Psycho

Psycho
sembilan


__ADS_3

Menekan beberapa digit angka yang tertera di pintu depan matanya saat ini, terbuka. Membuat sang gadis masuk begitu saja kedalam dengan pintu yang kembali tertutup dengan sendirinya. Menghentikan langkahnya sebentar, mengarahkan pandangannya pada dua insan yang hanya diam sekilas melihat kehadirannya.


Berjalan menuruni beberapa anak tangga itu. Mendekati mereka, dan duduk di samping Manda dengan tas punggung yang disimpan dibawah, samping kursi yang saat ini Vallen duduki.


Melihat kembali kedua temannya itu secara bergantian, sebelum mencetuskan perkataannya. "Bukankah kita sepakat untuk tidak bertemu lebih dulu? Saat berada diluar sekolah."


"Tidak ada untungnya melakukan hal seperti itu." Sahut Manda.


"Memangnya ada perlu apa kau menyuruh kamu datang kemari?" Bukan Vallen melainkan Satya. Pemuda itu tidak ingin mendengar adu mulut kedua gadis didepan matanya. Apalagi dengan Manda, gadis itu tidak akan berhenti jika perkataannya slalu saja disangkal ataupun dibalas.


"Aku tadi sempat mampir ke rumah sakit untuk menemui ibu Saka. Tapi Delta juga ada di sana, aku bertemu dengannya."


"Terus?" Sela Satya.


"Darimana dia tahu jika Saka dirawat di sana?" Sambung Manda, sekilas menaikan alisnya.


Tidak ada jawaban dari Satya maupun Vallen, yang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Membuat Manda mendesah berat, karena melihat sikap kedua temannya itu.


"Kenapa kalian tidak merespon ku?"


"Mungkin saja dia mengikuti mu." Asal Satya yang terus saja berusaha untuk tidak memancing emosi pada diri Manda.


"Mengikuti ku?" Ulang Manda yang sedikit tidak yakin.


"Bagaimana bisa dia mengikuti Manda, sedangkan gadis itu kau antarkan pulang." Lontar Vallen yang mendapat anggukkan pelan dari Manda.


"Kau yang memberitahunya?" Curiga Manda pada Satya.


"Untuk apa aku memberitahunya, tidak ada untungnya juga untukku." Cepat Satya yang tidak ingin mendapat tuduhan tidak-tidak dari Manda.


"Ngomong-ngomong," sedikit memajukan tubuhnya dengan pandangan melihat Satya.. mulai merasa tidak enak sendiri. "Tidak ada angin, tidak ada hujan. Kenapa kau mengantarkan Delta pulang? Tidak mungkin jika kau mulai tertarik dengannya, bukan?"


Senyum aneh terlukis dibibir Manda yang kembali menyandarkan punggungnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Satya.


Menelan ludahnya, perlahan melihat kearah Vallen yang diam, melihat meja didepannya itu dengan pandangan biasa.. hingga Satya tidak bisa mengartikan sorot mata itu.

__ADS_1


"Aku hanya kasian padanya,"


"Kasian?"


Belum juga Satya menuntaskan perkataannya, Manda dengan santai menyelanya begitu saja. Itu membuat Satya membuang napas lelahnya.


"Untuk apa kau kasihan padanya? Kau takut jika dibunuh olehnya?"


"Takut?" Sekilas menaikan alisnya.


"Kau mendekatinya, agar dia tidak melakukan hal sama terhadap mu." Diam sejenak, sebelum bergumam. "Dasar penjilat."


"Aku mendengar apa yang kau katakan. Berhentilah mengumpat, jika kau tidak tahu apa tujuanku."


"Jika kau tidak ingin mendengar umpatan ku, katakan apa tujuanmu." Tak kalah tajamnya Manda mengatakannya.


"Jika aku mengatakannya, kau akan membeberkannya."


"Kenapa kau mengatakan hal itu padaku?"


Membiarkan kedua temannya yang masih beradu mulut. Membaca dalam hati satu pesan singkat dari orang diseberang sana, yang tidak dibalas oleh Vallen satu kata saja. Karena, pesan itu dari ibunya.


Menyambar tas punggungnya dengan berdiri dari duduknya. Tanpa mengatakan sepatah kalaupun, Vallen melenggang pergi dari tempat itu. Mengabaikan seruan dari Manda yang terdengar kesal di telinganya. Tapi itu tidak di perdulikan oleh Vallen. Karena ia tidak ingin mendengar ibunya marah hanya dirinya datang tidak tepat waktu.


.


.


.


Diam sejenak saat keluar dari dalam taksi yang kini melaju pergi. Sebelum berjalan masuk melewati pagar rumah yang menjulang tinggi. Berjalan terus melewati halaman luas rumah keluarganya itu. Hingga kakinya terhenti di teras rumah yang langsung mendapat sapaan dari dua bodyguard yang berjaga di sana.


Membuang napas pelannya sembari membenarkan sebentar tas punggungnya yang tersampir dipundak kanannya.


Melangkah masuk yang langsung melihat beberapa pelayan berjalan mendekatinya dengan kepala yang menunduk sopan. Salah satu dari mereka mengambil pelan tas sekolahnya, itu membuat rasa maas Vallen singgah didalam tubuhnya saat menginjakkan kakinya di rumah itu.

__ADS_1


"Tuan dan nyonya ada di ruang makan nona." Kata salah satu pelayan yang berdiri di sana.


Tidak ada jawaban sedikitpun dari Vallen yang hanya diam mengabaikannya. Berjalan kearah dimana ruang makan itu berada, yang diikuti oleh dua pelayan di belakangnya.


Hingga tibanya Vallen di sana, langkah gadis itu mulai menelan saat kedua matanya melihat sosok familiar yang duduk diantara kedua orang tuanya.


"Kau sudah datang?" Sumringah seorang ibu terhadap kepulangan putrinya.


Itu membuat semua mata di sana menoleh kearah Vallen berdiri.. masih diam melihat sosok itu yang tersenyum simpul pada Vallen. Tersentak pelan saat sang ibu telah berdiri disampingnya, membuat Vallen tersenyum kecil.


"Apa kau dari tempat belajar mu? Hingga kau tidak mengganti seragam sekolah mu lebih dulu." Lontar sang ibu, dengan pelan menarik Vallen untuk duduk di sana. Gabung dengan ayah dan sosok familiar itu.


"Seharusnya kau memberikan waktu untuk putri mu untuk tidak belajar terus. Karena nilai itu tidak selamanya mempengaruhi kesuksesannya." Ucap sang ayah.


"Sukses atau tidak, belajar itu wajib. Karena seorang perempuan akan mengajarkannya kembali pada anak-anak-nya kelak nanti, bukan?" Terkekeh pelan, sebelum mengambilkan makanan untuk putri satu-satunya itu.


Masih diam, mendengar apa yang keluar dari mulut kedua orang tuanya. Walau pandangannya mengarah pada sosok familiar didepan matanya saat ini.


"Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat tidak enak badan. Wajahmu begitu pucat." Cetus sosok familiar itu dengan senyum khasnya.


"Untuk apa kau datang kemari?" Begitu dingin Vallen menanggapinya.


Membuat sang ibu menghela napas pelan. "Dia akan pindah sekolah disini."


"Ku harap kau mencari sekolah dimana tidak ada diriku." Ungkap Vallen yang tidak mengalihkan pandangannya.


Berlatih melihat kedua orang tuanya dengan senyum manis, tapi begitu Vallen paksakan. "Sepertinya aku harus kembali, karena masih ada tugas yang belum aku selesaikan."


Tanpa menunggu tanggapan dari mereka, Vallen beranjak dari duduknya. Berjalan pergi dari tempat itu, membuat kedua orangnya membuang napas sabar.


Mengambil alih tasnya begitu saja yang membuat pelayan itu mengurungkan niatnya untuk tidak membuka mulutnya.


"Paman dengan bibi tidak perlu khawatir. Akan ku pastikan dia sampai di apartement-nya dengan selamat." Tempat sosok itu dengan senyum ramahnya.


"Saya permisi dulu, paman, bibi." Pamitnya yang mendapat anggukan pelan dari mereka.

__ADS_1


Berjalan sendiri di atas trotoar pejalan kaki dengan telinga yang sudah tersimpan dengan earphones-nya. Tidak perduli dengan sosok familiar yang berjalan mengikutinya. Walaupun Vallen tidak sedikit pun menoleh kebelakang, tapi dirinya tahu, jika sosok familiar itu mengikutinya sejak kakinya keluar dari halaman rumah milik keluarganya.


__ADS_2