Psycho

Psycho
30


__ADS_3

Dimana hari yang tidak seperti biasa bagi Vallen, karena gadis itu mau tidak mau menerima apa buang diinginkan kedua orang tuanya. Pergi, pulang sekolah bersama sopir yang telah disiapkan. Rasanya benar-benar aneh bagi Vallen, yang biasanya naik bus atau jalan kaki saat pergi kemanapun. Tapi mulai mulai hari ini, Vallen akan diantar sopir pribadinya . . kemanapun ia pergi.


Keluar dari dalam mobil hitam itu tanpa mengatakan sepatah kata saja, berjalan pergi diantara beberapa murid yang mulai berdatangan ke tempat dimana mereka menuntut ilmu. Mereka terlihat biasa dan tidak ada rasa takut dibenak mereka, walau kejadian kemarin benar mengejutkan mereka . . keadaannya benar-benar seperti biasa, seperti tidak terjadi apapun disekolah mereka.


Entah apa hanya karena sebuah foto yang disebarkan digrup sekolah, hingga mereka melawan begitu saja kejadian kemarin yang menimpa Luci, yang tidak akan bisa mereka temui lagi.


Berjalan terus tanpa memperdulikan banyaknya murid di Koridor yang sibuk dengan handphone ditangan mereka dengan bisikan-bisikan tidak jelas . . samar-samar melintas di telinganya, karena sebuah earphones putih tersimpan di telinganya dengan alunan musik yang memenuhinya.


Masuk kedalam kelasnya yang sebentar menarik semua mata di sana. Duduk di bangkunya berada, yang masih tidak tahu apa yang tengah terjadi . . memilih mengeluarkan suara beberapa buku dalam tasnya dengan bolpoin dan pensilnya.


Mulai mengerjakan beberapa contoh soal yang sempat Vallen minta dari guru pembimbing. Itu membuat sepasang kaki milik Taksa berhenti seketika diambang pintu, melihat kearah Vallen dengan pandangan biasa, sebelum berjalan dimana tempat duduknya berada.


Sebelum beralih pada sosok Manda yang baru saja tiba di kelas. Mengedarkan pandangannya sebentar, kini berjalan cepat menghampiri Vallen. Duduk didepan gadis itu yang memainkan perduli dengan Manda.


"Kau harus tahu, jika gadis itu benar-benar murahan. Bisa-bisanya dia bercinta didepan mata temannya sendiri." Ocehan Manda yang tidak akan didengar oleh Vallen-- hanya karena earphones masih saja singgah di telinga Vallen, terus saja mengerjakan soal-soal didepan matanya.


Mengalihkan pandangannya menatap Vallen, "jangan pernah kau berteman dengannya lagi, jika kau tidak ingin terkena getahnya."


Kembali melihat kearah lain dengan mulut yang tak hentinya diam, mengeluarkan semua perkataannya untuk menjelek-jelekkan Delta pada Vallen-- itu membuat Taksa tersenyum kecil dengan kepala yang menggeleng pelan, sembari membuka buku pelajarannya . . akan tingkah Manda yang diabaikan begitu saja oleh Vallen.


Dan makin kesini, Manda mulai merasa jika Vallen mengabaikan semua apa yang ia katakan. Dengan kesal kembali menoleh kearah Vallen yang masih pada pendiriannya, mencari jawaban soal-soal itu.


"Kau benar-benar membuatku muak Vallen." Gumam Manda. Begitu santai tanpa ijin dengan rasa kesal di hatinya, tangan kanannya mengambil begitu saja earphones di telinga kiri Vallen-- terdiam, tidak langsung membalas tatapan Manda.


Tersenyum kecut, melihat earphones di tangannya, "apa dirimu itu begitu penting? Hingga kau tidak perduli dengan sekitar mu."

__ADS_1


Merebut earphones-nya begitu saja dengan sorot mata biasa. "Bagaimana dengan mu sendiri?" Itulah Vallen, suaranya begitu khas dengan nada bicaranya yang setia rendah tapi penuh tekanan.


"Kau mengabaikan ku?" Sungut Manda sekilas memajukan dagunya, menatap Vallen.


"Bukankah itu hal biasa, jika aku mengabaikan mu? Karena kita bukan teman. Kita hanya mengenal sebatas nama, jadi jangan melampui batas."


"Apa?" Gumam Manda yang tidak percaya dengan perkataan yang baru saja Vallen lontarkan.


Melihat Vallen yang kembali menyumpal telinganya, mengerjakan soal-soal didepan matanya tanpa memperdulikan Manda yang benar-benar kesal dengan sikap Vallen.


"Ku harap kau tidak pernah menyesali apa yang kau katakan tadi." Final Manda yang kini beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Vallen sendiri.


Diam, menghentikan tangan kanannya, karena begitu jelas dengan apa yang dikatakan Manda. Membuat kedua matanya melihat sekitarnya yang masih saja sibuk dengan handphone ditangan masing-masing . . dengan obrolan yang tidak begitu kelas pendengaran Vallen.


Meletakkan bolpoin di tangannya yang kini merogoh saku jas sekolahnya, mendapati benda pipih warna putih yang kini menyala. Mematikan lebih dulu musik di handphonenya, tanpa melepas earphones di telinganya.


"Delta?" Ucapnya dalam hati, dengan tangan yang memperbesar foto itu untuk memperjelas lebih jelas lagi . . siapa yang telah berani melecehkan gadis itu. Sebelum perlahan menoleh kearah dimana tempat duduk Taksa berada.


Mengingat kembali perkataan pemuda itu semalam. Apa itu benar? Untuk apa Delta menemui pria itu? Kenapa dia tidak mengatakan lebih dulu padanya?


Seketika teringat perkataannya sendiri.. 'kita hanya mengenal sebatas teman, tidak lebih' prakata itu yang sering sekali Vallen katakan pada orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai temannya.


Menyimpan kembali handphonenya dengan melepas earphones di telinganya . . kembali fokus pada soal didepan matanya, sebelum seorang Delta menarik semua mata didalam kelas, termasuk Vallen. Gadis itu diam, melihat Delta.


Berjalan mendekati Taksa dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca.

__ADS_1


"Kenapa kau melakukannya? Kau ingin membalas dendam padaku?" Cetus Delta telah berdiri dihadapan Taksa.


Tidak mengerti dengan apa yang terlontar dari mulut Delta barusan. "Apa yang kau katakan?"


"Seharusnya aku tidak menilai dirimu lebih dulu, karena orang seperti benar-benar munafik." Nada bicaranya semakin rendah, agar tidak siapapun dapat mendengarnya. "Kenapa kau menolong ku? Jika kau menyebarkannya begitu saja."


Tidak menanggapi apa yang dikatakan Delta. Kini Taksa melihat sekelilingnya yang sudah fokus pada dirinya ataupun Delta. Beralih pada gadis didepan matanya yang tengah berusaha suntuk tidak mengeluarkan air matanya.


Vallen yang melihat itu semua merasa ada hal kecil yang mendorongnya untuk membubarkan pertunjukan itu, apalagi kelas kini mulai dipenuhi murid-murid dari kelas lainnya.


Beranjak dari duduknya, berjalan mendekat. Beri diri di samping Delta yang masih menatap Taksa, beralih pada Vallen dengan sorot mata yang memohon pertolongan.


"Foto itu dikirim di grup sekolah tanpa adanya guru sebagai anggota. Dan nomor Taksa juga tidak ada di sana, karena aku memiliki nomor handphonenya." Lontar Vallen pada Delta.


Perlahan membalas tatapan dari Vallen. "Jika bukan dia yang melakukannya? Siapa lagi? Karena hanya dia yang ada di sana."


"Kau butuh bantuan ku?" Tawar Vallen yang tidak dimengerti.


"Bantulah, agar tidak terjadi kesalahan pahaman." Bukan Delta, melainkan Taksa.


Itu membuat Vallen mengangguk pelan, sebelum mengarahkan kakinya mendekati seorang siswi yang beri diri diantara banyaknya murid didalam kelasnya.


"Hapus lah, jika aku masih bicara baik-baik denganmu." Pinta Vallen pada seorang siswi yang berkurang kuda itu, membuat semua mata tertuju pada mereka.


"Apa yang harus aku hapus?" Benar-benar cari penyakit, siswi itu Allah bertanya untuk melindungi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Seharusnya kau mengambil fotonya dengan jelas, agar semua orang tahu, siapa pria itu."


Diam, tidak langsung menanggapi apa yang dikatakan Vallen.


__ADS_2