Psycho

Psycho
31


__ADS_3

Keributan yang tidak disengaja dibuat itu mulai menarik perhatian semua murid dibangunan itu. Menyempatkan diri untuk melihat apa yang tengah terjadi, apalagi Vallen terlibat dalam masalah itu.


Sedangkan Satya yang baru saja tiba disekolah hanya bisa diam mengerutkan samar keningnya dengan pandangan tanya, karena merasa heran dengan teman-temannya berlarian kearah yang sama.. dan, itu dimana letak kelasnya berada.


"Permisi?" Suara berat dari Satya membuat mereka memberi jalan untuk Satya.


Lebih masuk lagi kedalam kelas, yang melihat kedua gadis familiar dimatanya. Dimana Vallen yang tengah berdiri berhadapan dengan Renjana-- itu pemandangan yang begitu langka. Karena setahu Satya, Vallen tidak begitu dekat dengan teman-teman sekelasnya . . kecuali Manda.


"Kau hanya mengorbankan satu orang saja disini. Apa hanya karena dia seorang guru yang kau kagumi? Hingga kau tidak mengekspos wajahnya juga." Kembali melontarkan perkataannya dengan nada rendah, tapi penuh penekanan setiap katanya.


"Itu tidak ada hubungannya sama sekali denganku." Sangkal Renjana yang membuat Vallen tersenyum kecil.


Begitu lucu, jika orang bersalah tidak ingin dituduh jika perbuatannya itu memang salah.


"Seharusnya kau__"


"Ada apa dengan mu? Kenapa kau berada di pihaknya?" Sungut Renjana yang menyela perkataan dari Vallen. "Bukankah, kau juga pernah mengambil video gadis itu tengah telanjang dengan seorang pria?"


Perkataan Renjana membuat Delta menatap Vallen sebentar, sebelum berjalan mendekat dengan raut wajah yang tidak percaya.


"Jadi kau buang menyebarkan video itu?" Menghadapkan begitu paksa tubuh Vallen agar menghadap pada dirinya. "Katakan, jika itu tidak benar."


"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mempercayai apa yang aku katakan." Sahut Vallen, menyentak tangan Delta dari lengannya.. sebelum kembali duduk dimana bangkunya berada.


Menyumpal kedua telinganya dan fokus pada soal didepan matanya. Itu membuat dua pemuda yang melihat kejadian itu hanya diam, mengarahkan pandangan mereka menatap Vallen dengan pandangan berbeda.

__ADS_1


"Seharusnya sejak awal kau sadar diri, tidak ada satupun penghuni disini yang benar-benar tulus padamu. Mereka baik padamu karena mereka memiliki tujuan yang tidak kau ketahui. Jika mereka sudah mendapatkannya, kau akan dibuang begitu saja. Ditempat yang sama, sampah." Lontar Rendah, tersenyum miring sebelum berjalan keluar dari kelas itu yang diikuti kedua temannya yang lain.


Sedangkan Manda yang sendiri tadi hanya diam, kini melangkah pergi. Tidak perduli dengan Delta yang kembali menjadi bahan pembicaraan. Itu benar-benar membuat sang gadis frustasi. Lebih memilih mati dibunuh, daripada mati perlahan akan kebencian semua orang terhadap dirinya.


"Apa yang akan aku lakukan?" Melihat sekelilingnya yang entah kenapa semua orang yang menatapnya terlihat seperti monster yang menakutkan, wajah mereka terlihat menyeramkan. Membuat kepalanya menjadi pening, dengan pandangan mata yang mulai kabur.


Tapi saat itu juga, Delta memilih berjalan pergi dengan langkah cepat. Membuat Taksa berdiri dari duduknya, membuat kaki Satya terhenti di samping pemuda itu . . yang berlari keluar kelas menyusul Delta. Menimbulkan tanda tanya besar di kepala Satya, hanya diam melihat itu semua. Sebelum beralih pada Vallen yang menghentikan tangannya sejenak, dan kembali fokus pada soal-soal didepan matanya itu.


.


.


.


Berusaha untuk meraih tangan Delta buang berlari cepat kearah gerbang sekolah, dan saat berada dihalaman luas sekolah itu, samping air mancur . . tangan kekar Taksa dapat menahan kepergian gadis itu, yang spontan menyentak Taksa-- semakin kuat mencekalnya. Tidak membiarkan Delta begitu saja.


"Kau ingin pergi begitu saja? Apa kau ingin mati ditangan kepala sekolah?" Tak kalah serunya Taksa mengatakannya.


"Emm.. aku ingin mati." Berusaha sekuat tenaga melepaskan tangannya dari cengkraman Taksa, yang kini terlepas . . membuat tubuhnya sedikit limbung kebelakang yang refleks membuat Taksa menahannya.


Menjauhkan tangan kelarnya dari pinggang Delta yang memundurkan beberapa langkahnya kebelakang.


"Jika kau tidak melawan mereka, kau akan dipandang rendah terus-menerus oleh mereka. Jadi lawanlah." Pinta Taksa dengan tulus, dan entah kenapa dirinya menjadi seperti ini. Taksa tidak begitu mudah menerima orang baru, apalagi itu seorang perempuan. Tapi__


"Untuk apa lagi aku melawan mereka?" Sekilas memajukan dagunya, menatap Taksa. "Sampai kapanpun, posisiku akan rendah dimata mereka. Jadi untuk apa aku mati-matian membuktikan pada mereka jika itu semua hanyalah rekayasa."

__ADS_1


"Tapi setidak__"


"Setidaknya apa?" Melangkah ke depan dengan kedua mata berkaca-kaca. "Setidaknya aku pernah mencobanya?"


Tersenyum kecut dengan melihat ke sembarang arah, sebelum kembali menatap Taksa dengan sorot mata yang begitu pedih. "Aku pernah melawan mereka, aku pernah menyangkal jika semua itu tidak benar. Tapi nyatanya, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri ataupun mereka. Itu semua benar, aku perempuan murahan. Aku pernah menjual diriku untuk mendapat uang. Jadi apalagi yang harus aku sangkal?"


Menelan ludahnya, tidak tahu lagi harus menanggapi seperti apa. Dadanya merasa nyeri begitu saja mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut Delta . . apalagi nada bicaranya begitu renda. Taksa menjadi merasa bersalah sendiri.


"Boneka akan kembali pada tempatnya, dia akan diambil kembali jika tuannya membutuhkan . . jika tuan sudah mendapat apa yang dia mau, boneka akan dibuang begitu saja hingga menjadi sampah tidak ada satupun orang yang ingin memungutnya." Tambah Delta yang melihat semen di atas kakinya dengan senyum nanar di bibirnya.


"Kau bukan boneka, dan tidak semua orang seperti itu. Jika benar Vallen yang menyebarkan video yang__" menggantungkan perkataannya, karena Taksa juga tidak tahu video apa yang mereka maksud.


"Kurasa bukan Vallen." Sambungnya yang ingin menyakinkan Delta. Karena Taksa tahu betul, siapa Vallen itu.


"Kuharap begitu. Tapi aku tidak akan mempercayai siapapun, hingga aku tahu kebenarannya seperti apa." Tanggap Delta dengan emosi yang mulai mereda.


"Jika kau ingin tahu kebenarannya, kenapa kau tidka mencari tahunya?"


"Mungkin itu mudah jika dikatakan, tapi bagiku itu begitu sulit. Karena aku tidak tahun harus mulai darimana."


Membasahi sekilas bibirnya dengan kepala yang mengangguk pelan. "Kau sudah tahu siapa yang menyebarkan foto mu itu, dan gadis itu belulang jika Vallen yang mendapatkan video mu, tapi dia tidak mengatakan jika Vallen yang menyebarkannya. Apa kau butuh bantuan?"


Saling pandang dengan sorot mata yang berbeda, bibir mengatasi rapat. Hingga bel pelajaran pertama di bunyikan. Membuyarkan lamunan mereka yang berperang dengan pikiran masing-masing.


"Kau tidak bisa pergi begitu saja. Jika kau tidka bisa melawan mereka dengan fisik, lawanlah mereka dengan prestasi. Karena tidak selamanya kau berada dibawah. Ada saatnya kau di atas, dan merasakan, kehadiran mu itu dihargai. . dan banyak orang yang tidak ingin kehilangan mu." Diam sejenak, menelan ludahnya. Sebelum kembali membuka suaranya untuk memberi sedikit motivasi untuk Delta.

__ADS_1


"Bertahanlah sebentar lagi, semuanya akan berakhir bahagia. Bukankah kebanyakan cerita yang dibuat penulis seperti itu? Happy ending." Sambungnya dengan senyum khas di bibirnya.


__ADS_2