
Hal yang tak terduga benar-benar terjadi disekolah elit, tempat para pelajar yang memiliki posisi kedudukan yang tinggi. Tidak lebih dari mereka juga memiliki otak yang encer, hingga mengharumkan nama sekolah mereka. Karena setiap Olimpiade yang mereka ikuti pasti membuahkan hasil.
Wajah baru yang menarik semua mata di lorong kelas itu, membuat senyum tulus terukir dibibir sang murid baru. Dan sayangnya tidak mempan sama sekali untuk para siswi di sana, bagi mereka itu sudah menjadi hal biasa. Karena sekolah yang mereka tepati dipenuhi wajah tampan dan cantik. Jadi tidak heran, jika tidak ada yang tertarik sedikitpun saat sekolah mereka mendapat murid baru.
Sekilas menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan seorang guru. Sebelum masuk kedalam ruangan yang khusus untuk para guru pengajar disekolah itu. Meliar 'kan sebentar kedua matanya untuk mencari dimana seorang guru yang bertanggung jawab akan dirinya.
Tersenyum kecil, melangkah mendekati dimana meja seorang wanita yang sibuk dengan beberapa dokumen di hadapannya itu.
"Permisi?" Begitu sopan suara itu menyapu indra pendengaran sang wanita.
Mengadah 'kan pandangannya tepat di kedua mata sang murid yang kembali tersenyum saat netra-nya bertemu dengan milik wanita itu.
"Kau murid pindahan dari kota baru?" Cetusnya tanpa adanya basa-basi lebih dulu.
"Iya guru."
"Kenapa kau pindah kesini? Bukankah sekolah mu lebih bagus daripada disini?" Terus saja melontarkan perkataannya untuk memastikan jika murid baru itu memang berniat sekolah tempat itu.
"Menurut saya, sekolah manapun itu bagus. Tergantung pada diri kita yang mau menerimanya atau tidak."
Wanita itu mengangguk pelan menyetujuinya, tapi di satu sisi.. sang wanita berharap jika murid baru itu berubah pikiran.
"Kau sudah tahu? Jika sekolah ini banyak sekali monster yang berkeliaran."
"Saya kesini untuk belajar, bukan mencari monster yang anda katakan itu." Sahutnya dengan cepat, tanpa menghilangkan senyum khasnya itu.
"Baiklah jika itu yang kau mau." Mengangguk pelan. Beri die dari duduknya dengan beberapa buku dalam dekapannya itu.
"Ikutlah denganku, kau akan menjadi murid didik ku selama kurang satu tahun ini." Sambungnya, dan memilih berjalan lebih dulu tanpa menunggu tanggapan dari sang murid.
Hanya diam tersenyum, mengangguk kecil. Sebelum memutar tumit, mengikuti wanita itu dari belakang.. keluar dari ruangan itu menuju letak kelas yang akan menjadi kelasnya juga.
__ADS_1
Diam sejenak, berdiri diambang pintu.. sebelum melangkah masuk yang langsung menarik semua mata di sana. Terutama sosok gadis yang hanya bisa diam membuang napas pelannya. Menatap murid baru itu dengan pandangan biasa walau terselip makna yang sulit sekali diuraikan dalam sebuah kalimat.
"Kalian kedatangan teman baru," cetus sang guru.
"Seperti biasanya, tidak ada perkenalan. Kalian akan mengenal seiring berjalannya waktu." Beralih pada murid baru. "Duduklah di kursi yang kosong."
"Baik guru." Tanggapnya dengan pelan. Sebelum berjalan kearah dimana kurus yang tidak ada penghuninya. Samping Satya.. dimana bangku itu milik Saka.
Sebentar melihat kearah Satya, sebelum duduk di kursi itu. Meletakkan tas punggungnya dengan mengarahkan pandangannya pada sosok gadis yang mulai fokus pada materi yang disampaikan guru didepan kelas.
Dan itu ternyata membuat Satya mengikuti arah pandang murid baru dengan sorot mata biasa.
"Semoga mereka tidak saling mengenal." Batin Satya yang memilih membuka buku paket didepan matanya dan mendengar apa yang keluar dari mulut sang guru, walaupun Satya tidak mengerti sama sekali.
.
.
.
Sedangkan Vallen sendiri memilih untuk mengisi perutnya, karena gadis itu tidak ingin menyiksa dirinya sendiri.
Menikmati makanannya itu, membiarkan Manda yang terus saja melancarkan aksinya untuk merinding Delta.
Vallen juga tidak mengerti, kenapa Manda begitu tidak menyukai akan kehadiran Delta di sekitarnya. Memangnya kesalahan apa yang telah Delta lakukan pada Manda? Hingga gadis itu terus saja meriksa Delta. Tidak mungkin jika itu hanya ingin mencari kesenangannya sendiri. Pasti ada suatu hal dibalik itu semua. Tapi, Vallen tidak ingin tahu. Itu akan membuat kepalanya banyak pikiran.
Tersentak pelan saat nampan makanan terletak begitu saja dimeja depannya, dengan suara deritamu kursi yang bergeser. Membuat Vallen mengadahkan pandangannya, tepat menatap sang murid baru yang menatap Vallen dengan senyumannya itu. Tapi diabaikan oleh Vallen yang memilih kembali menikmati makanannya.
"Jauh dari dugaan ku, ternyata kita berada di kelas yang sama." Ucapnya, sekilas melihat Vallen, sebelum menyumpal mulutnya.
"Kau yang memintanya, bukan?" Sahut Vallen dengan nada rendah, tanpa melihat sang murid baru.
__ADS_1
Diam, tidak mengerti. Sebelum tersenyum hambar saat tahu arti dari perkataan dari Vallen.
"Kenapa kau_" lontarnya yang terhenti saat seorang pemuda familiar duduk di samping Vallen.
"Kau murid baru di kelasku, bukan? Sepertinya kita belum kenalan sejak tadi." Diam sejenak, menelan ludahnya. "Siapa nama mu?"
Tidak langsung menanggapi, sang murid baru sebentar melihat Satya yang mulai memakan makan siangnya itu.. tidak terlalu menunggu jawaban dari sang murid baru.
"Taksa, itu namaku." Tanggapnya yang membuat kepala Satya mengangguk pelan.
"Kenapa kau pindah kesini? Bukankah banyak sekali sekolah bagus di kota Baru?"
"Apa perkataan mu itu mewajibkan ku untuk menjawabnya?"
Satya tersenyum kecil. "Jika kau ingin menjawabnya, akan aku terima. Jika aku tidak ingin menjawabnya, aku tidak akan mempermasalahkannya." Kembali tersenyum, dan menyumpal mulutnya dengan makanannya itu.
"Ngomong-ngomong, kalian saling mengenal?" Tambah Satya melihat Vallen maupun Taksa secara bergantian.
"Vallen?"
"Berhentilah bicara, makan makanlah makanan mu." Sarkas Vallen, membuang napas pelan. Memilih beranjak pergi dari tempat itu dengan nampan makannya yang tersisa.
Menaruh nampan di atas tumpukan nampan yang kotor, berjalan begitu saja melewati Manda-- mengurungkan tangannya yang hampir saja menarik surai panjang milik Delta.
Melihat kepergian Vallen dengan pandangan tanya, dengan kerutan samar di keningnya. Walau itu hanya sebentar. Sebelum mendorong begitu saja tubuh Delta, sebelum berjalan menyusul kemana Vallen pergi. Mengabaikan keadaan Delta saat ini yang benar-benar kacau.
Sedangkan Satya dengan Taksa masih sibuk akan pikiran mereka masing-masing, sembari menikmati makanan mereka dalam diam. Sebelum Taksa membuka mulutnya, hanya untuk sekedar basa-basi.
"Kau terlihat dekat dengannya, apa kau berteman dengannya?"
"Kenapa kau bertanya? Disaat aku berada di satu ruangan yang sama dengan Vallen." Sahut Satya dengan nada biasa.
__ADS_1
"Karena tidak semua orang seperti itu. Walaupun kita berada di satu ruangan yang sama bertahun-tahun, belum tentu rasa canggung itu tidak ada." Akhir Taksa yang kini berdiri dari duduknya, pergi dari hadapan Satya.
Diam, meluruskan pandangannya melihat makan siangnya dengan sorot mata yang sulit sekali diartikan. Dan tanpa menyadari tangan kanannya mencengkram sendok makannya itu.