Psycho

Psycho
limabelas


__ADS_3

Semakin mempercepat langkahnya untuk menghentikan Vallen, mencekal pelan pergelangan Vallen yang sedikit tersentak.. Menghentikan langkahnya, perlahan menoleh kearah Delta dengan raut wajah yang biasa, walau penuh tanya.


"Ada yang ingin aku katakan padamu." Pelan Delta yang sedikit merasa ragu."


"Oh," menghadapkan tubuhnya, berdiri dihadapan Delta. "Apa yang ingin kau katakan?"


Tidak langsung menjawab apa yang dikatakan Vallen. Delta melihat sekelilingnya sebentar. "Bukannya ingin menyuruhmu, setelah pulang sekolah nanti, kau bisa menemui ku di perpustakaan."


Sekilas menganggukkan kepalanya, sebelum berjalan pergi tanpa menunggu jawaban dari Vallen. Saat itu juga Satya berdiri di hadapannya dengan sorot mata yang mengarah pada kepergian Delta.


"Apa yang dia katakan?" Cetus Satya beralih menatap Vallen.


"Aku juga tidak tahu apa yang dia katakan." Sebentar membalas tatapan dari Satya, sebelum berjalan pergi kearah dimana kelasnya berada. Meninggalkan Satya sendiri, yang terdiam dengan kerutan samar di keningnya. Sebelum melangkahkan kakinya, menyusul Vallen pergi.


.


.


.


Pulang ke rumah yang ditunggu banyaknya orang, terutama para pelajar. Tapi lain halnya dengan Vallen, gadis itu penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Delta-- walau raut wajahnya masih terlihat sama, datar tanpa senyum di bibirnya.


Mencangklongkan tas punggungnya, sebelum beranjak dari duduknya, berjalan keluar dari dalam kelas tanpa melihat kearah Delta maupun teman-teman sekelasnya itu.


Melewati banyaknya murid yang lalang di koridor kelas, hingga kakinya terhenti diambang pintu perpustakaan. Membuang napas pelannya lebih dulu, sebelum melangkah lebih masuk yang tidak mendapati siapapun didalam sana.


Mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, mulai melihat banyaknya buku yang tertata rapi didalam rak buku.


Menghentikan kedua kakinya tepat di samping salah satu rak buku. Perlahan mengubah posisi berdirinya menghadap rak buku.


Sebentar meliarkan pandangannya, membaca beberapa judul buku didepan matanya saat ini. Hingga tangannya terhenti saat ingin mengambil salah satu buku itu, akan tubuhnya yang dikejutkan oleh sebuah tangan yang menepuk pelan pundaknya.


Sedikit tersentak tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun, walau detak jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Perlahan menoleh kesamping kirinya, mendapati sosok Taksa yang menyunggingkan senyumannya pada Vallen.


"Apa yang kau lakukan disini?" Spontan Vallen.


"Seharusnya itu yang aku tanyakan padamu. Apa yang kau lakukan disini?" Tanggap Taksa.


"Aku hanya__" tidak menuntaskan perkataannya saat kedua matanya melihat kehadiran Delta, yang tersenyum padanya.

__ADS_1


Sebelum senyuman itu lenyap dengan perlahan, saat Delta berdiri di samping Taksa. Itu membuat Vallen tahu, jika ada hal diantara mereka berdua.


"Pergilah, kau tidak ada urusannya dengan ini sama sekali." Pinta Vallen pada Taksa.


Beralih menatap Vallen kembali dengan senyumannya. "Aku akan menunggu mu diluar." Membalikkan tubuhnya, berjalan pergi begitu saja tanpa menunggu tanggapan dari Vallen.


Diam, melihat kepergian Taksa dengan pandangan berbeda.


"Kau takut?" Cetus Vallen menatap Delta.


"Oh," membalas tatapan Vallen dengan gugup. "Tidak, aku tidak takut sama sekali dengannya." Menggelengkan pelan kepalanya.


Membuat kepala Vallen mengangguk pelan, memilih berjalan dimana kursi yang telah disediakan. Yang diikuti Delta-- kini duduk dihadapan Vallen.


"Omong-omong, apa kau sudah mengenal Taksa sebelum dia pindah kesini?" Tanyanya dengan pelan, karena tidak ingin menimbulkan masalah baru.


"Bagaimana denganmu sendiri? Kau mengenalnya?" Sarkas Vallen yang membuat Delta menelan ludahnya, sedikit menundukkan kepalanya.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, aku juga tidak tahu, harus darimana aku memulainya." Menatap Vallen yang diam, menunggu apa yang dikatakan Delta kembali.


"Malam itu, jika aku tidak keluar rumah, mungkin aku juga tidak tahu." Sambungnya yang kini terdiam. Membuat rasa penasaran Vallen semakin menjadi-jadi. Tapi berusaha semaksimal mungkin, Vallen terlihat biasa.


"Apa kau pernah melihat aku melakukan hal kekanak-kanakan itu padamu?" Pelan Vallen.


"Tidak!" Gumam Delta yang kembali mengingat dimana dirinya dirundung banyaknya orang, tapi tidak ada Vallen diantara mereka. Itu membuat hatinya mulai yakin, jika semuanya akan baik-baik saja . . terutama dirinya.


"Aku tidak memaksamu untuk mengatakannya, tapi kau juga harus tahu . . jika kau pendam sendiri, semuanya tidak akan cepat selesai." Yakin Vallen.


"Aku tahu," cepat Delta. "Tapi_"


Menyunggingkan senyumannya sembari dari duduknya, membuat Delta sedikit mengadahkan pandangannya menatap Vallen.


"Temui aku, jika kau sudah siap mengatakannya. Aku pergi." Tanpa menunggu tanggapan dari Delta, Vallen berjalan keluar dari perpustakaan itu. Karena bagi Vallen jika terus menunggu Delta mengatakannya didalam sana, itu sama saja waktunya akan tertuang sia-sia.


Sebentar menghentikan langkahnya, sekilas menatap Taksa yang berdiri bersandar di samping pintu. Tidak mengatakan apapun, Vallen berjalan melewatinya begitu saja. Itu membuat Taksa tersenyum, menjajarkan langkahnya dengan Vallen. Saat itu juga Delta keluar dari perpustakaan.


Menghentikan langkahnya diambang pintu dengan helaan napas pelan, melihat dua insan yang mulai mengecil dari pupil matanya.


"Apa aku bisa mempercayai Vallen?"

__ADS_1


.


.


.


Berjalan beriringan di atas trotoar pejalan kaki, dengan pikiran masing-masing. Sebelum Vallen membuka suaranya untuk pertama kalinya.


"Sepertinya kau mengenal Delta dari jauh-jauh hari sebelum kau datang ke sekolah." Tanpa melihat kearah Taksa, Vallen mengatakannya.


"Aku baru melihatnya hari ini." Jawab Taksa. "Jika dia tidak menghampiri ku, aku juga tidak akan tahu siapa dia."


"Aku tidak suka orang yang berbohong." Lirih Vallen, membuat Taksa menoleh kesamping kanannya. Menatap Vallen.


"Aku bicara apa adanya, aku tidak pernah bicara omong kosong padamu. Kenapa kau sulit sekali untuk mempercayai ku?"


"Entahlah." Gumam Vallen.


"Apa hanya karena kejadian dimasa lalu? Kau menghindari ku, dan begitu enggan bicara padaku."


"Mungkin itu salah satu alasannya juga." Menghentikan langkahnya sembari menatap Taksa. "Jadi berhentilah bersikap baik padaku, ataupun berpura-pura akrab denganku."


Tanpa adanya senyum di bibirnya, Vallen berjalan pergi dari hadapan Taksa yang masih terdiam berdiri ditempat. Perlahan melihat kepergian Vallen dengan senyum hambar-nya.


"Bagaimana bisa kau bersikap seperti itu padaku?" Gumamnya yang kembali melangkahkan kakinya.


Sedangkan Vallen yang kini menghentikan kakinya didepan penyebrangan jalan, melihat beberapa kendaraan yang lalu lalang di sana.. hingga sebuah motor besar berhenti begitu saja didepan matanya.


Melihat pemuda familiar yang perlahan melepas helm full-facennya tanpa turun dari atas motornya.


"Kau ingin pulang bersama ku?"


Saling pandang dengan bibir yang mengatup rapat, tanpa menyadari jika sepasang mata milik Taksa melihat semua itu dari jarak yang tidak begitu jauh dengan sorot mata yang sulit sekali dibaca.


"Tidak!! Aku bisa pulang sendiri." Sahut Vallen yang berniat ingin menyebrangi jalan raya itu, tapi pergelangan tangannya dicekal begitu saja oleh Satya.


Membuat Vallen membuang napas pelannya, menyentak tangan Taksa.


"Kenapa kau tidak ingin pulang denganku?"

__ADS_1


"Jangan memaksa orang, jika kau tidak ingin dipaksa.


__ADS_2