Psycho

Psycho
20


__ADS_3

Tujuannya masih berada disekolah hanya ingin menuntaskan rasa penasarannya sejak tadi. Menunggu semua penghuni sekolahnya pulang ke rumah mereka masing-masing, dengan duduk tenang didepan layar yang dimana menunjukkan setiap titik sekolahnya . . yang dipantau oleh CCTV.


Itu membuat seorang pria yang bertugas untuk mengawasi itu semua. . hanya bisa membuang napas gusarnya. Menelungkupkan kepalanya dibalik kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Sebelum menegakkan punggungnya, kembali melihat gadis itu.


"Apa kau tidak punya kerjaan selain melihat layar itu?" Mulai membuka suaranya yang sejak dari tadi pria itu tahan.


Dan tidak mendapat respon sedikitpun dari Vallen yang tetap diam meluruskan pandangan matanya, perlahan mengernyitkan keningnya.


"Seharusnya kau pulang ke rumah, bukannya malah disini. Ibumu pasti akan mencari mu." Sambungnya yang lagi dan lagi tidak direspon oleh Vallen.


"Baik, oke." Pasrah sang pria mengangguk pelan dan menyandarkan tubuhnya sembari melipat kedua tangannya didepan dada dengan kedua mata yang terpejam. Tidak lagi memperdulikan akan kehadiran Vallen ditempat kerjanya.


Melihat satu persatu layar itu dengan kedua bola mata yang luar, karena ada hal yang kurang. "Ruang musik." Gumamnya.


Menoleh kearah sang pria yang masih berada di posisinya. "Apa hanya ruang musik yang tidak ada CCTV-nya?"


Kening pria itu mengerut sama sebelum membuka kedua matanya. Perlahan membalas tatapan Vallen. "Hanya toilet yang tidak ada CCTV-nya. Kenapa?"


Itu membuat Vallen kembali melihat layar itu dengan tanda tanya di kepalanya. "Kenalan tidak ada ruang musik disini?"


Membuat sang pria melihat kearah layar CCTV-nya, melihat satu persatu dengan intens . . dan sang pria juga baru menyadari hal itu.


"Bagaimana tidak ada? Bukankah aku juga ikut memasang CCTV-nya itu?" Monolognya, sebelum beranjak dari duduknya. Berjalan keluar kearah ruang musik untuk mengeceknya, mungkin saja CCTV di ruangan itu rusak.


Sebentar melihat kearah layar itu dengan sorot mata biasa, sebelum menyusul sang pria untuk melihatnya sendiri. Apa guru musik mau membuka ruangan itu? Atau tidak?


Bersandar di dinding samping pintu ruangan itu, menunggu seseorang yang belum pasti akan muncul didepan matanya . . tidak membuat Vallen berharap lebih jauh lagi, karena Vallen juga harus membaca situasinya. Tapi berbeda sekali dengan sang pria yang terlihat gelisah sendiri.


Berdacak pinggang dengan pandangan liat, melihat sekitarnya untuk mencari keberadaan sang guru musik yang entah berada dimana saat ini.


"Kau bisa menemuinya besok, bukan? Tanpa harus menunggunya seperti ini." Cetus Vallen yang menatap sang pria dengan sorot mata biasa.


"Jika aku bisa bicara dengannya hari ini, kenapa aku harus menunggunya sampai esok hari?" Sahut sang pria sebentar melihat Vallen.

__ADS_1


"Bagaimana jika dia sudah pulang?"


Tersenyum simpul, kembali melihat Vallen. "Pria itu paling akhir keluar dari gedung ini."


"Tapi, ngomong-ngomong. Apa yang kau cari? Hingga kau masih tinggal disini." Sambungnya yang merasa penasaran sendiri tadi.


"Hal yang seharusnya tidak aku ketahui." Jawabnya, sembari menegakkan punggungnya. Dan memilih berjalan pergi meninggalkan pria itu sendiri.


Jika hati ini rasa penasarannya belum tersampaikan, Vallen akan melanjutkannya esok hari. Mungkin itu jalan yang paling aman. Atau, saat malam hari nanti.


Tapi saat kakinya berada dibelokkan lorong langkahnya terhenti begitu. Menoleh kebelakang, dimana sosok guru musik baru saja tiba di sana. Membuat Vallen menyembunyikan dirinya dibalik dinding belokan koridor-- sedikit mengundurkan kepalanya, untuk melihat respon sang guru saat pria penjaga CCTV itu ijin masuk kedalam ruang musik.


Jika dilihat dari raut wajah sang pria penjaga CCTV, itu terlihat sedikit kecewa dan merasa heran sendiri. Spontan menyembunyikan tubuhnya, saat pria itu berjalan pergi kearahnya.


Masih diam bersandar di posisinya dengan kepala yang sedikit menunduk, menunggu kehadiran sosok pria yang kini spontan terkejut akan Vallen . . dan untung saja pria itu tidak menimbulkan suaranya sedikitpun.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya sang pria dengan nada rendah menarik pelan tangan Vallen untuk menjauh dari tempat itu.


Menghentikan langkahnya yang membuat kaki Vallen spontan terhenti. Menoleh kebelakang menatap Vallen.


"Darimana kau tahu?"


"Jika kau mendapat ijin, bukankah seharusnya kau berada di ruangan itu saat ini?" Sekilas menaikan alisnya, dan berjalan pergi tanpa menunggu tanggapan dari sang pria-- hanya diam melihat kepergian Vallen yang mulai menghilang di pupil matanya dengan sorot mata penuh tanya.


.


.


.


Semilir angin malam yang membuat hawa dingin menyeruak menyentuh tulang kedua gadis yang tengah berjalan beriringan. Walau hoodie tebal melekat ditubuh mereka, dan malam ini tidak seperti malam sebelumnya. Udaranya benar-benar dingin.


"Bagaimana jika dia masih ada di sana?" Mulai membuka pembicaraan setelah lama bibirnya mengatup.

__ADS_1


"Kita langsung pulang." Sahut Vallen yang menjauh kepala Delta mengangguk pelan.


Tanpa menghentikan langkah kakinya, Delta menyempatkan menoleh kebelakang. Melihat kearah lorong yang tadi sempat Delta lewati yang benar-benar gelap, karena tidak ada satupun cahaya lampu yang menyinari. Entah sengaja tidak di nyalakan, atau semua lampu di setiap lorong mati.


Berjalan terus, hingga kaki mereka menaiki beberapa anak tangga yang mengantarkan mereka dimana letak ruang musik berada.


Tapi saat berada di atas anak tangga, Vallen menghentikan langkahnya.. itu membuat Delta mau tidak mau mengurungkan kakinya untuk melangkah. Menoleh kesamping kirinya, menatap Vallen yang meluruskan pandangannya.


"Ada apa? Kau membuat ku cemas." Meringis pelan, mengikuti arah pandang Vallen. Sebelum tersentak dan hampir saja mengeluarkan suaranya.. saat Vallen menarik tangannya begitu saja untuk bersembunyi dibalik tanaman hijau yang berukuran sedikit besar, dan itu tepat sekali untuk menjadi persembunyian. Untung saja tidak ada penerangan satupun di sana.


"Kenapa kita harus bersembunyi?"


"Sstttt..." cepat Vallen, agar Delta tidak mengeluarkan suaranya.


Melihat sosok pria serba hitam yang berjalan dengan menyeret sebuah tas besar, jika dilihat itu sangat berat sekali. Dan itu membuat Delta ingat kejadian malam itu. Apa_


Saat ini Delta tidak akan membuka mulutnya untuk bersuara, bertanya pada Vallen . . karena waktunya tidak tepat sekali. Yang dilakukan Delta hanya diam, sebentar melihat Vallen yang perlahan menggeser posisinya.


Meluruskan pandangannya pada satu objek, dimana pria itu yang telah menuruni anak tangga dengan tas besar yang entah apa isinya itu . . hingga dilantai satu, masih saja tidak lepas dari penglihatan Vallen. Sampai sosok itu benar keluar dari bangunan sekolahnya.


Membuat Vallen menegakkan punggungnya, menoleh kearah Delta. "Kau masuklah keruang musik, cari sesuatu yang mencurigakan. Aku akan mengikutinya."


Spontan menghentikan langkahnya hanya karena cek akan di pergelangan tangannya. Kembali melihat Delta. "Kau,"


"Apa?"


"Tidak mengorbankan ku, bukan?"


Melepas cekalan tangan Delta, sebelum merogoh tas selempang-nya. Menarik tangan Delta dengan pelan, meletakkan begitu saja kunci di telapak tangan Delta. "Pergilah, jika kau ragu." Tanpa menunggu tanggapan sedikitpun dari Delta, berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Dengan cepat berjalan keluar yang kini hilang dari pupil mata Delta.


Diam melihat kepergian Vallen. Menelan ludahnya, "sosok itu yang aku lihat Vallen. Semoga kau tidak diketahui olehnya."


Kembali menelan ludahnya, sebelum memutar tumitnya. Berjalan dimana arah ruang musik berada, tanpa dinar cahaya lampu sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2