Psycho

Psycho
tujuh


__ADS_3

Sungguh pemandangan yang membuat semua mata menganga tidak percaya. Bagaimana bisa seorang Delta duduk di atas motor Satya? Keluar dari halaman luas sekolahnya itu, melewati banyaknya murid yang mengarahkan pandangannya pada dua insan itu.


Membuat langkah Vallen terhenti di samping patung air mancur yang berada ditengah-tengah halamannya luas utama sekolahnya itu. Melihat kepergian Satya yang membonceng 'kan Manda.


"Seharusnya Satya mengantarkan mu pulang, bukan Delta yang berada diposisi itu." Suara familiar menyapa begitu saja di indra pendengarannya. Membuat Vallen kembali melangkahkan kakinya keluar melewati gerbang sekolah yang menjulang tinggi itu. Tidak perduli dengan Manda yang menjajarkan langkahnya.


"Asal kau tahu, Satya tidak pernah memiliki rasa terhadap Runa. Melainkan dirimu."


Diam, tidak menanggapi itu pilihan yang tepat bagi Vallen.


"Jika kau menyukainya, kenapa kau tidak mengatakannya? Apa kau ingin melihat Satya hidup bersama Delta?" Sekilas melihat Vallen yang masih saja diam, tidak membuka mulutnya sedikitpun.


"Aku tidak perduli apa yang ada dipikiran mu saat ini. Tapi dengar apa yang aku katakan, ungkapkan apa yang ada di hatimu sebelum kau menyesalinya.. karena Delta sanggup merebut Satya darimu."


Menghentikan langkahnya, melihat punggung Manda yang terus saja berjalan tanpa memperdulikan Vallen.


"Aku memang menyukainya, tapi sebagai perempuan jika mengatakannya dengan terus terang.. itu akan menjatuhkan harga dirinya." Pelannya, tidak berharap jika Manda mendengarnya.


Kembali melangkahkan kakinya yang mengarah dimana tempat tinggalnya saat ini.


.


.


.


Menghentikan motornya didepan gang perumahan yang ditinggali Delta.. kini turun dari motor Satya yang melepas helm full face-nya itu.


"Dimana rumahmu?"


"Terimakasih kau sudah mengantarkan ku. Lain kali jangan pernah kau melakukannya lagi, Vallen akan lebih membenciku jika dia mengetahuinya."


"Vallen?" Keningnya mengerut menatap Delta untuk meminta penjelasan.


"Emm," mengangguk pelan. "Vallen. Bukankah kau menyukainya?"

__ADS_1


"Hei,"


"Kau tidak bisa membohongi ku. Karena kau sering sekali mengawasinya. Jadi jangan pernah kau melakukannya lagi, itu membuatku heran.. karena tidak ada angin, tidak ada hujan, kau mendekati ku begitu saja. Kau pasti memiliki tujuan untuk itu semua."


"Bukankah kita teman? Aku hanya ingin menebus kesalahanku waktu SMP. Apa itu salah?"


"Apa yang membuat mu ingin menebusnya?" Cepat


Delta yang tidak mendapat jawaban.


"Apa karena kau takut?"


"Takut?"


"Runa, Saka, mereka mengalami hal yang sama. Tenanglah, bukan aku yang melakukan itu pada mereka." Tersenyum kecil untuk memastikan.


"Kau pulanglah, terimakasih sudah mengantarkan ku pulang." Tanpa menunggu tanggapan dari Satya. Delta memutar tumitnya berjalan pergi dari hadapan Satya dengan melunturkan senyum di bibirnya, merubah raut wajahnya begitu arti.. tanpa diketahui oleh Satya.


Sebentar melihat kepergian Delta, sebelum melekatkan kembali helm di kepalanya. Mulai melakukan motornya pergi dari tempat itu dengan kecepatan tinggi, untuk menemui temannya yang terbaring tak berdaya di rumah sakit.


Diam berdiri didepan tempat yang sudah disediakan, pandangan lurus ke depan melihat keluar minimarket dari balik kaca transparan itu. Sampai keningnya mulai mengerut saat melihat Delta yang berjalan sedikit cepat, sesekali menoleh kebelakang, masih lengkap dengan seragam sekolahnya.


Beralih pada mie cup-nya didepan meja hadapannya dengan perasaan yang tidak karuan, kembali melihat kepergian Delta. "Sial."


Ingin mengikuti Delta, karena rasa penasaran. Tapi perutnya saat ini begitu perih karena belum terisi sejak tadi. Tidak mungkin Satya mengorbankan dirinya hanya demi rasa penasarannya. Biarlah apa yang dilakukan Delta, jika waktu mengijinkannya untuk tahu semuanya.. itu pasti akan tersampaikan. Walau bukan hari ini.


Memilih diam, menarik kursi dan duduk. Menikmati mie cup-nya itu dengan sesekali melihat keluar jendela depan matanya saat ini.. mendapati banyaknya manusia asing yang lalang di atas trotoar pejalan kaki. Hingga sebuah taksi terhenti didepan minimarket, menampilkan sosok gadis familiar yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya.


Terus saja mengarahkan pandangannya melihat gadis itu yang berjalan masuk kedalam minimarket.. yang sempat menghentikan langkahnya, hanya karena kedua mata gadis itu sempat bertemu dengan milik Satya. Tersenyum simpul akan hal itu.


Menoleh dimana sangat gadis berada yang kini berada didepan kasir, sebelum berjalan kearah pintu utama. Tapi langkah gadis itu terhenti, dan tidak luput dari penglihatan dari Satya.


Mengembangkan senyumannya, saat gadis itu mengurungkan niatnya pergi dari minimarket. Dan memilih berjalan mendekatinya dengan tampang yang masih sama. Dingin, tidak ada senyum sedikitpun yang terlukis dibibir gadis itu.


"Kau berkencan dengannya?" Terus terang itu lebih baik daripada harus bersikap basa-basi yang akan berakhir sama.

__ADS_1


Membuat kening Satya mengerut sama, sebelum menyunggingkan kembali senyumannya.. karena tahu apa yang dimaksud Vallen.


"Apa aku harus melakukannya?" Niatnya ingin menggoda. Tapi Satya salah memilih lawan main.


Diam, menatap Satya sebentar. Sebelum memutar tumitnya berjalan pergi dari hadapan Satya.. yang gemas sendiri melihat sikap Vallen.


Beranjak dari duduknya, berjalan mengikuti kemana perginya Vallen tanpa membawa makanannya itu.


Berusaha untuk menahan Vallen, agar tidak pergi begitu saja.


"Kenapa kau pergi? Kau belum menjawab apa yang aku katakan tadi."


Menyentak pelan tangan Satya di lengannya. "Apa yang harus aku jawab?"


Menelan ludahnya sebelum melanjutkan perkataannya. "Jika kau ingin melakukannya, lakukanlah. Kenapa kau harus bertanya padaku lebih dulu? Apa aku memiliki hak untuk melarang mu? Untuk mengatakan, 'iya?'"


Menggeleng pelan sebagai tanggapannya. Itu membuat Vallen diam, memilih pergi dari hadapan Satya. Tapi pemuda itu lagi, dan lagi menahan niatnya.


"Apa ada yang ingin kau katakan lagi?"


"Emm," diam sejenak, menelan ludahnya. "Apa yang kau lakukan disini?"


Tidak langsung menjawab, "tempat bimbingan belajar ku ada di daerah sini. Apa perlu aku mengatakannya lagi?"


"Tidak!!" Ucapnya dengan gelengan pelan di kepalanya.


Membuat Vallen mengangguk pelan. Sebelum benar-benar pergi dari hadapan Satya yang tidak lagi menahan gadis itu.


Membuang napas lelahnya, saat punggung Vallen tidak lagi bisa Satya lihat. Melihat sekelilingnya yang tidak begitu ramai. Melangkahkan kakinya mendekati dimana motornya terparkir. Kembali melajukan motor itu ketempat tujuan dengan kecepatan tinggi. Karena jaraknya begitu memakan waktu, jika Satya melakukannya dengan pelan.


Spontan menghentikan langkahnya saat mendengar suara motor familiar di telinganya. Menoleh kebelakang dimana motor milik Satya slalu pergi. Membuat Vallen membalikkan tubuhnya, berjalan kearah dimana rumah Delta. Karena rumah itu sangat mencurigakan bagi Vallen.


Semoga Delta mengijinkannya masuk kedalam rumah gadis itu, tanpa harus dirinya paksa.


Tibanya didepan rumah sederhana milik Delta, Vallen memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu.. walau tidak ada jawaban sama sekali dari sang tuan rumah. Tapi tidak membuat Vallen berhenti. Terus mengetuk pintu itu, yang berakhir nihil.

__ADS_1


Menoleh sekelilingnya yang tidak mendapati siapapun. Padahal banyak sekali rumah yang berdampingan, maupun berhadapan.. hanya dihalangi jalan kecil untuk berjalan. Tapi tidak ada satupun orang yang melakukan aktivasi diluar rumah.


__ADS_2