Psycho

Psycho
22


__ADS_3

Menepis pikiran negatif untuk seseorang yang entah kenapa menimbulkan rasa curiga didalam benaknya. Sebentar melihat kearah spion, dimana dua muridnya yang masih berada di halte bus itu. Mengingat dimana dirinya kembali lagi diruang musik yang menjadi tempatnya . . ruangan itu terbuka lebar, membuatnya spontan menahan napas, walau hanya sebentar.


Berjalan cepat kearah ruangan itu tanpa mengatakan apapun. Masuk kedalam ruangan dengan pandangan mengedar, mencari suatu hal yang masih abu-abu. Sebelum kedua matanya terhenti pada ruangan lain dalam ruang musik . . pintu ruangan itu juga terbuka lebar, seingatnya sebelum dirinya keluar, semua pintu sudah ia tutup, walaupun ia tidak menguncinya.


Tanpa berpikir apapun lagi, kakinya mendekat. Melangkah masuk melihat setiap sudut ruangan itu, nihil tidak menemukan apapun.


Huft..


"Tidak mungkin jika mereka melihatnya." Gumam sang pria, sembari menguap keningnya sebentar.


Mengalihkan pandangannya, melihat spion kecil dalam mobilnya . . mendapati tas sedang yang berasal di bangku belakang. Sebelum meluruskan pandangannya dengan bergumam ragu. "Apa yang keluar dari mulut Vallen itu tidak mungkin jika hanya omong kosong. Tapi, bagaimana dengan Delta? Apa Vallen terpengaruh dengan Delta?"


Menambah laju kecepatan pada mobilnya melintasi jalan raya yang sepi, tidak ada satupun kendaraan di sana kecuali miliknya . . dengan hati dan isi kepalanya tengah berperang.


Tidak mungkin jika Delta mengenalinya sebagai sosok yang pernah datang ke rumah gadis itu. Jika gadis itu mengenalinya, jangan sampai Vallen terpengaruh.


Dilain sisi Vallen yang kini beranjak dari duduknya, berniat berjalan kembali kearah sekolahnya berada. Tapi pergelangan tangannya dicekal begitu saja oleh Delta, membuat Vallen melihat gadis itu dengan pandangan biasa, walau terselip tanya di sana.


"Kau ingin kembali ke sana?"


Vallen bergumam sebagai respon.


"Apa kau sudah gila? Bagaimana murid terpandai disekolah tidak menggunakan otaknya untuk berpikir? Disaat situasinya seperti ini. Bagaimana jika dia kembali? Karena rasa curiga di benaknya."


"Dia tidak akan kembali, karena setiap yang keluar dari mulutmu akan terdengar mustahil sekali jika itu hanya omong kosong." Tanggap Vallen dengan nada rendah.


"Apapun itu, yang jelas kita harus pulang lebih dulu. Atau kita ke kantor polisi untuk melaporkannya." Cerca Delta yang ingin cari aman, hanya malam ini saja.


"Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tidak ada bukti yang kita punya untuk melaporkannya. Kita bisa dituntut balik karena mencemarkan nama baiknya. Karena seorang guru itu panutan untuk murid-murid." Diam sejenak, melepas cekalan di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Mereka akan lebih mempercayainya daripada seorang murid seperti kita." Sambungnya yang begitu kalem.


"Bukankah kau punya koneksi? Kenapa kau tidak menggunakannya?"


Vallen tersenyum kecil, ternyata Manda tidak jauh beda dari Manda. Apa karena mereka masih ada satu ikatan darah? Hingga sifat mereka sebelas dua belas.


"Tidak selamanya aku melibatkan mereka (orang tua)" Kembali menyunggingkan senyumannya. "Itu akan menambah masalah bagi kita."


Memilih berjalan kearah dimana rumahnya berada. Mungkin ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan Delta, sebaiknya ia pulang lebih dulu. Dan esok hari pasti akan dihebohkan dengan kejadian malam ini.


Itu membuat Delta menghela napas lega. Sebentar menoleh kebelakang, melihat kearah dimana sekolahnya berada. Sebelum melangkah pergi menyusul Vallen.


Seharusnya Delta tadi bertanya, 'apa yang guru lakukan disekitar sekolah selarut ini?' tapi sayangnya Delta sudah tahu lebih dulu jawaban yang akan dilontarkan guru musiknya. Membuat Delta mengurungkan pertanyaannya itu.


.


.


.


Walau ingin cepat sampai di sekolah karena ingin tahu, apa yang sudah terjadi di dalam sana . . Vallen tetap melangkahkan kakinya dengan pelan, mendengarkan alunan musik dari earphones-nya yang terhubung dengan benda pipih yang berada di tangannya saat ini.


Melewati banyaknya murid sekolahnya yang lalang di atas jalan yang sama, dan arah yang sama.


Tidak menyadari jika sendari tadi sepasang mata milik Satya melihat punggung Vallen dengan senyumannya. Berbeda dengan Manda yang muak akan raut wajah Satya.


Menyenggol lengan pemuda itu, "sesulit itu kau mengatakan jika aku menyukainya."


"Apa?" Sekilas menaikan alisnya. "Ya... kau kira aku menyukai Vallen."

__ADS_1


Manda bergumam.


"Jika benar aku menyukainya, dan sampai dia jadi kekasihku . . pasti akan ada murid yang bunuh diri di sekolah." Tersenyum dengan kepala yang menggeleng pelan. Berjalan cepat meninggalkan Manda sendiri yang berdecih kesal.


"Setidaknya katakanlah sekali saja, jika kau tidak ingin menyesalinya." Pelan Manda yang kini menyusul Vallen.


Menggandeng begitu saja tangan Vallen yang mengalihkan pandangannya melihat Manda. Menyimpan handphonenya dan melepas earphones di telinganya. Berjalan beriringan dengan Manda dan Satya.


Hingga kaki mereka terhenti dihalaman sekolah saat beberapa guru dengan para polisi berjalan kearah belakang sekolah. Menimbulkan tanda tanya besar dikepala semua murid yang lalang dihalaman itu. Tapi lain halnya dengan dua gadis yang hanya diam melihatnya . . sebelum saling pandang, walau sebentar. Karena mau tidak mau kedua gadis itu mengikuti para murid lainnya yang menyusul para guru.


Karena rasa penasaran benar-benar tidak bisa dikalahkan oleh apapun.


Tidak menerobos kerumunan di hadapannya, karena Vallen sudah tahu apa yang terjadi. Mengabaikan Delta yang berdiri di sampingnya. Spontan memberikan jalan untuk para polisi yang kini membawa tas besar berisi seorang siswi yang sudah tidak sadarkan diri.


Beralih melihat kearah sang guru musik yang diam dengan raut wajah terlihat sedih itu membuat Vallen sedikit menundukkan kepalanya dengan senyum kecut di bibirnya. Dan ternyata itu tidak luput dari penglihatan Taksa.


"Masuklah ke kelas kalian masing-masing, akan ada bimbingan dari wali kelas kalian." Seru sang wakil kepala sekolah, membuat semua murid di sana bubar jalan.


"Dan kalian juga harus ingat, jangan menyebarkan rumor yang tidak-tidak. Apalagi menyangkut nama sekolah." Kembali menyerukan suaranya melihat semua murid yang sudah pergi.


"Bukankah itu sangat mencurigakan? Tiga korban yang mendapat perilaku berbeda." Begitu ambigu Manda mengatakannya.


Menatap sinis Delta yang berjalan didepannya. Dengan tega mendorong tubuh gadis itu-- yang untung saja tidak tersungkur ke depan.


"Bukankah siswi itu juga sering kali memaki mu. Apa benar kau yang melakukannya?" Tersenyum hambar melihat Delta.


Hanya diam, tetap berjalan walau sempat melirik kearah Manda. Hanya sebentar.


"Kenapa telinga mu itu tidak berfungsi sekali? Jangan menyebarkan rumor yang akan menimbulkan masalah lagi." Lontar Vallen dengan nada rendah.

__ADS_1


"Kenapa kau membelanya?" Kesal Manda yang tidak mendapat jawaban sedikitpun dari Vallen.


__ADS_2