yang manis.


Aku mematikan televisi. Setelah ganti pakaian, aku naik taksi pergi ke Kafe Kirin.


Masih ada dua bulan, waktu yang tersisa untukku terlalu banyak …


Tanpa kehadiran Marsela, setiap hari pun terasa seperti satu tahun.


Aku tidak bisa tidur …


Bagaimanapun juga tidak bisa tidur. Kadang aku bisa tidur, tapi akan bangun dalam satu atau dua jam yang singkat.


Saat kesadaranku masih jernih, aku akan duduk seharian di sini sambil melihat foto istriku di dalam ponsel.


Lama-kelamaan, pihak kafe bahkan khusus mengosongkan tempat ini untukku. Setiap hari mereka menantikan kedatanganku.


Hari ini aku berkata pada pelayan sambil memegangi menu, “Mulai besok, tidak perlu kosongkan tempat ini untukku lagi. Hari ini adalah terakhir kalinya aku datang ke sini.”


Pelayan tidak tahan untuk berkata, “Pak … apa Bapak tidak bosan dengan makanan kami? Sudah sekian lama Bapak datang berturut-turut. Setiap kali datang, Bapak selalu duduk seharian.”


Aku menjawab dengan suara pelan, “Iya, ini adalah hari ke-59 aku datang berturut-turut.”


“Bapak ingat? Apa Bapak benar-benar tidak merasa bosan?”


“Ada hal yang sangat pantas dan tidak akan pernah bosan walau diulang ribuan kali.”


“Ah? Maksud Bapak makanan kami?”


“Aku tidak tahu … jangan bicara denganku, oke? Aku ingin duduk dengan tenang.”


“Baik, maaf …”


Sudah hari ke-59 …


Setelah putus dengan Misel, pada akhirnya Yudha juga tidak mundur dari garis terdepan dan terus berjuang di tim reskrim.

__ADS_1


Misel sudah memberitahukan kabar pernikahannya padaku, pasangannya adalah Agus. Aku tidak banyak berinteraksi dengan dia. Kalau pada akhirnya Misel memilih dia, artinya dia memiliki sesuatu yang membuat hati Misel tersentuh.


Aku duduk di tempat saat kencan pertama, dengan tenang melihat foto pengantin aku dan istriku.


__ADS_2