Psycho

Psycho
tigabelas


__ADS_3

Membuang napas pelannya, menghentikan tangan kanannya dengan pandangan perlahan melihat kearah pintu kelas yang tidak lagi mendapati sosok Delta di sana. Membuat Vallen melihat sekeliling kelasnya yang tidak ada siapapun, kecuali dirinya sendiri.


Beranjak dari duduknya, setelah meletakkan pena tinta hitam di tangannya tanpa menutup sedikitpun buku pelajarannya itu. Berjalan kearah dimana bangku Delta. Kembali menoleh kearah pintu sebentar, hanya untuk memastikan jika tidak ada orang yang masuk kedalam kelas . . sebelum membuka buku tulis milik Delta yang kenyang mendapati satu kembar foto.


Dimana sosok yang berada didalam foto itu begitu familiar di kedua mata Vallen.


Diam, melihatnya sebentar, sebelum mengambilnya dan menutup buku itu kembali. Memilih berjalan pergi dari ruang kelasnya itu dengan lembar foto di tangannya.


Berjalan terus tanpa memperdulikan banyaknya murid yang memenuhi lorong setiap kelas itu, karena tujuannya sat ini ingin menemui seseorang yang tidak Vallen ketahui dimana keberadaannya.


Hingga dibelikan lorong itu langkahnya sempat terhenti, walau sebentar. Hanya karena seorang Manda yang juga menghentikan langkahnya, menatap Vallen dengan bibir yang menipis.


"Tidak seperti biasanya kau berada diluar kelas disaat jam istirahat kedua dimulai." Lontar begitu saja Manda untuk Vallen.


Hanya diam, yang membuat Manda berjalan pergi. Tidak perduli jika tidak mendapat tanggapan dari Vallen. Saat itu juga, Vallen berjalan pergi.


Tapi langkah Manda terhenti begitu saja dengan kening yang mengerut samar. Menoleh kebelakang melihat kepergian Manda, dan menurunkan pandangannya tepat pada selembar foto yang berada ditangan kanan Vallen.


"Foto siapa yang dia bawa?" Tidak perduli dengan urusan Vallen saat ini, karena Manda ingin kembali memberi pelajaran untuk Delta.


Sampainya dilapangan basket yang berada didalam ruangan, membuat Vallen menghentikan langkahnya dengan pandangan liar. Mencari sosok pemuda familiar itu, mengabaikan banyaknya murid yang tengah bermain basket . . sebelum bola basket biru terlempar kearah Vallen begitu saja.


Membuat Satya yang ikut bermain dalam permainan itu, berjalan sedikit berlari untuk mengambil bola basket yang terhenti di samping kaki Vallen berdiri.


"Kau disini?" Sapa Satya sembari mengambil bola itu. Dilempar begitu saja pada teman-temannya yang lain, dan memilih tetap berdiri dihadapan Vallen-- yang diam tidak menanggapi, tanpa menghentikan melihat sekitarnya.


Itu membuat Satya sekilas berdacak pinggang, mengikuti arah pandangan Vallen, walau hanya sebentar.


"Siapa yang kau cari?"


"Kau melihat murid baru?" Sahut Vallen, kini menatap Satya.

__ADS_1


"Taksa yang kau maksud?"


Bergumam pelan sebagai jawabanya.


"Kenapa kau mencarinya?"


"Ada hal yang ingin aku tanyakan padanya." Kembali melihat sekitarnya, tanpa menyadari akan raut wajah Satya yang mulai berubah.


"Sepertinya dia tidak ada disini, aku pergi dulu." Pamitnya yang ditahan oleh Satya.


"Kenapa kau tidak pernah mencari ku?"


"Apa?" Pelan Vallen yang tidak mengerti.


Membuat Satya melepaskan cekalannya dari pergelangan tangan Vallen. "Kau punya waktu setelah pulang sekolah nanti?"


"Aku harus menemui guru bimbel ku untuk meminta contoh soal tes ujian masuk Universitas. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu. Ajaklah Manda, dia banyak waktu jika untuk bermain." Diam sejenak. "Atau, kau bisa mengajak Delta."


Tersenyum kecil, sebelum membalikkan tubuhnya. Berjalan pergi dari tempat itu dengan tampang yang sulit sekali diartikan.


Menyipitkan kedua matanya saat berada di taman sekolah, mencari keberadaan Taksa yang sepertinya juga tidak ada ditempat itu. Tapi saat Vallen menoleh kebelakang, sedikit mengadahkan pandangannya, tepat dimana atap sekolah perpustakaan berada. Di sana terdapat dua insan yang begitu familiar di kedua mata Vallen.


Tanpa memikirkan apapun lagi, Vallen melangkahkan kakinya kearah dimana atap sekolah itu berada.


Melewati banyaknya murid yang lalang di sekitarnya. Menaiki anak tangga satu persatu yang akan mengantarkannya dimana atas perpustakaan itu berada.


Menghentikan langkahnya tepat didepan pintu yang terkunci, membuat Vallen berusaha membukaknya. Tapi masih saja terkunci.


"Jika kau menyelesaikannya sendiri, itu tidak akan cepat selesai." Suara familiar menyapa indera pendengarannya. Membuat Vallen spontan menoleh kebelakang, dimana sosok Satya yang kini menaikan kakinya di atas anak tangga. Berjalan mendekat yang membuat Vallen sedikit menggeser tubuhnya . . untuk memberi ruang pada Satya.


Membuka pintu itu berulang kali yang masih sama. Belum ada hasilnya.

__ADS_1


Itu sukses menarik perhatian kedua insan yang berdiri berhadapan di sana, menoleh kearah pintu dengan raut wajah yang berbeda.


Diam, menelan ludahnya. Menatap Taksa sebentar, sebelum melangkahkan kakinya kearah pintu. Tapi tangannya ditahan oleh Taksa, refleks dibentak begitu saja oleh Delta.


"Jika kau tidak bisa mengatakannya pada mereka, mulutku akan bicara apa yang telah kau lakukan. Walaupun itu belum pasti, tapi aku yakin, kau memang pelakunya. Dan, kau juga melakukan itu pada Saka."


Kembali mencekal lengan Delta yang meringis karena cekalan itu berubah menjadi cengkeraman yang penuh peringatan. Tapi, Delta tidak takut sama sekali dengan pemuda itu.


"Kau ingin mati?" Tajam Taksa penuh penekanan.


"Kau bukan Tuhan ku yang tahu kapan aku mati." Menyentak tangan Taksa yang tak terlepas 'kan.


"Percuma kau mencari perhatian mereka, mereka tidak akan memperlakukanmu layaknya seorang manusia. Ingatlah, orang seperti mereka tidak akan pernah bisa mengubah sikapnya."


"Benarkah?" Sekilas menaikan alisnya. Penuh tenaga mendorong tubuh Taksa yang mundur beberapa langkah dengan melepas cengkeramannya itu.


"Bagaimana dengan mu sendiri? Kenapa kau membunuh Runa? Apa dia punya salah denganmu? Aaa, atau, cintamu bertepuk sebelah tangan kar__" tidak menuntaskan perkataannya, saat rahangnya di cengkeraman oleh Taksa. Hingga kepalanya sedikit mengadah, walau pandangannya melihat pemuda itu yang semakin menguatkan cengkeramannya. Membuat kedua tangan Delta berada ditangan kekar Taksa, untuk menjauhkan tangan itu dari rahangnya.


"Tutup mulut mu, kau tidak tidak tahu apa-apa tentang ku." Kedua mata Taksa semakin melotot.


Saat itu juga pintu berhasil dibuka oleh Satya dengan kaki kanannya, membuat dua insan itu cepat melangkah masuk. Melihat Taksa yang terlihat seperti tengah mencekik Delta.


"Apa yang kau lakukan?" Seru Vallen sembari berjalan cepat menghampiri. Menjauhkan tubuh Delta dari Taksa.


"Pergilah, aku tidak akan menyakiti mu." Pelannya penuh peringatan, sebentar melihat Vallen.


Mendekati Delta, agar gadis itu kembali di tangannya tapi Satya menghalanginya.


"Tidak seharusnya kau melakukan hal itu disini. Karena kau masih murid baru disekolah ini. Jagalah pandangan guru terhadapmu, jika kau tidak ingin ditendang dari sini."


"Minggir!!" Sekilas menaikan alisnya, tidak perduli dengan apa yang keluar dari Satya.

__ADS_1


Menggeser tubuh Satya yang tersenyum hambar, sebelum meraih pundak Taksa. Melayangkan pukulan pada Taksa, yang tidak siap menerimanya . . hingga kini limbung, tersungkur di atas sementara itu. Membuat Vallen memundurkan beberapa langkahnya kebelakang dengan tangan tangannya yang sedikit terangkat ke udara untuk melindungi Delta Delta yang berdiri di belakangnya.


__ADS_2