
Sering kali rencana yang sudah tersusun rapi tidak dapat diwujudkan saat itu juga. Buktinya saat ini Vallen berada di balkon kamarnya . . duduk di kursi dan laptop didepan matanya yang terletak di atas meja bundar itu.
Spontan menoleh kearah pintu kamarnya yang terbuka dengan perlahan membuat Vallen dengan cepat menyembunyikan beberapa lembar foto itu dibawah buku tulisnya, agar tidak diketahui oleh ibunya.
Tersenyum membalas senyuman dari sang ibu yang meletakkan segelas air putih yang ditemani potongan lemon didalamnya dengan es batu . . untuk mengurangi sedikit rasa pusing di kepala Vallen, agar waktu belajarnya tidak terganggu sedikit saja.
Mengusap pelan pundak Vallen tanpa melunturkan senyumannya. Tidak mengatakan sepatah kata saja, sang wanita kini berjalan pergi dari kamar Vallen . . diam melihat kepergian ibunya itu yang hilang dari balik pintu.
Diam sejenak, sebelum beri diri dari duduknya, mengarahkan kakinya dimana pintu kamarnya berada. Menguncinya dengan pelan, agar tidak ada siapapun yang masuk kedalam kamarnya lagi. Sekalipun itu ke udara orang tuanya.
Duduk kembali dengan menyingkirkan buku tulisnya yang menutupi beberapa foto di sana, menyalakan layar laptopnya dengan sorot mata yang sulit sekali diartikan.
"Apa akan ada hasilnya jika aku kembali ke rumah ini?" Ungkapnya salam hati.
"Kapan aku bertemu dengan kakek?"
Dengan cepat menyambar handphonenya, menghubungi seseorang di seberang sana yang tidak langsung menerima panggilannya.
"Hallo?"
Suara familiar menyapa indera pendengaran Vallen, yang menyunggingkan senyumannya dengan kedua mata yang sedikit berbinar.
"Apa salah jika aku merindukan kakek?"
.
.
.
__ADS_1
Jika tidak mencoba Delta tidak akan tahu bagaimana hasilnya nanti, karena hanya demi kebaikan, Delta rela mengorbankan nyawanya sendiri. Seperti saat ini, gadis itu benar-benar memiliki tekat yang begitu tinggi. Duduk berhadapan dengan seorang pria dewasa yang tengah menegak minumannya . . terlihat seperti bukan seorang guru.
Itu membuat senyum kecut tercetak dibibir Delta dengan kepala sedikit menunduk, dan tidak disadari oleh sang pria yang melihat beberapa wanita tengah berdansa di atas lantai dance floor.
"Kau terlihat menikmatinya." Cetus Delta yang begitu samar di dengar oleh sang pria. Karena dentuman musik yang diputar begitu bising.
"Apa?" Serunya sembari menoleh kearah Delta. "Apa yang kau katakan?"
"Kenapa anda memilih tempat seperti ini? Padahal saya ingin mendiskusikan soal pelajaran." Tak kalah serunya Delta mengatakannya.
Masih tidak mendengar apa yang Delta katakan, pria itu berpindah duduk. Kini berada di samping Delta yang spontan sedikit menjadi jarak dengan pria itu. Karena tidak ingin terkena rumor yang tidak-tidak, walaupun tempat ini jarang sekali murid dari sekolahnya . . mungkin saja tidak pernah. Tapi Delta juga harus menjaga dirinya.
"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan." Menyipitkan sebentar kedua matanya menatap Delta, sebelum menegak minuman yang memiliki kadar alkohol rendah, tapi itu memabukkan.
Kembali menuangkan air itu kedalam gelas yang kini diberikan pada Delta, hanya diam melihatnya tanpa ekspresi.
"Minumlah, kau juga sering meminumnya, bukan?" Pinta sang pria yang terus saja memaksa Delta untuk menegak minumannya.
Pria itu tertawa hambar dengan meluruskan kembali wajahnya, sebelum menoleh kesamping kanannya, diaman seorang Delta berada.. dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Bukankah jalan hidup mu sudah sesat sejak dulu? Kenapa kau berpura-pura suci? Disaat kau pernah menjual dirimu pada pria yang jauh lebih dewasa dariku." Sekilas menaikan alisnya dengan mengikis jaraknya dengan Delta yang kembali spontan menggeser tubuhnya kebelakang.
Tapi pinggangnya direngkuh begitu saja oleh tangan kekar milik sang pria, dengan paksa mendekatkan tubuh Delta pada tubuhnya. Tidak perduli dengan rontaan dari Delta yang berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari tangannya itu.
Membelai wajah Delta hingga tangan itu menyentuh rahang dan leher Delta yang menahan napasnya dengan kepala yang sedikit mengadah.
"Aku bisa membayar mu lebih besar dari pria itu, apa kau tidak ingin mencobanya dengan ku malam ini?" Bisik-nya yang begitu menggoda tepat di telinga Delta. Dan jarak mereka berdua pun terlihat intim sekali.
Tanpa menyadari seseorang telah memotret kedua insan itu dua kali, sebelum beranjak dari duduknya dan pergi dari tempat itu. Membiarkan kedua insan itu melakukan hal yang jauh dari luar dugaannya.
__ADS_1
Masih diam, tidak membuka suaranya. Delta berusaha melepaskan tubuhnya dari kengkungan tangan pria itu yang semakin kuat, hingga usaha Delta berakhir nihil. Tidak ada hasilnya, walau Delta sudah berusaha.
"Setelah kita melakukannya, bukankah kau bisa membuat cerita novel yang menarik. Sang guru yang tergoda dengan muridnya." Pria itu menampilkan smrik di bibirnya yang tidak dilihat oleh Delta.
"Anda benar-benar guru tidak tahu ma-lu." Dengan sekuat tenaga Delta berdiri dari duduknya, dan itu berhasil.
Menatap sang pria penuh kobaran api di tubuhnya, dengan napas yang memburu. "Saya memang pernah menjual tubuh saya, karena saya punya alasan. Tapi bukan berarti saya wanita gampangan seperti apa yang ada dipikiran anda."
Sang pria kembali tertawa akan perkataan yang terlontar dari mulut Delta. "Bukankah itu nyatanya? Kau memang perempuan murahan." Nada bicaranya semakin merendah, apalagi saat mengatakan, 'murahan'.
Sedikit mengigit bibir bawa hanya bagian dalam dengan gemas, karena tidak bisa melontarkan perkataan kasar untuk pria didepan matanya saat ini. Delta memilih pergi dari tempatnya berdiri, tapi pergelangan tangannya dicekal kuat dengan sang pria. Dengan paksa menarik kembali tubuh Delta yang spontan terjatuh di atas sofa itu.
Dan sang pria tidak tinggal diam, mengunci semua pergerakan Delta, agar tidak bisa keluar dari kurungannya.
"Kau bergerak sedikit, jangan harap kau bisa lolos malam ini." Ancamnya dengan nada rendah.
"Kau akan menyesalinya."
"Tidak, aku tidak akan menyesalinya. Aku akan mendapat keuntungan dan kesenangan." Tersenyum miring dan mulai memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada leher putih milik Delta.
Menghirup aroma wangi tenang di sana yang benar-benar menggoda. Itu membuat Delta menahan desahannya dengan menelan ludahnya berulang kali, karena tidak ingin tergoda sedikitpun dengan pria itu.
"Siapapun, tolonglah diriku."
Sepang kaki yang baru saja masuk kedalam tempat maksiat itu mengedarkan pandangannya, niatnya datang ketempat itu untuk mencari kesenangan, menenangkan pikirannya. Tapi pemandangan yang jauh diluar dugaannya tersaji begitu saja didepan matanya, hingga senyum kecut terlukis begitu saja di bibirnya.
"Benar-benar pria brengsek." Gumamnya.
Berjalan mendekat, meraih begitu saja pundak sang pria yang menyentak tangan pemuda itu dengan menoleh kebelakang. Dimana seorang Taksa yang tersenyum miring, sebelum melayangkan pukulan tepat disudut bibir sang pria yang limbung di atas sofa.
__ADS_1
Itu membuat Delta dengan cepat merapikan pakaiannya dengan berdiri dari duduknya, tidak terkejut melihat sikap Taksa yang memberi pelajaran pria itu.