Psycho

Psycho
24


__ADS_3

Walaupun tangannya pernah menghilangkan nyawa seseorang, tapi rasa tidak enakan slalu melekat dalam dirinya.


Menggerakkan mulutnya seperti ingin bicara, tapi entah kenapa suaranya tertahan begitu saja. Dan yang membuat Taksa menelan ludahnya berulang kali-- pria didepan matanya tidak peka terhadapnya sama sekali. Apa hanya karena usia mereka berbeda? Hingga pria itu hanya diam, sibuk mengamati layar monitor didepan mata pria itu.


Dengan hati yang begitu ragu, Taksa duduk di samping sang pria tanpa ijin lebih dulu.


"Apa kejadian tadi tidak hanya sekali?" Cetus Taksa begitu saja.


"Emm.." menoleh kesamping kanannya, membalas tatapan Taksa dengan sorot mata yang sedikit bingung.


"Apa ada korban lain sebelum siswi tadi pagi?"


"Kau takut?"


Tersenyum simpul tapi terlihat aneh. Menyandarkan punggungnya dengan pandangan lurus ke depan. "Untuk apa aku takut? Jika aku juga seorang pembunuh."


"Apa yang kau katakan?" Sedikit menyerukan suaranya, karena tidak begitu jelas dengan apa yang dikatakan Taksa.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya saja," tidak langsung menuntaskan perkataannya. Taksa malah memainkan sekilas lidahnya dalam mulut dengan kerutan di keningnya. Sebelum menoleh kesamping kirinya.


"Kau pasti lalai menjaga ruangan ini."


"Hei," sedikit tidak terima pria itu mengatakannya, walaupun itu benar adanya.


"Jika kau tidak lalai, tidak mungkin jika tidak ada sedikitpun rekaman yang mencurigakan." Sekilas menaikan alisnya dengan senyum anehnya.


Beranjak dari duduknya, sebentar menatap pria itu sebelum berjalan keluar dari ruangan itu dengan kepala yang menggeleng pelan sembari bergumam. "Seharusnya tidak hanya satu orang saja yang menjaga keamanan CCTV."


Berjalan pelan, melewati banyaknya murid yang mulai lalai di koridor. Sesekali membalas sapaan dari murid yang entah siapa namanya, karena banyak dari mereka yang begitu asing di kedua matanya.


Refleks menganggukkan sekilas kepalanya tanpa melunturkan senyumannya, saat berpapasan dengan seorang pria yang tak lain guru musik. Walau mendapat balasan dengan dari pria itu, langkah Taksa kini terhenti begitu saja. Perlahan menoleh kebelakang tepat dimana punggung sang pria berada dengan senyum yang telah lenyap, raut wajahnya terlihat berbeda, sorot matanya penuh makna.


Rangkuman di pundaknya sukses membuyarkan lamunannya, spontan menoleh kesamping kirinya . . dimana seorang Satya yang melihat ke depan, mencari hal yang tidak pasti.

__ADS_1


"Apa yang kau lihat?" Tanya Satya kini membalas tatapan Taksa yang berpaling dengan napas lelah.


Menyingkirkan tangan kekar milik Satya dari pundaknya. "Singkirkan lah tangan mu itu."


Berjalan pergi meninggalkan Satya sendiri yang diam melihat kepergian Taksa, sebelum berjalan mencari keberadaan Vallen yang entah berada dimana. Tapi baru dua langkah, Satya membalikkan tubuhnya . . berjalan sedikit cepat kemana perginya Taksa, dengan tangan kanan masuk kedalam saku celananya. Tanpa memperdulikan banyaknya pasang mata yang melihatnya dengan pandangan kagum, terutama para kaum hawa-- akan aura yang keluar dari dirinya.


Meraih pundak Taksa yang limbung kebelakang dan kini berada di rangkulan Satya . . menyeimbangi langkah Satya yang tersenyum berjalan biasa kearah taman sekolah.


"Apa yang kau lakukan?" Kesal Taksa yang berusaha melepas rangkulan dari Satya yang semakin kuat, hingga menimbulkan ringisan pelan dibibir Taksa.


"Diamlah, kita harus bicara." Semakin menekan leher Taksa dengan tangan kekarnya.


"Apa kau sudah gila? Aku lebih menyukai seorang wanita daripada laki-laki."


Satya terkekeh walau sebentar. "Kau kira hanya dirimu saja yang menyukai seorang wanita?"


Manda yang melihat tingkah kedua orang itu hanya bisa menghela napas lelah dengan langkah yang terhenti. "Ada apa dengan mereka?" Menaikan kedua pundaknya tidak perduli, memilih berjalan kearah dimana kantin sekolahnya berada.


"Apa yang ingin kau katakan? Untuk apa juga kau mengajak ku kemari? Apa itu sangat penting?" Terus saja mengeluarkan suaranya, menatap Satya yang duduk dihadapannya dengan pandangan melihat sekitarnya . . hingga terhenti pada sosok Vallen yang tengah mengobrol serius dengan Delta.


"Kau terlihat dekat sekali dengan Vallen saat pertama kali datang kemari. Apa kau sudah mengenalnya sebelum pindah kesini?" Beralih menatap Taksa dengan perkataannya.


"Emm.. dia teman kecil ku. Memangnya ada apa? Kau kekasihnya?"


Satya bergumam saat mendapat pertamanya dari Taksa, 'kau kekasihnya?'


"Benarkah?" Begitu tidak percaya jika pemuda didepan matanya saat ini yang telah mengisi hati Vallen. Itu sangat mustahil sekali.


"Jika benar itu adanya," melihat kearah Vallen yang diikuti oleh Taksa, sekilas menatap Satya dengan kening mengerut samar . . kembali mengikuti arah pandang Satya. "Sekolah ini akan hancur."


Mengangguk pelan dan kembali menatap Taksa. "Sekolah ini akan benar-benar hancur jika Vallen menerimaku sebagai kekasihnya."


"Ngomong-ngomong, jika kau teman kecilnya. Kenapa dia terlihat tidak suka dengan mu?" Tambah Satya.

__ADS_1


"Darimana kau tahu jika dia tidak menyukaiku?" Sekilas menaikan alisnya. "Jangan terlalu percaya apa yang telah kau lihat, percayalah dengan isi hatimu."


Begitu bosan meladeni Satya, Taksa memilih beranjak dari duduknya, berjalan pergi meninggalkan Satya sendiri yang tidak lagi menahan kepergiannya.


.


.


.


Diam duduk berdampingan dengan pandangan lurus ke depan tanpa menyadari jika sepasang mata milik Satya setia melihat dua punggung familiar yang duduk diujung sana.


"Seharusnya aku mengambil beberapa foto didalam ruangan itu, agar ada sedikit bukti yang mengarah padanya." Lesu Delta kini menegak minuman dinginnya.


"Aku juga tidak bisa langsung mengklaim jika dia pelakunya, walaupun itu sangat mencurigakan. Tidak mungkin, jika pria CCTV itu bekerja sama dengan guru musik." Lontar Vallen yang mendapat anggukan kecil dari Delta.


"Jika CCTV ruangan itu sudah dibenarkan, pasti semua barang di sana sudah dipindahkan." Tersenyum hambar, sekilas menoleh kearah Vallen . . kembali meluruskan pandangannya. "Seharusnya aku menutup pintunya sebelum pergi."


"Apa alasannya dia melakukan itu pada muridnya sendiri?" Heran Delta yang sejak tadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Tidak korban dari kelas kita, walau hanya dua korban yang benar-benar mati. Tapi, kesalahan apa yang telah kelas kita lakukan?" Sambungnya yang begitu tahu jika tidak akan mendapat jawabannya saat ini juga.


"Entahlah." Menoleh, melihat Delta dari samping. Membuat sang empu perlahan membalas tatapan Vallen dengan pandangan tanya.


"Ada apa?"


"Bukankah seharusnya kita berada di rumah Luci (siswi korban tadi pagi) saat ini? Untuk mengantarkan gadis itu ke peristirahatan terakhirnya. Tapi kenapa pihak sekolah tidak mengijinkan kita untuk ke sana? Mereka malah menyuruh kita untuk belajar di sekolah. Walaupun itu sudah menjadi hal biasa. Tapi itu sangat aneh, bukan? Dan, kita juga dilarang untuk memberitahu siapapun, terutama orang tua kita."


Bukannya menanggapi apa yang baru saja keluar dari mulut Vallen. Delta malah menunjukkan reaksi yang tidak terduga. Begitu kagum akan kalimat panjang dari Vallen.


"Ini kali pertamanya aku mendengar mu bicara panjang lebar."


Itu mendapat helaan napas lelah dari Vallen yang kembali meluruskan pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2