
Terlihat jelas jika sang wanita begitu menyukai pria muda itu sebagai guru privatnya. Tidak mungkin jika ibunya kepincut dengan pria itu? Apa hanya karena sikap baik yang ditunjukan pria itu? Hem.. padahal sikap itu hanyalah tipuan untuk mangsa selanjutnya.
Menundukkan sebentar kepalanya dan berniat pergi dari tempatnya berdiri saat ini. Tapi panggilan dari sang wanita mengurungkan niatnya. Kembali melihat keberadaan wanita itu yang berjalan mendekatinya, setelah sang pria pergi dari rumahnya.
"Bagaimana? Kau menyukai caranya mengajarkan materi padamu?"
"Darimana ibu menemukan?" Berbalik bertanya Vallen kepada sang wanita.
"Emm.." Sedikit berpikir yang tidak membuat Vallen penasaran. "Teman ibu yang merekomendasikannya."
"Dia guru musik disekolah ku." Ucap Vallen.
"Benarkah?" Sedikit terkejut apa penuturan Vallen. "Kenapa dia tidak mengatakannya lebih awal jika kau murid didiknya?"
Membuang napas pelannya dengan melihat ke sembarang arah. Dan kembali membalas tatapan Vallen. "Tapi itu lebih baik daripada aku memberimu guru les ditempat bimbel mu sebelumnya."
"Sepertinya ibu menyukainya."
"Bagaimana bisa aku tidak menyukainya? Jika dia begitu baik sekali, dan cara dia bicara sangatlah sopan. Jadi kau harus jaga bicara mu saat bersamanya. Kau mengerti?" Tersenyum simpul pada Vallen.
"Pergilah ke kamarmu dan tidur. Esok hari kau harus bangun pagi." Pinta sang wanita yang kini berjalan pergi dari hadapan Vallen.
Menutup pintu kamarnya dengan rapat, dan memilih berjalan kearah dimana balkon kamarnya berada. Mengijinkan semilir angin malam menerpa wajah cantiknya, hingga hawa sejuk menyentuh tubuhnya dengan damai.
Mengedarkan pandangannya melihat sekitar rumahnya, yang terhenti pada mobil hitam yang baru saja keluar dari halaman rumahnya, dan Vallen tahu itu milik siapa.
"Sebenarnya apa yang dia inginkan?"
__ADS_1
"Tidak mungkin dia tidak tahu aku ini putrinya."
Sorot matanya benar-benar tidak bisa dibaca. Menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Membiarkan semilir angin malam terus menerpa wajah cantiknya.
.
.
.
Kegiatan sehari-hari bagi seorang pelajar adalah pergi ke tempat mereka menuntut ilmu, entah dengan perasaan senang atau tidak yang jelas mereka kan pergi ke tempat dimana banyak orang menyebutnya, 'sekolah'
Sama halnya dengan Vallen yang kini telah sampai di sekolahnya, tidak langsung pergi dimana kelasnya berada. Gadis itu malah menyimpan tasnya didalam loker miliknya, berjalan ke sembarang arah untuk menyempatkan waktunya sendiri.
Tapi saat berada di akhir anak tangga langkahnya terhenti begitu saja, saat mendengar panggilan dari seorang murid familiar dimata Vallen. Tapi ia tidak begitu tahu siapa namanya.
"Kepala sekolah meminta mu untuk datang ke ruangannya." Cetus sang siswi yang beri diri dihadapan Vallen.
"Setidaknya katakanlah terimakasih padaku lebih dulu." Sungutnya dengan kesal, sebelum membalikkan tubuhnya yang spontan tersentak begitu saja saat seorang pemuda berjalan di belakangnya.
Pemuda itu juga tak kalah terkejutnya dengan spontan menghentikan kakinya dengan cepat, sebelum menabrak tubuhnya siswi itu.
"Maafkan aku." Sekilas menundukkan kepalanya, sebelum berjalan pergi dari hadapan Taksa.
Merasa heran akan sikap siswi itu yang seharusnya tidak perlu mengatakan maaf padanya. Karena dia tidak salah sama sekali pada dirinya.
Membuang napas pelan, dan memilih berjalan menaiki anak tangga. Tapi niatnya ter-urung begitu saja, saat kejadian semalam terlintas begitu saja di kepalanya.
__ADS_1
Mengarahkan pandangannya dimana siswi itu yang tersenyum mendekati beberapa temannya itu. "Bukankah dia orang semalam yang menabrak ku?" Sekilas menaikan alisnya, dan kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Masuk kedalam ruang kepala sekolah setelah mengetuk pintu. Berjalan lebih masuk dalam ruangan itu, yang membuat sang kepala sekolah membuang napas pelan . . beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Vallen yang berdiri didekat sofa coklat itu.
Meletakkan begitu saja tumpukan sedang di atas meja kaca depan mata Vallen yang masih diam melihatnya. "Aku tidak tahu apa yang kau katakan pada kakek mu. Setidaknya jangan melakukan hal konyol untuk para guru disini."
"Aku tidak mengatakan apapun padanya. Aku juga belum bertemu dengannya akhir-akhir ini. Jadi berhentilah berprasangka buruk terhadapku, karena itu bisa menimbulkan ke salah pahaman." Senyum simpul terlukis dibibir Vallen. Mengambil tumpukan kembar kertas itu begitu saja.
"Terimakasih sebelumnya sudah mengijinkan ku untuk melihatnya. Aku akan mengembalikannya jika semuanya sudah selesai." Final Vallen yang kini benar-benar pergi dari ruang kepala sekolah dengan raut wajah yang berubah sangat drastis. Tidak ada senyum sedikitpun di bibirnya.
Melangkahkan kakinya pergi dimana perpustakaan sekolahnya berada, tanpa memperdulikan belum pelajaran pertama telah dimulai. Karena ia akan mencari tahu hal yang belum pasti secepat mungkin, karena itu lebih baik daripada harus ditunda-tunda.
Dan tanpa menyadari sepasang mata milik Satya melihat punggung Vallen yang kini mulai mengecil di pupil matanya, saat ingin menyerukan suaranya untuk memanggil Vallen dan berniat menyusul gadis itu. Seorang Manda menariknya begitu saja pergi dimana ruang musik berada. Karena pelajaran pertama adalah musik, mereka harus pergi ke ruang musik setelah lamanya belajar didalam kelas.
Memberi jalan untuk beberapa murid yang terburu-buru masuk keluar perpustakaan untuk pergi ke kelas mereka masing-masing. Lain halnya dengan Vallen yang melangkah masuk, sebentar melihat kearah penjaga perpustakaan yang untung saja tidak menyadari kehadirannya. Itu memudahkan Vallen untuk bolos dalam pelajaran, dan mencari tahu semua data milik guru musik.
Memilih tempat paling sepi, dimana paling belakang pojok kanan. Karena tempat itu tidak akan didatangi oleh penjaga perpustakaan.
Duduk bersila di atas lantai dengan beberapa lembar kertas putih yang menampilkan semua data guru di sekolahnya. Mencari terus data yang Vallen tujuan, sampai menemukannya.
Membaca dengan teliti setiap kata yang tertera didalam lembar kertas di tangannya saat ini dengan kening yang sesekali mengerut samar.
"Kenapa tidak ada satupun anggota keluarga yang tertera?" Pelan Vallen sedikit mengigit bibir bawahnya bagian dalam. Sebelum merogoh saku jas sekolahnya.
Membuka aplikasi kamera di handphonenya untuk memotret semua data milik guru musik, hingga sebuah deheman pelan menyertakan tubuhnya.
Perlahan mengarahkan pandangannya pada sosok wanita cantik dengan kacamata yang bertengger di tulang hidungnya. "Apa yang kau lakukan disini? Pergilah ke kelas mu. Jam pelajaran telah dimulai. Apa kau ingin aku memberitahu ibumu jika kau bolos pelajaran?"
__ADS_1
Berdiri dari duduknya dengan semua lembar kertas di tangannya, kembali menyimpan handphonenya. Menundukkan sekilas kepalanya, sebelum berjalan pergi dari hadapan sang wanita yang diam menghela napas pelan dengan pandangan lurus ke depan.
"Apa itu efek keseringan menggunakan earphones di telinga? Hingga dia tidak mendengar belum sekolah." Gumam sekolah dengan kepala menggeleng pelan. Dan kembali mengelilingi perpustakaan itu untuk mencari murid yang masih tertinggal di dalam ruangan itu.