Psycho

Psycho
41


__ADS_3

Menghentikan fokusnya pada materi di depan matanya saat ini, karena perkataan dari Delta yang terus saja terlintas di pikirannya. Kembali menyalakan layar handphonenya, dimana ruang obrolannya dengan Delta. Sat ingin menariknya jemari lentiknya sebuah ketukan menyapa indera pendengarannya, membuat niatnya ter-urung, kembali meletakkan handphonenya di samping buku tulisnya itu.


Menoleh kearah pintu yang perlahan terbuka oleh sosok pelayanan yang kini berjalan masuk, mendekati Vallen yang masih diam menunggu apa yang akan dikatakan pelayan rumahnya itu.


"Ada tamu untuk nona." Cetus sang pelayan pada Vallen yang hanya diam. "Mereka menunggu nona diruang tamu."


"Kau mengijinkan mereka masuk?" Sekilas menaikan alisnya.


"Nyonya tidak ada di rumah nona, mereka juga bilang jika ada hal penting yang ingin mereka katakan." Sahut sang pelayan, menganggukkan sekilas kepalanya, sebelum keluar dari kamar Vallen.


Diam, meluruskan pandangannya . . kini berdiri dari duduknya dan berjalan pergi dari kamarnya untuk melihat siapa tamu yang ingin bertemu dengannya. Apa itu Delta? Tapi darimana gadis itu mengetahui dimana rumahnya?


Menuruni anak tangga, mengarahkan kedua kakinya pada ruang tamu rumahnya berada yang mendapati dia insan beda gender tengah duduk di atas sofa . . kini melihat kearahnya dengan pandangan berbeda.


"Aku hanya mengantarkannya." Cetus Satya yang berdiri dari duduknya, membuat Vallen menatap pemuda itu dalam diam.


"Sepertinya ada hal penting yang ingin dia katakan padamu. Aku akan menunggu diluar tanpa mengganggu kalian." Sambung Satya.


"Kau bisa tinggal di sini." Lontar Vallen begitu saja saat Satya ingin berniat pergi.


Itu membuat Satya maupun Delta menatap Vallen dengan pandangan tanya.


Duduk di sofa sigle, mengadahkan pandangannya tepat menatap dua bola mata Satya. "Duduklah, kau juga harus tahu apa yang tengah aku cari." Ucap Vallen dengan nada yang begitu khas, pelan, sangat rendah.


Dengan ragu Satya kembali duduk ditempat semula, karena suaranya entah kenapa menjadi serius sekali. Apalagi saat Delta mengeluarkan handphonenya dari dalam tas dan kini ditunjukkan pada Vallen.


Melihat dalam diam, sesekali mengerutkan samar keningnya.


"Aku tidak tidak tahu jelas itu asli atau tidak, karena orang gila mengacaukannya." Sungut Delta.

__ADS_1


"Orang gila?" Menoleh kearah Delta yang mengangguk pelan. "Siapa yang kau maksud?"


"Taksa." Sahut Delta apa adanya.


"Taksa?" Ulang Vallen yang masih tidak mengerti. "Kenapa_"


"Aku juga tidak tahu kenapa dia ada di sana. Tapi, mungkin jika tidak ada Taksa, pria itu akan menangkap ku." Jelas Delta yang juga masih tidak tahu kenapa Taksa ada di tempat itu.


Kembali menatap Vallen yang melihat ke sembarang arah. "Bukan dirimu 'kan yang memberitahunya?"


"Aku tidak pernah memberitahu siapapun, kecuali hari ini," beralih pada Satya yang spontan menaikan sekilas alisnya. "Satya. Hanya dia yang tahu."


"Aku tidak tahu apapun, aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan." Celetuk Satya yang kembali menarik perhatian kedua gadis itu. Yang membuat Satya merasa canggung sendiri . . dan berakhir pemuda itu hanya menunjukkan cengirannya.


"Tunggu!!" Pelan Vallen yang mengingat satu hal yang mungkin saja bisa terjadi.


"Tu-tunggu apa?" Sekilas menaikan alisnya, Delta mengatakannya.


Dan mereka hanya mengangguk paham, sebelum berdiri dari duduk mereka yang diikuti oleh Vallen.


"Baiklah kita akan pulang, karena kita tahu posisimu saat ini." Senyum simpul dari Delta membuat sudut bibir Vallen sedikit tersungging.


"Hati-hati dijalan." Ucap Vallen.


"Kau juga hati-hati, karena tidak selamanya orang yang ada disekitar mu itu benar-benar tulus." Sahut Delta yang mendapat gumaman pelan dari Vallen.


Berjalan keluar dari rumah Vallen yang hanya diam melihat kepergian kedua insan itu dari rumahnya. Bukannya ia mengusir mereka, tapi Vallen hanya tidak ingin ibunya menjadi murka akan kedatangan tamu tanpa sepengetahuan wanita itu, walaupun tamu itu teman Vallen ataupun orang penting untuk ayahnya maupun wanita itu sendiri.


Berjalan kembali dimana kamarnya berada. Tidak lupa menutup rapat pintu kamarnya, duduk di kursi meja belajarnya dengan pandangan kurus ke depan. . sorot mata yang ditunjukkan Vallen benar-benar sulit diartikan.

__ADS_1


Kembali mengingat dimana raga Luci. Walaupun itu begitu samar tapi entah kenapa salah satu jari ditangan Luci menarik perhatian, karena tidak lengkap.


Jika benar itu adanya, kenapa sang pembunuh hanya mengambil satu jari dari sang korban? Kenapa dia melakukan hal keji seperti itu? Sebenarnya apa yang tengah dia buat dan ingin dia tunjukkan pada seluruh penghuni kotanya.


.


.


.


Ketidak hadirnya seorang murid dalam kelas itu sudah menjadi hal biasa, dan tidak menimbulkan rasa curiga sedikitpun bagi mereka . . walau tidak ada surat ijin yang para guru terima. Tapi sebuah fakta telah mengejutkan seluruh antero penghuni bangunan sekolah itu yang tidak tahu harus berkomentar seperti apa.


Nomor Taksa yang baru saja bergabung dengan grub sekolah semalam, kini pemuda itu hanya bisa diam membaca satu persatu pesan chat yang masuk kedalam handphonenya dengan kening yang sesekali mengerut samar. Karena apa yang mereka bahas tidak langsung bisa dimengerti oleh Taksa.


Hingga ibu jarinya berhenti mengsecrol saat sebuah foto terlampir di sana. Karena sosok siswi yang ada difoto itu begitu familiar di matanya, walau Taksa hanya melihatnya dua kali . . itupun hanya sebentar.


Beralih pada teman-teman sekelasnya yang sibuk dengan handphone ditangan mereka masing-masing. Sebelum berdiri dari duduknya, berjalan kearah pintu saat Vallen baru saja tiba dikelas.


Tanpa mengatakan apapun, Taksa menarik pelan tangan Vallen menjauh dari kelasnya . . melewati Satya begitu saja yang spontan menghentikan langkah kakinya, melihat kepergian dua insan itu dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan. Dan itu hal yang sama apa yang dilakukan Delta saat ini.


Menatap Satya yang kini membalasnya, sebelum mengangguk kecil . . berjalan lebih dulu menyusul kemana perginya Taksa membawa Vallen, yang diikuti oleh Satya.


Dan itu tidak luput dari penglihatan seorang Manda yang kini melangkah pergi kemana dua insan itu pergi. Bukannya penasaran, tapi Manda hanya ingin tahu, sebenarnya apa yang tengah mereka lakukan.


Sampainya dihalaman belakang sekolah yang tidak ada siapapun kecuali mereka berdua. Taksa melepas cekalannya dari pergelangan tangan Vallen-- hanya diam, menatap pemuda didepan matanya saat ini . . menunggu apa yang ingin dikatakan Taksa.


"Kau sudah melihatnya?" Entah kenapa Taksa merasa gusar sendiri. Apalagi hanya mendapat gumaman pelan dari Vallen.


"Kau tidak_"

__ADS_1


"Aku tidak bisa menyimpulkan jika gadis itu pergi karena diculik oleh pelaku, mungkin saja gadis itu ada di rumah karena rasa sakit yang menyerang tubuhnya." Cepat Vallen yang slalu berpikir positif, walau disisi lain ada pikiran negatif yang mengarah pada orang-orang tertentu.


"Aku sempat bertemu gadis itu sebelum aku menemui mu di rumah malam itu." Menelan ludahnya lebih dulu. "Dia terlihat ketakutan sekali, dia seperti menghindar dari seseorang. Tapi saat aku melihat sekitar, aku tidak menemukan siapapun. Apa salah, jika memiliki pemikir jika gadis itu kini berada ditangan sang pelaku?"


__ADS_2